KedaiPena.com – Upaya pemerintahan Prabowo-Gibran dalam mewujudkan ketahanan energi dan ketahanan pangan dinilai belum berhasil jika diuji menggunakan empat indikator. Dan, setelah dua tahun berkuasa, sebaiknya Prabowo-Gibran segera melakukan evaluasi besar-besaran.
Pengamat BUMN Herry Gunawan menyatakan, menilai berbagai program yang dicanangkan pemerintah saat ini terkait ketahanan energi dan ketahanan pangan dapat dilihat dari empat indikator yang mengacu pada peraturan perundang-undangan yang berlaku dan praktik terbaik internasional.
Yang kedua, memenuhi unsur keterjangkauan, artinya harga bisa terjangkau oleh masyarakat. Ketiga, keamanan, artinya kualitas barangnya bagus. Dan yang terakhir adalah keberlanjutan, yaitu barang dikelola dengan baik dan berkelanjutan,” kata Herry dalam diskusi Forum PWJ di Logika Kopi Bangka Jakarta, Sabtu 24 Oktober 2026.
Sebagai bahan analisis pertama, beliau membahas tentang surplus beras terkait ketahanan pangan yang juga diamini oleh Kementerian Pertanian.
“Kementan sudah berkali-kali menyatakan kita surplus beras, di atas kertas ya. Tapi yang jadi pertanyaan kenapa di tempat lain masih ada kekurangan? Maksudnya apa? Ada masalah besar keterjangkauan atau ketersediaan yang tidak merata. Di sini ada masalah distribusi, sehingga ketahanan pangan masih lemah. Bisa saja kita surplus,” tuturnya.
Dari sisi ketahanan energi, dia menilai, kondisi yang ada saat ini lebih parah lagi. Hal pertama yang disorotinya adalah keberadaan Lemigas yang seiring berjalannya waktu tidak hanya sebagai pemantau kualitas bahan bakar tetapi juga sebagai importir.
“Dulu kita ada di bidang energi, khususnya BBM, yang kualitasnya tetap terjaga. Namanya lembaganya Lemigas. itu. Ini yang menurut saya kemunduran,” ujarnya.
Hal selanjutnya dari sisi ketahanan energi yang disorotinya adalah kelangkaan bahan bakar di sejumlah daerah sehingga mengakibatkan antrian yang mengular di SPBU. Misalnya saja yang baru terjadi di Bali dan mulai merambah ke Jawa Timur.
“Kekurangan bahan bakar ini jelas terjadi,” katanya.
Hal terakhir yang disoroti Herry adalah persoalan inflasi yang berujung pada kenaikan harga produk. Ia mengatakan, terdapat dua inflasi yang berkaitan erat dengan kehidupan masyarakat, yakni berada di atas rata-rata inflasi secara umum. Yakni, sektor pengangkutan yang inflasinya mencapai 4,84 persen dan inflasi makanan, minuman, dan tembakau yang tercatat sebesar 4,37 persen.
“Ini dua komoditas krusial, artinya sudah melekat dalam kehidupan masyarakat. Ini menurut saya hampir gagal untuk mengimplementasi, melaksanakan, apa yang dicita-citakan Presiden Prabowo sejak dilantik. Ketahanan pangan, ketahanan energi. Jadi ini perlu menjadi evaluasi besar-besaran,” tutupnya.
Laporan: Muhammad Rafik
Konten di atas dibuat oleh pihak ketiga. Redaksi tidak bertanggung jawab atas isi maupun akibat yang ditimbulkan oleh konten ini. Agregator artikel oleh JetMedia Digital Agency














