Kasubbag Kepegawaian Kantor Kecamatan Pakantan Riswan meluruskan isu penyerangan terhadap Camat Armada saat peringatan Haornas. Ia menegaskan, kejadian jatuh tersebut murni gerakan refleks.
Panyabungan, MulaiBerita – Kepala Sub Bagian Kepegawaian Kantor Kecamatan Pakantan Riswan meluruskan narasi penyerangan Camat Pakantan Armada saat peringatan Hari Olahraga Nasional 9 September 2026. Ia menegaskan, kejadian yang terekam dalam video viral tersebut murni gerakan refleks tanpa ada niat untuk melukai pimpinannya.
Riswan menjelaskan, kejadian tersebut bermula saat Armada melakukan demonstrasi karate di luar jadwal resmi acara. Pembawa acara kemudian bertanya siapakah yang berani menjadi lawan demonstrasi, sehingga Riswan memutuskan untuk turun ke tengah lapangan untuk memperagakan gerakan-gerakan pencak silat secara tatap muka tanpa saling bersentuhan.
Usai memperagakan gerakan, Riswan kembali ke barisan peserta. Namun Armada tetap melanjutkan demonstrasinya dengan mengarahkan tiga pukulan dan satu tendangan ke arah Riswan. Saat Riswan berbalik, ia refleks menghindar sehingga menyebabkan Armada kehilangan keseimbangan dan terjatuh.
“Tidak ada niat untuk melukai saya, itu murni reflek karena camat melakukan gerakan ke arah saya,” kata Riswan, Rabu (7/10/2026).
Dia mengatakan, pemotong video menyebarkan rekaman tersebut secara tidak lengkap sehingga membentuk opini publik seolah-olah serangan brutal terjadi dengan sengaja.
Sesaat setelah kejadian tersebut, Riswan langsung membantu Armada berdiri, berjabat tangan dan memeluk pimpinannya sebagai bentuk permintaan maaf.
Riswan pun memenuhi panggilan Plt Sekretaris Daerah Mandailing Natal Afrizal untuk menyelesaikan kesalahpahaman tersebut. Bahkan, Riswan membawa tokoh masyarakat ke kediaman Sekda untuk menemui Armada secara kekeluargaan, namun camat tidak hadir.
Sejak kejadian tersebut beredar luas di media sosial, Armada tercatat sudah puluhan hari mangkir kerja di Kantor Kecamatan Pakantan. Di sisi lain, Armada menilai tindakan Riswan telah mencoreng harga dirinya sebagai pemimpin di hadapan publik.
Mengutip Liputan 9, Armada mengaku enggan berangkat ke kantor karena merasa malu dengan kejadian di lapangan.
“Hati saya tidak bisa menerimanya karena telah mempermalukan saya di muka umum, apalagi sebagai pemimpin Kabupaten Pakantan. Tidak ada etika, sopan santun, dan moral untuk menunjukkan kebodohan, kesombongan, dan keangkuhan seperti ini di hadapan anak bangsa,” kata Armada.
Saat ini, Riswan memilih menunggu Camat Armada tiba di kantor camat agar permasalahan tidak semakin meluas, sekaligus menyayangkan keterkaitan permasalahan tersebut dengan posisinya di organisasi MUI.
Wartawan: Pak
Konten di atas dibuat oleh pihak ketiga. Redaksi tidak bertanggung jawab atas isi maupun akibat yang ditimbulkan oleh konten ini. Agregator artikel oleh JetMedia Digital Agency














