Islam Ala Prabowo: Ketika Satu Kata Mengundang Banyak Makna

- Redaksi

Rabu, 23 September 2026

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Kediri – Peluncuran buku Islam Ala Prabowo oleh Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) pada Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) BAZNAS pada 26 Agustus 2026 menuai perhatian dan polemik masyarakat.

Kehadiran buku tersebut menimbulkan beragam tanggapan. Ada yang memberikan apresiasi, namun ada juga yang mempertanyakan sejumlah hal terkait isi, penulisan, dan atribusi tulisan di dalamnya.

Buku setebal sekitar 368 halaman ini mengumpulkan berbagai tulisan dan pandangan sejumlah tokoh Islam terkait kehidupan dan pengamalan nilai-nilai Islam terkait Prabowo.

Di tengah diskusi tersebut, muncul pula keberatan dari pihak-pihak tertentu terkait pencantuman nama dan atribusi tulisan yang terdapat dalam buku tersebut. Perdebatan semacam ini tentu perlu ditempatkan pada konteks fakta dan sumber yang dapat diverifikasi.

Terlepas dari perdebatan mengenai isi, proses penyusunan, dan persoalan atribusi tulisan dalam buku tersebut, ada satu hal yang sebenarnya menarik untuk disimak dari sudut pandang berbeda: judul buku. Kenapa Judulnya Islam Ala Prabowo?

Pertanyaan ini mungkin terdengar sederhana. Namun bagi seorang ahli bahasa, pertanyaan sederhana seperti itu bisa membuka masalah yang sangat menarik. Karena bahasa tidak hanya berfungsi menyampaikan informasi. Bahasa juga bekerja dengan menghubungkan kata-kata, pengetahuan, pengalaman dan konteks dalam pikiran manusia.

Sebutan Islam Ala Prabowo hanya terdiri dari tiga unsur: Islam, ala, dan Prabowo. Namun bila ketiganya disatukan maka akan terbentuk hubungan makna yang jauh lebih kompleks.

Dalam bahasa Indonesia kita sangat mengenal ungkapan-ungkapan seperti masakan ala Jepang, ala Korea, pendidikan ala Finlandia, ala Barat, atau kehidupan pesantren. Dalam konstruksi seperti itu, kata gaya memberikan nuansa tentang cara, gaya, pola, model, atau ciri-ciri yang berkaitan dengan sesuatu atau seseorang.

Ketika seseorang mengatakan masakan ala Jepang misalnya, tidak selalu yang ia maksud adalah makanan tersebut buatan Jepang atau merupakan produk resmi dari Jepang. Yang dimaksud adalah adanya ciri-ciri tertentu yang dikaitkan dengan Jepang.

Begitu pula ketika kita mengatakan gaya Korea. Yang ramai diperbincangkan bukan berarti gaya ini hanya dimiliki oleh orang Korea saja. Adanya ciri-ciri tertentu yang dianggap oleh penuturnya berkaitan dengan bahasa Korea, kemudian ciri-ciri tersebut digunakan untuk menjelaskan sesuatu.

Dari sini kita dapat memahami bahwa ala adalah kata yang menarik. Ia menghubungkan suatu hal dengan hal lain melalui metode, gaya, model, pola, atau ciri yang terkait. Lalu bagaimana dengan Islamnya Prabowo?

Secara linguistik, kita tidak perlu terburu-buru memahami ungkapan ini sebagai “Islam-nya Prabowo”. Konstruksi ini berbeda dengan konstruksi kepemilikan. Kita juga tidak bisa langsung menyamakannya dengan “Islam menurut Prabowo”, karena lebih langsung menunjukkan pendapat atau pandangan seseorang. Mari kita bandingkan tiga ungkapan seperti Islam menurut Prabowo, Islam versi Prabowo, dan Islam ala Prabowo.

Ketiganya mempunyai wilayah makna yang erat, namun nuansanya tidak persis sama. Menurut Prabowo, Islam mengarahkan perhatian pada pandangan atau pendapat Prabowo. Islam versi Prabowo memberi kesan pada versi atau rumusan tertentu.

Sedangkan keislaman Prabowo memberi ruang lebih luas bagi pembaca untuk memahami corak, gaya, pendekatan atau ciri-ciri yang dikaitkan dengan Prabowo.

Namun masalahnya belum selesai. Sebab, kami belum menjawab: ciri-ciri apa yang dimaksud dengan “gaya Prabowo”? Jawabannya tidak dapat ditemukan hanya dengan melihat kata ala. Kita harus melihat konteks dan keseluruhan wacana yang menyertainya.

Jika ungkapan tersebut muncul dalam diskusi mengenai kebijakan pemerintah, pembaca mungkin mengasosiasikan Prabowo dengan pemerintah dan kebijakan.

Jika muncul dalam konteks hubungan dengan pesantren dan ulama, ilmu yang aktif di benak pembaca mungkin berbeda. Jika muncul dalam diskusi tentang tuturan, komunikasi, atau kehidupan sosial, hubungan maknanya juga bisa berubah.

Dengan demikian, nama seseorang dalam bahasa publik tidak selalu hanya berfungsi sebagai nama saja. Nama dapat menjadi pintu masuk menuju kumpulan ilmu pengetahuan yang telah tersimpan dalam benak masyarakat. Ketika kita mendengar nama “Prabowo” misalnya, kita tidak langsung mengenali sebuah nama.

Kita mungkin mengingat posisi, pidato, laporan berita, kebijakan, peristiwa, atau berbagai informasi lain yang kita terima. Setiap orang tentu bisa memiliki pergaulan yang berbeda-beda karena pengalaman dan sumber ilmunya juga berbeda-beda.

Hal serupa juga terjadi pada kata Islam. Ketika mendengar kata Islam, pasti seseorang langsung teringat pada Alquran, Nabi Muhammad SAW, shalat, puasa, zakat, masjid, ulama, pesantren, santri, akhlak, umat, pendidikan, atau berbagai pengalaman keagamaan lainnya.

Bagi seseorang yang tumbuh di lingkungan pesantren, kata Islam mungkin mempunyai kaitan yang sangat erat dengan kitab, kiai, santri, dan tradisi ilmu pengetahuan. Bagi orang lain, kata yang sama bisa lebih dekat dengan kehidupan sosial, budaya, atau kehidupan berbangsa. Artinya kata-kata tidak hanya mempunyai makna tetapi kata-kata juga mengaktifkan pengetahuan.

Secara sederhana Frame Semantics memandang bahwa manusia memahami suatu kata melalui suatu kerangka pengetahuan atau bingkai-bingkai yang berkaitan dengannya.

Sebuah kata dapat mengaktifkan suatu situasi atau jaringan konsep tertentu dalam pikiran. Misalnya saja kata beli. Ketika seseorang berkata, “Saya membeli sebuah buku,” kita tidak hanya memahami bahwa tindakan pembelian telah terjadi.

Secara tidak langsung kita juga memahami keberadaan pembeli, barang yang dibeli, penjual, harga dan transaksi. Tidak semua elemen tersebut perlu disebutkan karena pengetahuan kita tentang situasi “pembelian” sudah tersimpan dalam kerangka pengetahuan.

Hal serupa juga bisa terjadi ketika kita membaca Islamnya Prabowo. Kata Islam mengaktifkan kerangka pengetahuan. Nama Prabowo mengaktifkan kerangka pengetahuan lain.

Kemudian kata ala menghubungkan kedua frame tersebut. Secara sederhana kita bisa membayangkannya seperti dua lingkaran pengetahuan yang dihubungkan oleh satu kata.

Pembaca kemudian melakukan proses penafsiran, yaitu ciri-ciri apa yang digunakan Prabowo untuk memahami Islam dalam judul tersebut? Pertanyaan ini menarik. Karena jawabannya tidak selalu sama untuk semua orang.

Bingkai-bingkai yang aktif dalam pikiran seseorang sangat dipengaruhi oleh konteks, pengalaman, pengetahuan dan informasi yang telah dimilikinya. Oleh karena itu, sebuah judul dapat menghasilkan pemahaman yang berbeda-beda pada pembaca yang berbeda.

Di sinilah perlunya kita membedakan antara makna bahasa dan fakta yang diacu oleh bahasa. Sebuah judul dapat membangun hubungan makna, namun untuk mengetahui apakah hubungan tersebut sesuai dengan isi buku, kita tetap perlu membaca isi buku dan mengecek sumber penulisannya. Linguistik dapat menjelaskan cara kerja konstruksi bahasa, namun linguistik tidak boleh digunakan untuk menggantikan pemeriksaan fakta.

Hal ini menjadi semakin penting ketika sebuah ekspresi digunakan di ruang publik. Kita sering membaca headline berita, postingan media sosial, pernyataan, atau slogan hanya dalam beberapa detik.

Setelah itu, pikiran kita langsung membentuk gambaran tentang apa yang sedang dibicarakan. Faktanya, beberapa kata yang kita baca sebenarnya memiliki makna yang lebih luas.

Oleh karena itu, persoalan keislaman Ala Prabowo sebenarnya dapat menjadi pembelajaran menarik mengenai literasi bahasa. Orang tidak harus menjadi ahli linguistik untuk memahami cara kerja bahasa.

Kita hanya perlu membiasakan diri menanyakan beberapa pertanyaan sederhana seperti Apa arti kata yang digunakan? Mengapa kata itu dipilih? Apa bedanya jika kata tersebut diganti dengan kata lain? Dalam konteks apa ungkapan itu digunakan? Pengetahuan apa yang muncul ketika kita membacanya? dan apakah pengertian yang muncul dari judul tersebut sesuai dengan isi sebenarnya?

Pertanyaan-pertanyaan seperti itu membuat kita menjadi pembaca yang lebih berhati-hati. Sebab, bahasa bukan sekedar alat untuk mengatakan sesuatu. Bahasa juga menentukan bagaimana sesuatu diperkenalkan kepada kita.

Kita bisa mengatakan “Islam menurut Prabowo”, “Pandangan Islam Prabowo”, atau “Islamnya Prabowo”. Masing-masing mempunyai pilihan kata yang berbeda. Perbedaannya mungkin hanya terdiri dari satu kata, namun satu kata itu dapat mengubah nuansa hubungan antar unsur yang terkandung di dalamnya.

Dalam konteks inilah bahasa menjadi sangat menarik. Ini bekerja dengan lancar. Dia tidak selalu menyuruh kita berpikir dengan cara tertentu. Namun, hal ini dapat menentukan apa yang pertama kali kita perhatikan, apa yang kita kaitkan, dan pengetahuan apa yang kita aktifkan saat membaca sebuah frasa.

Pada akhirnya, pembahasan keislaman Ala Prabowo tidak harus berhenti pada pertanyaan apakah ada yang setuju atau tidak dengan buku tersebut. Ada pertanyaan lain yang tak kalah menarik khususnya untuk ilmu linguistik, yaitu bagaimana sebuah judul membangun hubungan makna di benak pembaca?

Pertanyaan ini membuat kita memahami bahwa bahasa tidak pernah benar-benar sederhana. Tiga kata bisa membuka perdebatan panjang.

Satu kata dapat membawa banyak asosiasi. Sebuah nama dapat mengaktifkan berbagai ilmu. Dan sebuah judul dapat menjadi pintu masuk bagi pembaca untuk membangun gambaran tertentu terhadap apa yang sedang dibicarakan.

Jadi, ketika kita membaca “Islam Ala Prabowo”, mungkin kita tidak perlu terburu-buru bertanya, “Saya setuju atau tidak?” Sebelum sampai pada pertanyaan tersebut, ada pertanyaan yang lebih mendasar yaitu “Apa sebenarnya yang dilakukan bahasa melalui ketiga kata tersebut?”

Dari pertanyaan sederhana ini kita belajar bahwa memahami bahasa bukan sekedar mengetahui makna kata-kata. Memahami bahasa berarti memahami bagaimana manusia menghubungkan kata, pengetahuan, pengalaman, konteks dan kenyataan. Dan mungkin disitulah sebenarnya kekuatan bahasa, yakni sebuah kata kecil mampu membuka dunia yang besar.

***

*) Oleh: Ahmad Ridwan, Dosen UIT Lirboyo Kediri.

*) Opini ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis, bukan tanggung jawab redaksi timesindonesia.co.id

*) Salinan atau bagian opini TIMES di TIMES Indonesia untuk umum. Panjang naskah maksimal 4.000 karakter atau sekitar 600 kata.

*) Cantumkan nama penulis, profesi beserta foto diri dan nomor telepon yang dapat dihubungi.

*) Naskah dikirim ke

*) Redaksi berhak untuk tidak menampilkan opini yang disampaikan.

Dengarkan berita terhangat dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp Anda!
Klik 👉 Saluran TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp Anda sudah terinstal.

Konten di atas dibuat oleh pihak ketiga. Redaksi tidak bertanggung jawab atas isi maupun akibat yang ditimbulkan oleh konten ini. Agregator artikel oleh JetMedia Digital Agency

Berita Terkait

Bersiaplah untuk memeriksa akun Anda! Laporan gaji PPPK Lombok Utara mulai ditransfer pada pertengahan November lalu
ASUS Perkenalkan Laptop AI Terbaru di Makassar, Garansi Hingga 3 Tahun Jadi Andalan – Mediasulsel.com
Jokowi meminta kasus dugaan penyadapan yang dilakukan Prabowo mengikuti proses hukum
Hasil Lab Ungkap Bakteri Penyebab Dugaan Keracunan MBG di Cirebon, 426 Orang Terkena
Pengajuan demonstrasi di Pamekasan meningkat, mayoritas akhirnya dibatalkan
Penyadapan Prabowo Terkait dengan “Geng Solo”, Habiburokhman Minta Motif Listyo Sigit Diusut
Pengajuan Re-Suket dan Upaya Hukum Luar Biasa: Tim Hukum Gibran Bisa Ambil Perlindungan di Balik Putusan TUN Non-Retroaktif
Gempa M4.0 Berpusat di Laut Barat Laut Karatung, BMKG Sampaikan Data Awal
Tag :

Berita Terkait

Kamis, 5 November 2026 - 19:45 WIB

Bersiaplah untuk memeriksa akun Anda! Laporan gaji PPPK Lombok Utara mulai ditransfer pada pertengahan November lalu

Kamis, 5 November 2026 - 19:25 WIB

ASUS Perkenalkan Laptop AI Terbaru di Makassar, Garansi Hingga 3 Tahun Jadi Andalan – Mediasulsel.com

Kamis, 5 November 2026 - 19:05 WIB

Jokowi meminta kasus dugaan penyadapan yang dilakukan Prabowo mengikuti proses hukum

Kamis, 5 November 2026 - 18:45 WIB

Hasil Lab Ungkap Bakteri Penyebab Dugaan Keracunan MBG di Cirebon, 426 Orang Terkena

Kamis, 5 November 2026 - 18:25 WIB

Pengajuan demonstrasi di Pamekasan meningkat, mayoritas akhirnya dibatalkan

Berita Terbaru