Jakarta, CNBC Indonesia – Prancis mempunyai dua wajah yang sangat kontras: negara yang menarik wisatawan dan dianggap romantis namun juga menjadi panggung demonstrasi massal yang berulang kali melibatkan jutaan orang dan seringkali berakhir dengan kekacauan.
Demonstrasi atau unjuk rasa merupakan suatu tindakan kolektif yang dilakukan oleh sekelompok orang untuk menyatakan tuntutan, penolakan, dukungan atau sikap terhadap suatu permasalahan. Jalan-jalan di ibu kota Prancis kerap dipenuhi kerumunan orang.
Baru-baru ini, Paris diguncang demonstrasi besar-besaran mahasiswa.
Demonstrasi pelajar di Prancis awalnya dipicu oleh tuntutan untuk meningkatkan anggaran sekolah negeri dan meningkatkan kualitas pendidikan. Namun aksi yang berlangsung sejak akhir September 2026 itu berkembang menjadi bentrokan dengan aparat.
Situasi meningkat di Lens setelah polisi membubarkan blokade pelajar, dan seorang pelajar berusia 15 tahun menderita luka serius di tangannya akibat alat pengendali massa. Peristiwa tersebut kini memicu penyelidikan dan perdebatan terkait penggunaan aparat kepolisian dalam menangani demonstrasi mahasiswa.
|
Protes mahasiswa Prancis beberapa hari terakhir yang disertai kerusuhan besar juga memicu perselisihan sengit di kancah politik, Selasa (6/10/2026). (REUTERS/Yves Herman) Foto: Protes mahasiswa Prancis beberapa hari terakhir yang disertai kerusuhan besar juga memicu perselisihan sengit di kancah politik, Selasa (6/10/2026). (REUTERS/Yves Herman)
|
Fenomena ini bukanlah sesuatu yang baru. Paris telah menyaksikan sejumlah aksi yang melibatkan ratusan ribu hingga jutaan orang sejak akhir Perang Dunia II.
Banyaknya massa juga menunjukkan bahwa demonstrasi di Prancis tidak selalu berkaitan dengan masalah ketenagakerjaan. Ada pula tindakan yang dipicu oleh isu pendidikan, kebijakan sosial, isu politik, tragedi nasional, bahkan momen olahraga.
Salah satu yang terbesar terjadi pada 11 Januari 2015, ketika sekitar 3 juta orang turun ke jalan Marche Républicaineatau pawai republik, untuk memberikan penghormatan kepada 17 korban serangkaian serangan teror di Prancis. Jumlah tersebut menjadikannya salah satu demonstrasi terbesar dalam sejarah modern Perancis.
Sementara itu, demonstrasi pada 24 Maret 2013 mengenai RUU pernikahan sesama jenis dihadiri antara 300.000 peserta menurut polisi dan 1,4 juta menurut penyelenggara.
Namun, demonstrasi besar-besaran tidak selalu berarti protes terhadap pemerintah. Pada 12 Juli 1998, lebih dari 1,5 juta orang memenuhi Champs-Élysées untuk merayakan kemenangan Prancis di Piala Dunia.
Variasi ini menunjukkan bahwa aksi massa telah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Perancis.
Jalanan bisa menjadi ruang untuk menekan pemerintah, menyampaikan tuntutan kelompok tertentu, menunjukkan solidaritas, atau merayakan acara nasional.
Mengapa orang Perancis sering berdemonstrasi?
Akar budaya aksi massa di Perancis dapat ditelusuri jauh sebelum demonstrasi modern di Paris. Salah satu tonggak sejarahnya adalah pemberontakan pekerja sutra atau tidak bisa di Lyon pada tahun 1831.
Ribuan pekerja menuntut harga minimum untuk kain sutra mereka setelah harga turun. Mereka kemudian berhenti bekerja, membangun barikade, dan menguasai beberapa bagian kota selama tiga hari. Peristiwa ini kemudian dikenang sebagai salah satu tonggak lahirnya pemogokan modern di Perancis.
Perubahan struktur ekonomi juga membuat aksi kolektif menjadi lebih efektif.
Besarnya demonstrasi di Perancis juga tidak dapat dijelaskan hanya dengan banyaknya anggota serikat buruh. Data Organization for Economic Co-operation and Development (OECD) menunjukkan kepadatan serikat pekerja di Perancis relatif rendah, yaitu sekitar 10,8% pekerja pada tahun 2016.
Namun, cakupan perundingan bersama mencapai 98% pekerja pada tahun 2018. Sistem ini berarti bahwa hasil perundingan antara serikat pekerja dan pengusaha dapat menjangkau lebih banyak pekerja dibandingkan jumlah anggota serikat pekerja itu sendiri.
Sejarah juga memberi tempat khusus pada aksi kolektif dalam kehidupan sipil Prancis. Offbeat France mencatat bahwa tuntutan pekerja dari waktu ke waktu tidak hanya berkaitan dengan upah, tetapi juga jam kerja, kondisi kerja dan perlindungan sosial. Gerakan buruh pada tahun 1936, misalnya, turut mendorong lahirnya cuti berbayar dan perundingan bersama.
Oleh karena itu, demonstrasi di Prancis tidak berarti bahwa masyarakatnya lebih mudah melakukan protes dibandingkan di negara lain.
Turun ke jalan telah menjadi salah satu mekanisme historis masyarakat untuk melakukan demonstrasi kolektif. Dari pemberontakan pekerja sutra di Lyon pada abad ke-19 hingga demonstrasi yang melibatkan jutaan orang di Paris.
Permasalahannya berubah seiring waktu, namun logika untuk mengubahnya menjadi tindakan kolektif masih tetap ada.
(mae/mae)
Konten di atas dibuat oleh pihak ketiga. Redaksi tidak bertanggung jawab atas isi maupun akibat yang ditimbulkan oleh konten ini. Agregator artikel oleh JetMedia Digital Agency














