Dua tahun pemerintahan Prabowo-Gibran, jalanan kembali menjadi tempat berkumpulnya suara-suara yang tak pernah menemukan jawaban untuk berkumpul dalam aksi Kartu Merah. Kamis (22/10) sekitar pukul 13.00 WITA, sebagian Jalan Perintis Independen dikuasai massa.
Di depan Gerbang 1 Universitas Hasanuddin (Unhas), jaket almamater berwarna merah berpadu dengan kerudung dan penutup muka berwarna hitam. Deru kendaraan dan terik matahari, tuntutan demi tuntutan mulai terlontar dari megafon para pendemo.
Tinju diangkat secara bersamaan, selembar kertas putih terangkat, “Tidak ada perubahan tanpa perlawanan.” Di sisi lain, terlihat spanduk berwarna biru terbentang di aspal, menempel pada bambu dan batu agar tidak terbawa angin.



Di bawah langit biru pucat yang tertutup polusi udara, para orator bergantian berseru. Salah satu dari mereka meminta penonton untuk melihat ke atas, menanyakan apakah langit yang mereka lihat masih benar-benar biru.
Jawabannya ada di atas kepala kita, asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang membuat udara di Makassar semakin pengap, seru salah satu orator.


Matahari mulai condong ke barat, pertanda sore akan segera tiba. Gelas minuman plastik bekas berserakan di aspal, sementara suara massa belum juga mereda.
Fitriani Andini
Konten di atas dibuat oleh pihak ketiga. Redaksi tidak bertanggung jawab atas isi maupun akibat yang ditimbulkan oleh konten ini. Agregator artikel oleh JetMedia Digital Agency














