JAKARTA, FaktualNews.co-Kasus dugaan penyadapan ilegal terhadap Presiden Prabowo Subianto yang dilakukan mantan Kapolri Listyo Sigit semakin menguatkan dugaan adanya pertarungan antara dua kekuatan politik, mantan Presiden periode 2014-2024, Joko Widodo (Jokowi), dan penggantinya saat ini, Prabowo Subianto.
Hubungan mereka dinilai merosot tajam setelah menikmati masa ‘bulan madu’ pada Pilpres 2024.
Saat itu, Prabowo yang masih berstatus Menteri Pertahanan mendapat ‘dukungan’ dari Jokowi. Prabowo kemudian mencalonkan diri bersama putra pertama Jokowi, Gibran Rakabuming Raka, dan memenangkan pemilu.
Dua tahun setelah pemilu, hubungan antara Jokowi dan Prabowo berubah drastis, menurut peneliti politik dari ISEAS–Yusof Ishak Institute, Made Supriatma.
Penyadapan yang diduga melibatkan Listyo hanya memperpanjang indikasi keretakan yang telah terjadi sebelumnya, seperti tarik-menarik nasib pembangunan Ibu Kota Negara Indonesia (IKN) atau polemik ijazah Sekolah Menengah Atas (SMA) Gibran.
Posisi Listyo, seperti kita ketahui, sebenarnya sangat dekat dengan Jokowi, kata Supriatma.
“Jadi, sekarang kita bisa mengatakan bahwa kita sudah berpisah.”
Meski demikian, Supriatma yakin Prabowo tidak akan mengajak Jokowi melakukan hal tersebut kepala ke kepala secara langsung.
Resiko politiknya terlalu besar bagi Prabowo. Jadi, kemungkinan besar berhenti di Listyo, tambahnya.
Mantan anggota tim sukses Jokowi sekaligus Ketua Umum Relawan Militan Gibran 08 Nusantara, Andi Azwan, menampik anggapan Jokowi terlibat dalam kasus dugaan penyadapan.
“Semuanya pasti ada kaitannya dengan Pak Jokowi. Tapi itu hanya asumsi. Sasaran utamanya Pak Gibran,” kata Azwan kepada BBC News Indonesia di Pengadilan Negeri Jakarta Timur, Kamis (5/11/2026).
Di tempat yang sama, Jokowi sempat menanggapi singkat kasus dugaan penyadapan terhadap Presiden Prabowo Subianto yang menjerat mantan Kapolri Jenderal Listyo Sigit.
Kita semua menghormati proses hukum yang ada. Kita tunggu saja, kata Jokowi kepada wartawan, termasuk BBC News Indonesia, usai menjalani sidang kasus dugaan pencemaran nama baik ijazah palsu dengan terdakwa Roy Suryo di Pengadilan Negeri Jakarta Timur, Kamis (5/11/2026).
Sementara itu, peneliti politik dari Center for Strategic and International Studies (CSIS), Nicky Fahrizal, mengatakan kisruh elite yang muncul saat ini merupakan bukti nyata adanya konflik di dalam pemerintahan.
Baik Jokowi maupun Prabowo sama-sama mempunyai kontribusi yang signifikan.
“Selama ini kita sepertinya hidup di negara yang seperti itu pilot otomatis “Karena cara pemerintah berjalan membuktikan yang dikejar bukan kepentingan rakyat, melainkan kelompok individu,” tegas Nicky.
Polisi mempunyai dua fungsi
Membahas hubungan Listyo dan Jokowi, menurut peneliti politik dan keamanan ISEAS-Yusof Ishak Institute, Made Supriatma, tak lepas dari posisi institusi kepolisian di mata kekuasaan.
Dalam analisisnya, Made mengatakan, sejak Jokowi terpilih menjadi presiden, polisi mulai dianggap sebagai sekutu politik. Pasalnya, Jokowi bukan petinggi partai sehingga tidak punya modal politik yang kuat untuk mendukung rezimnya.
Strategi pertama yang dilakukan Jokowi adalah dengan menyerahkan kursi Kapolri kepada Tito Karnavian pada tahun 2016. Penunjukan Tito dilakukan melalui beberapa generasi senior di Trunojoyo, Mabes Polri, yang dinilai pertama kali membangun jaringan mapan di kalangan elite politik di Jakarta.
Penunjukan Tito kemudian terbukti bermanfaat bagi Jokowi, terutama dalam aspek ‘mengendalikan’ suara-suara yang tidak setuju dengan pemerintahannya. Mulai dari akademisi, aktivis, hingga organisasi kemasyarakatan berbasis Islam pun ikut terdampak.
Konfigurasi politik antara Jokowi dan Polri semakin kuat ketika ia menduduki jabatan eksekutif untuk kedua kalinya. Pada fase ini, Jokowi mencalonkan nama Listyo sebagai calon tunggal Kapolri.
Jenjang karir Jokowi dan Listyo, meski berbeda koridor, namun bertemu dalam kronologi yang sama. Saat Jokowi menjabat Wali Kota Solo periode kedua, sebelum berangkat ke Jakarta dalam kapasitas Pilgub, Listyo menjabat sebagai Kapolri di kota yang sama.
Mereka kembali bertemu tak lama setelah Jokowi dilantik pada pemerintahan pertamanya. Listyo pada 2014 diberi tugas menjadi ajudan presiden.
Dari menjadi ajudan presiden, prestasi Listyo di Polri kemudian semakin mentereng dengan sederet jabatan. Ia pernah memegang tongkat estafet Kapolda Banten (2016), Kepala Divisi Profesi dan Pengamanan (Kadiv Propam) Polri (2018), dan Kepala Badan Reserse Kriminal (Kabareskrim) Polri (2019).
Semua posisi tersebut mencapai puncaknya ketika Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) meloloskan Listyo dari uji kelayakan dan kepatutan Kapolri.
“Di situlah Jokowi semakin akrab dengan polisi, polisi sendiri juga semakin akrab tubuh superdan sosok Listyo juga semakin kuat,” jelas Supriatma kepada BBC News Indonesia, Rabu (4/11/2026).
Polisi tidak sebatas menjalankan fungsi keamanan, tetapi merupakan “alat politik,” lanjut Supriatma. Dalam beberapa kesempatan, polisi melalui Listyo dikerahkan untuk menjamin stabilitas rezim.
Artinya, ketika ada kritik terhadap roda kekuasaan Jokowi, maka polisilah yang berada di garda depan. Angka-angka represi dan pembungkaman pada masa pemerintahan Jokowi berkali-kali disoroti sebagai hal yang mengkhawatirkan.
Sebaliknya, Jokowi memberikan berbagai keistimewaan bagi Polri, seperti kepastian jabatan di pemerintahan sipil, peningkatan anggaran yang konsisten dari tahun ke tahun, dan revisi UU Polri yang antara lain memungkinkan perpanjangan masa pensiun.
Kelindan Jokowi dan Polri atau Listyo kemudian menghadapi tantangan saat Prabowo memenangkan estafet kepemimpinan, merujuk pada Supriatma.
Semula Listyo masih dipertahankan sebagai Kapolri. Demonstrasi besar-besaran pada Agustus 2025, yang menurut Prabowo memiliki kecenderungan “makar”, mengancam posisi Listyo. Pembicaraan tentang penggantiannya beredar luas, namun kemudian mereda.
Listyo bahkan dinilai berhasil meningkatkan daya tawarnya di hadapan Prabowo setelah menyetujui reformasi struktural di kepolisian yang dinilai kelompok masyarakat sipil tidak terlalu menyelesaikan berbagai permasalahan.
Tapi, pendulumnya segera berbalik. Langkah Listyo tersendat saat Prabowo memutuskan mengakhiri masa jabatannya di formasi kepolisian. Penggantinya adalah Kepala Badan Narkotika Nasional (BNN), Jenderal Polisi Suyudi Ario Seto. Listyo digeser menjadi Kepala Staf Kepresidenan.
Peristiwa ini, kata Supriatma, mengubah konstelasi antara Jokowi, Prabowo, dan polisi yang kemudian diperparah dengan kasus penyadapan.
Terlepas dari hubungannya dengan Jokowi, Prabowo melihat Listyo sangat kuat di Polri. Banyak pejabat kepolisian yang berada di bawah komando Listyo, meski tak lagi menjabat Kapolri, jelas Supriatma.
Pilihan membuka penyadapan kepada publik, lanjut Supriatma, didasari oleh keinginan untuk melakukan dua tikungan sekaligus. Polisi dan Jokowi. Prabowo ingin menegaskan bahwa dirinya adalah sosok yang kuat, selain bisa menghilangkan pengaruh dari Jokowi dan memperkuat cengkeramannya di kepolisian.
Made mengatakan, Jokowi masih berambisi menjadi “aktor politik penentu” sepanjang dua tahun pemerintahan Prabowo. Ia berharap para loyalisnya, seperti Listyo, bisa memberikan “kepastian” politik di tengah konsolidasi elite Prabowo.
Kepastian tersebut ke depan akan dimanfaatkan Jokowi untuk melindungi kepentingannya, terutama di saat-saat “kritis”. Contoh nyata: upaya menggoyahkan Gibran lewat putusan Mahkamah Konstitusi (MK) atau Mahkamah Agung (MA).
Namun di sisi lain, saya juga melihat kasus penyadapan ini berpeluang menjadi senjata untuk menutupi kegagalan pemerintahannya (Prabowo) dalam isu-isu krusial seperti kebakaran hutan, pangan gratis bergizi, atau (neraca) fiskal yang semakin tertekan, tambah Supriatma.
Bola api kasus penyadapan Listyo, kata Supriatma, belum bisa diprediksi akan bergulir ke mana. Yang jelas efeknya mempertemukan Prabowo dengan Jokowi. Made pesimistis penyadapan ini akan dibuka seluas-luasnya di meja sidang.
“Kalau Prabowo memerintahkan hal ini untuk diusut ke pengadilan, itu akan menjadi risiko politik yang sangat besar. Saya kira dia tidak akan mengambil opsi itu,” kata Supriatma.
“Pada akhirnya, konflik elit saat ini hanyalah proses pergantian pemain.”
Pada awal tahun 2025, baik Prabowo maupun Jokowi mengaku tidak ada keretakan hubungan mereka.
Saat berpidato di acara Nahdlatul Ulama di Surabaya, Jawa Timur, Februari 2025, Prabowo menyinggung politik perpecahan.
“Ada yang sekarang ingin memisahkan saya dari Pak Jokowi,” kata Prabowo.
Pernyataan serupa kembali dilontarkannya saat perayaan HUT partainya, Gerindra, di Sentul, Jawa Barat. Kurang dari seminggu lagi momen di Surabaya.
“Dan saya sampaikan di sini, kita sukses karena didukung presiden ke-7. Tepuk tangan kurang antusias. Lebih semangat. Hidup Jokowi,” teriak Prabowo.
Jokowi kurang lebih serupa. Ia membenarkan hubungannya dengan Prabowo sudah berlangsung lama. Keduanya, diakui Jokowi, tetap solid.
“Sama sekali TIDAK ada masalah,” katanya. (bbc.com)
Konten di atas dibuat oleh pihak ketiga. Redaksi tidak bertanggung jawab atas isi maupun akibat yang ditimbulkan oleh konten ini. Agregator artikel oleh JetMedia Digital Agency














