TEKAD Kepala Staf Kepresidenan (KSP) Jenderal Pol. Listyo Sigit Prabowo sebagai tersangka kasus dugaan penyadapan ilegal terhadap Presiden Prabowo Subianto menambah dimensi baru dalam hubungan politik antara Prabowo dan pendahulunya, Joko Widodo. Semua orang tahu bahwa hubungan Prabowo dan Jokowi terbentuk melalui kompromi politik yang panjang. Keduanya bertarung pada Pilpres 2014 dan 2019.
Setelah dua kekalahan, Prabowo bergabung dengan pemerintahan Jokowi sebagai Menteri Pertahanan pada tahun 2019. Lima tahun kemudian, keduanya kembali sependapat. Prabowo maju sebagai calon presiden bersama Gibran Rakabuming Raka, putra Jokowi, sebagai calon wakil presiden.
Kemenangan pasangan ini menyatukan dua kekuatan politik yang sebelumnya berlawanan. Namun, di saat yang sama, kemenangan elektoral ini juga membawa konsekuensi serius bagi Prabowo.
Prabowo menghadapi keterbatasan anggaran untuk menjalankan program prioritasnya. Dalam RAPBN 2026, pembayaran bunga utang direncanakan mencapai Rp599,44 triliun, meningkat dari perkiraan tahun 2025 sebesar Rp552,1 triliun. Angka tersebut menunjukkan besarnya kewajiban fiskal yang harus dipenuhi sebelum pemerintah membiayai berbagai agenda pembangunan baru.
Beban ini juga terkait dengan keberlanjutan sejumlah proyek besar pemerintahan sebelumnya. Kereta cepat Jakarta-Bandung, misalnya, dibiayai melalui kombinasi pinjaman China Development Bank dan ekuitas konsorsium. Biaya proyek yang membengkak meningkatkan kebutuhan pembiayaan, sedangkan keterlibatan BUMN membuat permasalahan ini berdampak pada keuangan perusahaan negara.

Pembangunan Ibu Kota Indonesia juga memerlukan pembiayaan jangka panjang melalui kombinasi APBN, investasi swasta, dan kerja sama. Meskipun tidak seluruh pembiayaan merupakan utang langsung pemerintah, namun keberlanjutan proyek tetap memerlukan komitmen anggaran dan investasi.
Dalam situasi ini, pemerintah melakukan efisiensi belanja di kementerian dan lembaga untuk memberikan ruang fiskal pada program prioritas, termasuk Makanan Bergizi Gratis. Prabowo harus membiayai agenda pemerintahannya sendiri, sekaligus mengelola kewajiban fiskal dan proyek-proyek yang diwarisi dari pemerintahan sebelumnya.
Listyo Sigit dan Tuntut Mundur
Namun tantangan terberat bagi Prabowo, dan mungkin menjengkelkan para pendukungnya, adalah kenyataan bahwa pemerintahan baru harus mengakomodasi banyak kepentingan, termasuk kepentingan Jokowi. Prabowo memperoleh dukungan untuk mencapai kursi kepresidenan, sementara Jokowi mempertahankan pengaruh politik melalui tokoh-tokoh yang masuk dalam pemerintahan baru.
Saat dibentuk pada Oktober 2024, Kabinet Merah Putih terdiri dari 48 kementerian, dibandingkan pada pemerintahan Jokowi 2019-2024 yang berjumlah 34 kementerian. Struktur yang lebih besar ini juga mencakup penambahan kementerian koordinator, wakil menteri, dan sejumlah badan pemerintah.
Salah satu wakil kepentingan Jokowi dan kelompoknya di kabinet adalah Listyo Sigit. Sejak menjalin hubungan dengan Jokowi sejak masih menjabat Wali Kota Solo, Sigit menjadi ajudan Jokowi saat pertama kali terpilih menjadi presiden pada 2014. Setelah itu, kariernya berlanjut sebagai Kapolda Banten, Kadiv Propam, dan Kabareskrim.
Pada Januari 2021, Jokowi mengajukan Listyo sebagai calon tunggal Kapolri ke DPR. Listyo kemudian dilantik pada 27 Januari 2021. Pengangkatannya menjadi salah satu keputusan penting Jokowi dalam penataan kepemimpinan institusi kepolisian.
Selama lebih dari lima tahun memimpin Polri, Listyo menghadapi berbagai kritik terhadap kinerja lembaga dan penanganan perkara. Seruan pergantian Kapolri kembali menguat pasca tewasnya pengemudi ojek online Affan Kurniawan yang ditabrak kendaraan taktis Brimob saat serangkaian aksi demonstrasi pada Agustus 2025.
Meski begitu, Listyo Sigit baru meninggalkan jabatan Kapolri pada 1 Oktober 2026. Prabowo menunjuk Suyudi Ario Seto sebagai penggantinya. Listyo bergeser jabatan sebagai Kepala Staf Kepresidenan.
Pengamat politik Yoes Kenawas seperti dikutip Jakarta Post pada tanggal 5 Oktober 2026 yang melakukan penilaian terhadap langkah-langkah tersebut perombakan Ini menjadi awal transisi penguatan tim kubu Prabowo sendiri. Menurutnya, Prabowo tidak serta merta mencopot seluruh tokoh yang terkait dengan Jokowi, melainkan tetap mempertahankannya di orbit pemerintahan agar tidak membangun kekuatan politik di luar pemerintahan.
Tak lagi menguasai instrumen hukum rupanya berdampak pada kekuatan Listyo Sigit. Pada 3 November 2026, Bareskrim Polri menetapkannya sebagai tersangka kasus dugaan penyadapan ilegal terhadap Presiden Prabowo dan sejumlah pejabat negara. Dua petinggi Polri Irjen Ahrie Sonta dan Irjen Eko Hadi Santoso pun ditetapkan sebagai tersangka.
Kabareskrim Komjen Pol. Asep Safrudin mengatakan, para tersangka diduga memerintahkan penyadapan tanpa prosedur sepanjang tahun 2025-2026. Sasaran penyadapan disebut-sebut mencakup Presiden, pejabat negara, tokoh politik, insan media, organisasi kemasyarakatan, LSM, dan pengusaha. Penyidik juga mendalami dugaan penghapusan data elektronik akibat penyadapan.
Amunisi Tambahan dari Gibran
Kasus Listyo Sigit menambah amunisi baru bagi Prabowo untuk melawan Jokowi. Sebelumnya, Jokowi mendatangi Hambalang jelang pembacaan putusan Mahkamah Konstitusi (MK) terkait ijazah Gibran. Seperti diketahui, Gibran menjadi bagian penting dalam kesepakatan politik yang mengantarkan Prabowo memenangkan Pilpres 2024.
Pada 6 Oktober 2026, Mahkamah Konstitusi menyatakan tidak menemukan bukti yang meyakinkan bahwa Gibran memiliki ijazah, sertifikat, atau ijazah luar negeri yang dapat dijadikan landasan pemerataan pendidikan hingga jenjang sekolah menengah atas. Namun Mahkamah Konstitusi tidak menerima permohonan para pemohon karena permasalahan status hukum. Putusan ini tidak membatalkan hasil Pilpres 2024 maupun jabatan Gibran sebagai wakil presiden.
Pukulan telak bagi Jokowi terjadi pada 30 Oktober 2026. Mahkamah Agung mengabulkan kasasi perkara Nomor 742 K/TUN/2026 tentang sertifikat penyetaraan pendidikan SMA atas nama Gibran. Mahkamah Agung menyatakan surat tersebut tidak sah dan batal demi hukum. Dua perkembangan hukum ini menambah tekanan terhadap posisi politik keluarga Jokowi.
Jokowi tidak lagi memegang jabatan eksekutif. Namun jaringan relawan, hubungan dengan sejumlah tokoh partai, dan pengaruh yang terbentuk selama sepuluh tahun memimpin pemerintahan terbukti menyandera Prabowo sejak awal pemerintahannya. Bergabungnya Jokowi ke PSI pada tahun 2025 juga menunjukkan ambisi politiknya, khususnya pada tahun 2029.
Namun, kini Prabowo nampaknya lebih di atas angin. Satu per satu kendala pemerintah yang berasal dari Jokowi bisa dihilangkan. Prabowo telah menunjukkan dirinya dengan lebih meyakinkan sebagai presiden yang mampu mengambil alih kendali formal pemerintahan. Namun apakah Macan Asia benar-benar lolos dari bayang-bayang Jokowi?
Konten di atas dibuat oleh pihak ketiga. Redaksi tidak bertanggung jawab atas isi maupun akibat yang ditimbulkan oleh konten ini. Agregator artikel oleh JetMedia Digital Agency














