Ketua Umum Palang Merah Indonesia (PMI) Jusuf Kalla (JK) mengatakan, pembangunan gedung baru Kantor Pusat PMI DKI Jakarta dan Unit Transfusi Darah (UTD) PMI melibatkan dua gubernur, yakni Anies Baswedan dan Pramono Anung.
Hal itu disampaikan JK saat menghadiri peresmian Gedung Baru PMI DKI Jakarta di Jalan Kramat Raya, Kecamatan Senen, Jakarta Pusat, Kamis (17/9). Dalam kesempatan tersebut turut hadir Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung dan Ketua PMI DKI Jakarta Beky Mardani.
JK mengatakan, pembangunan gedung tersebut dimulai pada masa kepemimpinan Anies Baswedan dan kemudian diresmikan oleh Pramono Anung.
Jadi gedung ini dibangun oleh dua gubernur. Pak Anies groundbreaking, batu pertama, Pak Pramono potong pita, ini luar biasa. Jarang. Luar biasa, kata JK dalam sambutannya.
Menurut JK, pembangunannya memakan waktu sekitar lima tahun. Awalnya, JK ingin agar markas PMI dan unit donor darah dibangun di lokasi terpisah. Namun pembangunannya akhirnya menggabungkan kedua fasilitas tersebut dalam satu gedung.
“Waktu itu saya minta sebenarnya di luar, tidak hanya dibangun di sini, dipisahkan. Tapi ternyata bisa digabungkan antara Markas DKI dan Unit Donor Darah Jakarta,” kata JK yang sudah dua kali menjabat wakil presiden itu.
PMI tidak mempunyai kantor, melainkan kantor pusat
JK menjelaskan, gedung baru itu bukan sekadar kantor PMI, melainkan kantor pusat yang bisa dioperasikan dan dihubungi kapan saja.
“PMI DKI tidak punya kantor, tidak pernah. Itu semua markas,” kata JK.
Menurutnya, istilah kantor pusat menunjukkan bahwa pelayanan PMI tidak terbatas pada jam kerja seperti perkantoran pada umumnya. Artinya, masyarakat bisa menghubungi PMI atau unit darah kapan saja ketika membutuhkan layanan.
“Kalau di kantor ada jam kerja. Kalau di markas tidak ada, seperti tentara, polisi. Jadi kapan saja bisa menghubungi PMI dan Unit Darah,” ujarnya.
JK mengapresiasi Pemprov DKI Jakarta yang telah memberikan hibah atau membangun fasilitas tersebut. Ia menilai pembangunan markas PMI merupakan bagian dari kepentingan kemanusiaan karena fasilitas tersebut digunakan untuk keselamatan masyarakat.
“Kalau masyarakat membebankan pajak ke pemda lalu dibangun oleh pemda, itu wajar. Karena semua hasil dari bangunan ini untuk keselamatan warga,” kata JK.
PMI Mengumpulkan Sekitar 1.200 Kantong Darah per Hari
JK juga menyoroti pentingnya keberadaan unit transfusi darah di Jakarta. Ia mengatakan, kebutuhan dan pengambilan darah di Jakarta mencapai sekitar 1.200 kantong per hari.
Menurut dia, sekitar separuh kebutuhan tersebut dikumpulkan melalui unit pusat, sedangkan sisanya berasal dari sejumlah unit pengumpul darah lainnya.
“Semua itu berarti terkumpul kurang lebih 1.200 per hari untuk kemanusiaan,” ujarnya.
JK mengatakan, darah yang tersedia di PMI tidak hanya digunakan untuk warga Jakarta. Pasalnya, banyak masyarakat dari daerah lain yang datang ke Jakarta untuk menjalani pengobatan atau operasi.
Yang diberi transfusi darah dari DKI di tempat ini bukan hanya warga DKI, mungkin 50 persen warga provinsi lain, kata JK.
Lebih lanjut JK mengatakan, pasien asal Jawa Barat, Sulawesi, dan Sumatera datang ke Jakarta untuk mendapatkan layanan kesehatan sehingga membutuhkan ketersediaan darah.
JK Sebut UDD PMI DKI Terbaik dan Punya 225 Unit di Indonesia
JK mengatakan, PMI saat ini memiliki 225 unit donor darah di seluruh Indonesia. Namun, dia menyebut fasilitas UDD PMI DKI Jakarta termasuk yang terlengkap.
“PMI punya 225 unit donor darah di seluruh Indonesia, tapi ini yang terbaik. Lengkap,” ujarnya.
JK juga menyoroti pentingnya menjaga kualitas darah yang dikumpulkan oleh PMI. Menurut dia, PMI memiliki serangkaian proses mulai dari penyediaan kantong darah, pengambilan darah, hingga pemanfaatan plasma.
Ia mengatakan, plasma darah donor nantinya bisa difraksinasi untuk dijadikan bahan obat. Menurut JK, langkah tersebut dapat mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap produk plasma yang masih diimpor.
Plasmanya dimanfaatkan, diolah menjadi obat, ujarnya.
JK mengatakan, pengembangan pengolahan plasma ini merupakan bagian dari rangkaian kegiatan PMI, mulai dari penyediaan kantong darah, donor darah, hingga pemanfaatan plasma untuk obat.
JK Soroti Banjir dan Kebakaran di Jakarta
Dalam kesempatan itu, JK juga menyinggung tugas PMI dalam penanggulangan bencana. Ia membagi bencana menjadi bencana yang disebabkan oleh manusia, bencana alam, dan bencana yang merupakan gabungan dari faktor alam dan manusia.
Khusus Jakarta, JK menyoroti dua permasalahan yang menurutnya sering terjadi, yakni banjir dan kebakaran.
Untuk mengantisipasi banjir, JK mengimbau masyarakat rutin membersihkan saluran air di lingkungan masing-masing. Ia mengatakan, permasalahan banjir pada dasarnya berkaitan dengan jumlah air yang masuk dan kemampuan air keluar.
“Banjir itu air yang masuk lebih banyak daripada yang keluar. Itu rumusnya,” kata JK.
Ia menilai pembersihan talang perlu dilakukan secara rutin agar aliran air tidak terhambat.
90 Persen Kebakaran di Jakarta Disebabkan Listrik
Selain banjir, JK menyoroti permasalahan kebakaran di Jakarta. Ia mengatakan, sekitar 90 persen kebakaran di Jakarta disebabkan oleh gangguan listrik.
Menurut JK, kebakaran bisa terjadi karena kelalaian seperti penggunaan kabel atau instalasi listrik yang tidak sesuai kapasitas atau beban listrik yang berlebihan.
“90 persen kebakaran di Jakarta disebabkan oleh listrik. Kenapa bisa terjadi? Itu kelalaian,” ujarnya.
JK meyakini peningkatan disiplin dan edukasi mengenai penggunaan listrik dapat menjadi salah satu upaya pencegahan kebakaran.
Ia juga mengatakan, kebakaran banyak terjadi di kawasan pemukiman masyarakat berpendapatan rendah. Oleh karena itu, kebakaran dapat memperburuk kondisi perekonomian masyarakat yang terkena dampak.
Jadi kalau ada kebakaran, DKI akan semakin miskin. Bukannya semakin miskin, justru semakin miskin karena kebakaran selalu terjadi di desa-desa, ujarnya.
JK mengatakan, PMI siap membantu Pemprov DKI dalam upaya pencegahan kebakaran, termasuk dengan memberikan edukasi kepada relawan mengenai kelistrikan.
“PMI siap Pak Gubernur untuk keduanya. Pak Beky, kerahkan masyarakat untuk membantu Pak Gubernur. Relawan kita akan dididik bersama tentang ketenagalistrikan,” kata JK.
Menurut JK, pencegahan penting dilakukan karena dampak kebakaran dapat menghancurkan seluruh harta benda masyarakat.
“Kalau banjir, rumahnya masih ada, bajunya masih ada, hanya kotor. Tapi kalau kebakaran, semuanya hilang,” ujarnya.
Konten di atas dibuat oleh pihak ketiga. Redaksi tidak bertanggung jawab atas isi maupun akibat yang ditimbulkan oleh konten ini. Agregator artikel oleh JetMedia Digital Agency














