BMKG Dukung Penanganan Karhutla dan Antisipasi Banjir di Papua Selatan – Berita Utama

- Redaksi

Kamis, 5 November 2026

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Merauke, 31 Oktober 2026 – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mendukung upaya Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) dalam penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Papua Selatan dengan memberikan informasi cuaca dan iklim serta melaksanakan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC). Di tengah upaya pemadaman dan pengendalian karhutla, pemerintah daerah juga diminta mulai mengantisipasi potensi banjir dan tanah longsor seiring meningkatnya peluang hujan di masa depan.

Hal itu disampaikan Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani saat kegiatan koordinasi penanganan karhutla dan kesiapsiagaan bencana di Merauke, Papua Selatan, Sabtu (31/10/2026).

“Jadi di sini tugas BMKG adalah mendukung tugas pokok BNPB dalam penyelenggaraan penanggulangan bencana tingkat nasional dengan menyediakan informasi meteorologi, klimatologi, dan geofisika sebagai dasar pengambilan keputusan dan penetapan langkah mitigasi,” kata Faisal dalam sambutannya.

Faisal mengatakan sejumlah wilayah di Indonesia saat ini memasuki masa basah yang ditandai dengan peningkatan potensi pertumbuhan awan hujan. Kondisi ini turut berkontribusi terhadap berkurangnya titik panas di beberapa daerah, seperti Sumatera Selatan, Kalimantan Tengah, dan Papua Selatan. Meski demikian, kondisi tersebut belum tentu menandakan seluruh wilayah telah memasuki musim hujan.

“Musim hujan satu minggu ini kita optimalkan OMCnya. Setelah itu kita kembali ke musim kemarau. Mungkin awan hujan yang terbentuk tidak banyak, sehingga kita harus jaga, patroli, agar tidak muncul lagi titik api atau titik panas di kawasan yang rawan terbakar,” kata Faisal.

Untuk mendukung upaya pencegahan, BMKG telah menyiapkan peta wilayah rawan karhutla yang menunjukkan kabupaten dan kecamatan yang berpotensi terjadi kebakaran dalam satu minggu hingga satu bulan ke depan. Informasi ini disusun agar patroli dapat difokuskan pada wilayah yang memiliki tingkat kerentanan lebih tinggi, sehingga pemantauan dapat dilakukan lebih tepat sasaran.

Jadi tidak perlu patroli seluruh wilayah Papua Selatan, tapi bisa dilakukan di kecamatan yang sudah dianalisis BMKG, ujarnya.

Lebih lanjut, Faisal juga menjelaskan bahwa Indonesia saat ini sedang menghadapi fenomena El Niño dengan intensitas yang sangat kuat yang berdampak pada berkurangnya curah hujan, terutama di wilayah selatan garis khatulistiwa. Fenomena ini diperkirakan masih akan berlanjut hingga awal tahun depan sebelum berangsur-angsur menuju kondisi netral atau berpotensi La Niña.

Berdasarkan pantauan BMKG hingga 20 Oktober 2026, sejumlah wilayah di Indonesia tercatat tidak turun hujan selama lebih dari dua bulan. Khusus di Papua Selatan, peluang curah hujan di wilayah Merauke dan sekitarnya diperkirakan masih relatif rendah pada awal November. Peluang hujan kemudian meningkat secara bertahap pada pertengahan November dan semakin merata menjelang akhir bulan. Sedangkan peningkatan curah hujan diperkirakan terjadi pada bulan Desember hingga Januari.

“Meski dalam satu minggu turun hujan, bukan berarti sudah musim hujan. Kita perlu melihat perkembangan curah hujan di beberapa tempat untuk menentukan awal musim hujan,” jelas Faisal.

Untuk mendukung kesiapsiagaan pemerintah daerah, BMKG menyediakan informasi dan peringatan dini potensi hujan dalam berbagai rentang waktu, mulai dari prakiraan cuaca jangka sangat pendek atau nowcasting tiga hingga enam jam ke depan, prakiraan harian hingga tujuh hari, dasar atau sepuluh harian, hingga prakiraan bulanan. Informasi ini tersedia di tingkat kecamatan dan diperbarui secara berkala sehingga dapat digunakan untuk mengidentifikasi wilayah yang berpotensi terkena dampak.

Selain memberikan data, Faisal meminta pemerintah daerah dan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) memanfaatkan informasi tersebut untuk menyiapkan langkah antisipatif, terutama di wilayah rawan banjir dan tanah longsor. Langkah yang dapat dilakukan antara lain mendata wilayah rawan bencana, memperbaiki drainase, dan melakukan normalisasi sungai untuk mengurangi risiko dampak hujan lebat.

Selain memantau curah hujan, BMKG juga terus memantau titik api dan pergerakan asap di Papua Selatan. Berdasarkan pantauan hingga 30 Oktober 2026, sebaran asap wilayah Papua Selatan secara umum bergerak ke arah barat atau barat laut. Potensi kebakaran hutan dan lahan masih perlu diwaspadai sepanjang bulan November dan diperkirakan mulai menurun pada awal Desember seiring dengan meningkatnya peluang hujan.

“Dengan kondisi yang masih perlu diwaspadai hingga bulan November ini, kita harus terus melakukan persiapan, patroli dan pengawasan lingkungan agar tidak muncul kebakaran baru. Jangan sampai kita lengah ketika titik panas mulai berkurang,” tegas Faisal.

Dalam kesempatan yang sama, Deputi Modifikasi Cuaca BMKG Tri Handoko Seto menjelaskan penerapan OMC sebagai upaya mendukung penanganan karhutla di berbagai wilayah Indonesia. Kegiatan OMC dalam penanganan karhutla sebagian besar didanai oleh BNPB dan dilakukan melalui koordinasi lintas lembaga.

Di Papua Selatan, OMC telah dilaksanakan sejak 22 Oktober 2026 dan direncanakan berlangsung hingga 5 November 2026. Hingga kegiatan koordinasi berlangsung, operasi tersebut telah mencapai 13 flight sortie menggunakan pesawat Cessna Caravan dengan total material bibit yang dibawa sebanyak 13 ton.

Seto menjelaskan, selama ini penyemaian awan banyak diarahkan ke wilayah utara dan barat Papua Selatan karena potensi pertumbuhan awan masih terkonsentrasi di wilayah tersebut. Hujan yang terbentuk lebih sering terjadi di wilayah barat dan utara. Kondisi ini seiring dengan berkurangnya titik panas secara signifikan di sejumlah wilayah yang mendapat hujan.

Namun titik panas masih ditemukan di wilayah Papua Selatan bagian selatan. Dengan prakiraan peningkatan potensi awan bergerak ke wilayah selatan dalam beberapa hari mendatang, BMKG berharap peluang hujan di sekitar Kabupaten Merauke juga semakin meningkat sehingga titik panas bisa semakin berkurang.

Seto menegaskan, berkurangnya jumlah titik panas tidak boleh memperlambat upaya pemantauan. Mengingat musim hujan yang belum merata di seluruh wilayah Papua Selatan, maka patroli, pemantauan lingkungan, dan penegakan hukum tetap diperlukan untuk mencegah munculnya kembali titik api.

“Saat titik panas mulai berkurang, pemantauan tetap harus dilakukan. Kita perlu memastikan tidak terjadi lagi kebakaran pada masa peralihan ke musim hujan,” ujarnya.

Sementara itu, Kepala BNPB Letjen TNI Kristomei Sianturi mengingatkan pemerintah daerah dan seluruh elemen terkait untuk tidak hanya fokus pada penanganan karhutla, tetapi juga mulai bersiap menghadapi potensi banjir dan tanah longsor seiring dengan perubahan kondisi cuaca.

Kristomei menjelaskan, ada dua hal yang perlu diperhatikan dalam menghadapi transisi risiko bencana. Pertama, lahan yang baru terbakar kehilangan tutupan vegetasi sehingga lebih rentan terhadap limpasan air saat hujan. Kedua, sumber daya penanggulangan bencana saat ini sebagian besar masih terkonsentrasi pada penanganan kebakaran hutan dan lahan.

Oleh karena itu, dia meminta pemerintah daerah memastikan kesiapan personel dan peralatan agar bisa segera dialihkan untuk menangani banjir atau tanah longsor jika terjadi bencana.

“BPBD di daerah juga harus mulai menginventarisasi kebutuhan peralatan penanganan banjir dan menyampaikannya ke BNPB pusat. Dengan begitu, dukungan yang diperlukan bisa dipersiapkan terlebih dahulu untuk mendukung upaya pencegahan dan tanggap jika terjadi bencana,” sarannya.

Kristomei juga menekankan pentingnya kolaborasi seluruh elemen dalam penanganan karhutla, mulai dari pemerintah pusat dan daerah, TNI, Polri, Manggala Agni, masyarakat, hingga pihak swasta. Menurutnya, penanggulangan bencana tidak bisa dilakukan oleh satu pihak saja karena dampaknya dirasakan secara luas oleh masyarakat.

Melalui dukungan informasi dan analisis BMKG, penerapan OMC, serta koordinasi antara BNPB dan pemerintah daerah, diharapkan penanggulangan bencana di Papua Selatan dapat berjalan secara terpadu. Kesiapsiagaan perlu dilakukan secara berkesinambungan, baik untuk mengendalikan kebakaran hutan dan lahan yang masih berpotensi terjadi maupun untuk mengantisipasi banjir dan tanah longsor seiring perubahan kondisi cuaca.

Konten di atas dibuat oleh pihak ketiga. Redaksi tidak bertanggung jawab atas isi maupun akibat yang ditimbulkan oleh konten ini. Agregator artikel oleh JetMedia Digital Agency

Berita Terkait

Kejaksaan Pandeglang Ingatkan Pengelola SPPG MBG Tak Lakukan Penyimpangan
10 Drama Terbaru 2026 dengan Rating Tinggi yang Wajib Masuk Watchlist Kamu
Peran Irjen Slamet Uliandi dalam Tersangka Penyadapan Prabowo: Dewan Pertimbangan MC
BMKG: Potensi Hujan Ringan di Ruteng dan Kabut di Empat Wilayah NTT, 6 November
Peran Irjen Slamet Uliandi, Tersangka Baru Penyadapan Presiden Prabowo
Senyuman Jokowi saat ditanya soal dugaan makar dalam kasus penyadapan Prabowo
Bersiaplah untuk memeriksa akun Anda! Laporan gaji PPPK Lombok Utara mulai ditransfer pada pertengahan November lalu
ASUS Perkenalkan Laptop AI Terbaru di Makassar, Garansi Hingga 3 Tahun Jadi Andalan – Mediasulsel.com
Tag :

Berita Terkait

Kamis, 5 November 2026 - 22:05 WIB

BMKG Dukung Penanganan Karhutla dan Antisipasi Banjir di Papua Selatan – Berita Utama

Kamis, 5 November 2026 - 21:45 WIB

Kejaksaan Pandeglang Ingatkan Pengelola SPPG MBG Tak Lakukan Penyimpangan

Kamis, 5 November 2026 - 21:25 WIB

10 Drama Terbaru 2026 dengan Rating Tinggi yang Wajib Masuk Watchlist Kamu

Kamis, 5 November 2026 - 21:05 WIB

Peran Irjen Slamet Uliandi dalam Tersangka Penyadapan Prabowo: Dewan Pertimbangan MC

Kamis, 5 November 2026 - 20:45 WIB

BMKG: Potensi Hujan Ringan di Ruteng dan Kabut di Empat Wilayah NTT, 6 November

Berita Terbaru