NEGARA, NusaBali – Aksi protes sopir truk di Pelabuhan Ketapang, Banyuwangi, Jawa Timur, Sabtu (26/9/2026) sore, berdampak pada arus penyeberangan dari Bali ke Jawa. Penutupan akses masuk dan keluar pelabuhan di Ketapang menyebabkan pelayanan penyeberangan terhambat, sehingga antrian kendaraan menuju Pelabuhan Gilimanuk membentang sekitar 7 kilometer pada Sabtu malam.
Informasinya, puncak antrian pada Sabtu malam mencapai kawasan hutan, tepatnya di dekat Batalyon Infanteri Teritorial Pembangunan 928/Brata Sena Yudha (Yonif TP 928/BSY). Meski aksi protes telah usai, kepadatan kendaraan belum sepenuhnya teratasi karena pelayanan penyeberangan masih terhambat, salah satunya akibat revitalisasi Dermaga MB II di Pelabuhan Gilimanuk.
Berdasarkan pantauan Polsek Kawasan Pelabuhan Gilimanuk, Minggu (27/9/2026) sore, antrean kendaraan dari arah Bali masih mengular hingga ke sahabat hutan. Ekor antrian masih terpantau di dekat kawasan Monumen Operasi Lintas Laut Jawa-Bali di Gilimanuk, atau sekitar 3,5 kilometer dari pintu masuk pelabuhan.
Aksi protes sopir truk di Ketapang dipicu kekecewaan terhadap antrean panjang dan penerapan penataan dermaga Landing Craft Machine (LCM) yang dinilai tidak berjalan sesuai aturan. Pengemudi mempertanyakan bauran kendaraan kecil dan truk, padahal dermaga LCM diperuntukkan bagi layanan kendaraan logistik.
Situasi memanas hingga para pengemudi melakukan blokade di Pelabuhan Ketapang. Akibatnya, pelayanan penyeberangan Gilimanuk menuju Ketapang pun terganggu, kendaraan yang hendak menyeberang terus berdatangan dan menumpuk di jalur menuju pelabuhan.
Kondisi ini semakin berdampak karena Dermaga MB II Pelabuhan Gilimanuk masih ditutup untuk revitalisasi. Dengan jumlah dermaga operasional yang lebih sedikit, layanan penyeberangan bergantung pada dermaga lain yang masih aktif, sehingga penyelesaian antrian memerlukan waktu.
Kapolsek Kawasan Pelabuhan Gilimanuk AKP Gusti Kade Alit Mudiarsa mengatakan, situasi keamanan dan ketertiban masyarakat (Kamtibmas) di kawasan pelabuhan secara umum masih aman dan kondusif. Meski demikian, polisi terus memantau perkembangan antrian dan mengatur lalu lintas agar kemacetan tidak semakin meluas.
“Situasi secara umum aman dan kondusif. Usai aksi di Ketapang sempat terjadi pergerakan, namun antrian masih naik turun. Pantauan terakhir, antrian kendaraan masih sampai di kawasan Monumen Lintas Laut Gilimanuk,” ujarnya, Minggu sore.
Untuk mengantisipasi dampak kemacetan, AKP Alit Murdiasa menyatakan, selain personel Polsek, Polres Jembrana juga memperkuat pengamanan dan pengaturan lalu lintas dengan melibatkan personel Satuan Lalu Lintas dan Satuan Samapta. Petugas disiagakan di sejumlah titik yang perlu penanganan, terutama di jalur menuju pelabuhan dan area ujung antrian kendaraan.
Menurut AKP Alit Murdiasa, personel kepolisian juga terus memantau dan berkoordinasi dengan instansi terkait untuk mengantisipasi perkembangan situasi di Gilimanuk dan Ketapang. Pengaturan lalu lintas dilakukan agar antrian tetap tertib dan tidak mengganggu pengguna jalan lainnya.
“Kami juga menghimbau kepada pengguna jalan, khususnya yang hendak menyeberang menuju Pulau Jawa, untuk tetap bersabar dan mengikuti arahan petugas di lapangan. Jangan langsung mengantri atau mengambil jalur yang dapat menghambat kelancaran arus lalu lintas,” kata AKP Alit Murdiasa. *syair pujian
Konten di atas dibuat oleh pihak ketiga. Redaksi tidak bertanggung jawab atas isi maupun akibat yang ditimbulkan oleh konten ini. Agregator artikel oleh JetMedia Digital Agency














