SURABAYA (Lentera) – Wakil Gubernur Jawa Timur Emil Elestianto Dardak mengungkapkan, terjadi kemacetan panjang di Pelabuhan Ketapang, Banyuwangi, salah satunya dipicu kebijakan KSOP (Syahbandar dan Otoritas Pelabuhan) Kementerian Perhubungan.
Pelabuhan Ketapang Banyuwangi kembali mengalami kemacetan hingga sepanjang 17 kilometer setelah sempat sepi. Kepadatan ini berlanjut hingga Senin (28/9/2026).
Emil mengatakan, kemacetan bukan dipicu oleh ketersediaan kapal atau cuaca.
“Waktu kita berkunjung ke sana, saya tanya, kapalnya sudah ada? Iya. Cuma ada risiko air pasang, jadi dari Tanjung Wangi ke Lembar dua kapal jadi empat, ditambah satu kapal fortlink sudah tersedia, Ketapang juga. Dua faktor yang dikhawatirkan itu tidak terjadi,” kata Emil mengutip Kompas.com, Senin (28/9/2026).
Namun kemacetan tersebut disebabkan adanya protes dari para pengemudi kendaraan logistik, terhadap kebijakan yang dikeluarkan KSOP Kementerian Perhubungan mengenai pembatasan muatan demi keselamatan penyeberangan.
Ternyata penyekatan itu bukan semata-mata karena antrian, tapi kebijakan terkait pembatasan jumlah truk yang boleh dimuat ke kapal. Ini pertimbangan teknis dari KSOP dan asosiasi. Karena menghubungkan antar pulau, kewenangannya tidak melekat pada provinsi, jelasnya.
Sebelumnya, Gabungan Seluruh Pengemudi Pengguna Jasa Penyeberangan Ketapang-Gilimanuk bersama pemangku kepentingan terkait menyepakati tujuh poin demi kelancaran operasional penyeberangan.
Salah satu poinnya adalah pembagian muatan kendaraan di atas 30 ton diarahkan menggunakan kapal LCM dengan jumlah minimal lima unit per kapal.
Sedangkan kendaraan dengan muatan di bawah 30 ton diarahkan ke kapal MB yaitu MB1, MB2, MB3 dan MB4. Kemudian waktu sandar, bongkar muat, dan pemberangkatan ditargetkan 15 menit terakhir.
“Jadi sebenarnya hanya proses komunikasi saja, pengemudi truk merasa resah dengan kebijakan baru tersebut. KSOP tidak bisa asal menentukan kebijakan, secara teknis mereka terikat untuk ingin menghindari kecelakaan kapal,” jelasnya.
Blokade yang berlangsung selama enam jam, pada Sabtu (26/9/2026) memicu penumpukan kendaraan hingga menimbulkan efek domino. Kemacetan ini tidak bisa diselesaikan dengan cepat.
“Sudah ada solusinya, tapi karena blokade terjadi lebih dari enam jam, efeknya bertahan hingga kemarin, bahkan hingga hari ini,” jelasnya.
Kepada awak media, Emil menunjukkan pantauan kamera CCTV pada Minggu malam di pintu masuk Dermaga 4 cukup sepi. Namun, perilaku pengguna jalan yang ugal-ugalan melintasi jalur membuat keadaan semakin pelik.
“Kalau begini, antriannya jangan sampai 13 kilometer ya, karena banyak yang bertiup (mengambil arah sebaliknya), jadi ribet di sana,” tutupnya.
Redaktur: Arief Sukaputra
Konten di atas dibuat oleh pihak ketiga. Redaksi tidak bertanggung jawab atas isi maupun akibat yang ditimbulkan oleh konten ini. Agregator artikel oleh JetMedia Digital Agency














