Janji 19 juta lapangan kerja baru yang digaungkan saat kampanye kini digagalkan oleh Staf Khusus Presiden Bidang Ketenagakerjaan dan Kesejahteraan Pekerja, Said Iqbal. Menurut Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka, target ambisius tersebut sangat tidak realistis.
Said Iqbal membedah ketidakmungkinan pencapaian target tersebut dengan membandingkannya dengan kapasitas dan realitas makroekonomi Indonesia. Berdasarkan kalkulasi ketenagakerjaan, ia menegaskan, untuk mampu menyerap 19 juta tenaga kerja baru, perekonomian nasional mutlak harus dipaksa tumbuh ekstrem 10 persen atau lebih.
Baca Juga: Pengusaha Singapura Sindir Prabowo: Terima kasih sudah menjadi contoh buruk pemimpin suatu negara
Angka 19 juta lapangan kerja merupakan bahasa kampanye yang penuh hiperbola dan metafora, kata Said Iqbal, dikutip Rabu (28/10/2026).
Pernyataannya tersebut langsung menghidupkan kembali ingatan kolektif masyarakat pada momen debat Capres 2024. Gibran Rakabuming Raka saat itu dengan percaya diri menjanjikan tersedianya 19 juta lapangan kerja, termasuk alokasi 5 juta lapangan kerja ramah lingkungan (green jobs).pekerjaan ramah lingkungan).
Angka fantastis dan janji-janji ramah lingkungan inilah yang kemudian menjadi salah satu daya tarik kampanye yang sukses mengantarkan kemenangan pasangan Prabowo-Gibran.
Kini, pengakuan blak-blakan dari kalangan istana tersebut telah menggeser wacana dari euforia kemenangan ke meja pertanggungjawaban eksekutif. Masyarakat, ekonom, dan serikat pekerja mulai mempertanyakan sejauh mana instrumen negara mampu mewujudkan target penciptaan lapangan kerja yang sudah terpatri di benak masyarakat.
Mengukur keberhasilan pemerintah saat ini tidak bisa lagi mengandalkan retorika, namun harus dibuktikan melalui rilis data ketenagakerjaan yang valid, antara lain kualitas lapangan kerja yang dihasilkan, serapan lapangan kerja secara sektoral, dan penurunan angka pengangguran terbuka.
Baca Juga: Menteri Prabowo Prihatin Redefinisi Korupsi: Kami Tak Ingin Hilangkan Unsur Kerugian Negara…
Pemerintahan Prabowo-Gibran kini dihadapkan pada ujian nyata untuk membuktikan bahwa agenda ekonomi mereka memiliki landasan empiris, bukan sekedar bahasa kampanye yang dibalut hiperbola dan metafora manis jelang pemilu.
Konten di atas dibuat oleh pihak ketiga. Redaksi tidak bertanggung jawab atas isi maupun akibat yang ditimbulkan oleh konten ini. Agregator artikel oleh JetMedia Digital Agency














