Satu Dekade Bertugas, APBN Jokowi Makin Defisit – RubrikPos

- Redaksi

Selasa, 24 September 2024

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy


RubrikPos.com -Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) di masa Presiden Joko Widodo (Jokowi) tercatat memiliki defisit paling lebar dibanding periode presiden sebelumnya.

Menurut Ekonom Ahli Fiskal Awalil Rizky, kondisi tersebut terjadi karena belanja negara pada masa pemerintahan Jokowi jauh lebih besar daripada pendapatan negara.

IKLAN

GULIR UNTUK MELANJUTKAN KONTEN

“Tren APBN kita, terutama di era Jokowi, memasuki era defisit yang makin lebar, karena laju pertambahan belanja lebih cepat dari pemasukan,” kata Awalil dalam penjelasannya di akun YouTube miliknya, dikutip Selasa (24/9).

Berdasarkan catatan, rata-rata defisit di era Jokowi sebesar Rp469 triliun atau 2,90 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB).

Rata-rata defisit tersebut jauh lebih besar dibandingkan era presiden sebelumnya yang hanya mencatat defisit 0,80-1,58 persen pada era Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), dan defisit 1,75 persen pada masa pemerintahan Megawati Soekarnoputri.

Sementara itu, di bawah kepemimpinan Jokowi pada 2014-2019, defisit APBN mulai melebar hingga 2,32 persen, dan pada 2020-2024 mencapai 3,47 persen, jauh lebih besar dari batasan defisit dalam Undang-Undang sebesar 3 persen, dengan rasio utang 60 persen terhadap PDB, akibat Pandemi Covid-19.

“Defisit memang melebar secara nominal, terutama pada masa Covid 2020-2021, ketika mulai pulih secara nominal sempat menyempit sedikit, namun 2 tahun terakhir kembali melebar dengan defisit persentase yang lebih tinggi,” terangnya.

Bahkan, kata Awalil, ada rencana mengubah UU tentang batas defisit yang diizinkan dari 3 persen menjadi 4-5 persen.

“Konon katanya ada wacana perubahan UU batas defisit dari 3 persen menjadi 4 sampai 5 persen,” ujarnya.

Awalil mengatakan, kondisi APBN yang mengkhawatirkan terus terjadi lantaran rata-rata laju kenaikan pendapatan negara sepanjang pemerintahan Jokowi tercatat menurun.

“Jika ditelusuri lebih jauh, laju peningkatan penerimaan negara justru menurun di era Jokowi, dari 15,34 persen pada 2005-2014, menjadi hanya 6,85 persen pada 2015-2024,” ujarnya.



RubrikPos.com Network

Berita Terkait

Ketan Mangga MBG di Ngancar Ngawi Mengeluh, Banyak Siswa Enggan Makan
Pencarian Dua Korban Longsor di Pelaga Eco Park Diperluas Hingga 3,5 Kilometer
Apakah Prabowo lolos dari bayang-bayang Jokowi?
BMKG Identifikasi Wilayah dengan Potensi Pertumbuhan Awan Cumulonimbus Tinggi
Cuaca Besok Rabu 4 November 2026, BMKG Waspada Hujan Lebat di 11 Provinsi
Pastikan MBG Penuhi Standar, Pemkab Deli Serdang Akan Sidak SPPG
Perjalanan Listyo Sigit Prabowo, dari Ajudan Jokowi hingga Tersangka Penyadapan
OpenAI Menjelaskan Fungsi Empat Model ChatGPT Terbaru

Komentar

Tuliskan komentar terbaikmu dengan sopan 😊

Let us know you are human:


Berita Terkait

Rabu, 4 November 2026 - 00:45 WIB

Ketan Mangga MBG di Ngancar Ngawi Mengeluh, Banyak Siswa Enggan Makan

Rabu, 4 November 2026 - 00:25 WIB

Pencarian Dua Korban Longsor di Pelaga Eco Park Diperluas Hingga 3,5 Kilometer

Rabu, 4 November 2026 - 00:05 WIB

Apakah Prabowo lolos dari bayang-bayang Jokowi?

Selasa, 3 November 2026 - 23:45 WIB

BMKG Identifikasi Wilayah dengan Potensi Pertumbuhan Awan Cumulonimbus Tinggi

Selasa, 3 November 2026 - 23:25 WIB

Cuaca Besok Rabu 4 November 2026, BMKG Waspada Hujan Lebat di 11 Provinsi

Berita Terbaru

Headline

Apakah Prabowo lolos dari bayang-bayang Jokowi?

Rabu, 4 Nov 2026 - 00:05 WIB