BATAMTODAY.COM, Batam – Perkembangan teknologi digital dan kecerdasan buatan (AI) menghadirkan tantangan baru bagi jurnalis foto. Di tengah maraknya manipulasi visual, etika foto jurnalistik dinilai menjadi landasan penting untuk menjaga keakuratan informasi yang diterima masyarakat.
Persoalan tersebut dibahas pada workshop Malacca Strait Media Festival (Fesmed) 2026 yang digelar di Ruang Rapat TA 9.4 Lantai 9 Gedung Tower A Politeknik Negeri Batam, Sabtu (19/9/2026).
Kegiatan ini diikuti oleh 29 peserta dari masyarakat umum, termasuk jurnalis dan konten kreator. Workshop menghadirkan Koordinator Foto Jurnalis Indonesia (PFI) Regional Sumatera, Hendra Syamhari, serta fotografer lepas M. Noor Kanwa sebagai narasumber. Kegiatan dimoderatori oleh Fara Verwey dari AJI Tanjungpinang.
Hendra membawakan materi bertajuk “Kejujuran Visual di Era Serba Digital: Tantangan Foto Jurnalisme Sebagai Literasi Publik”. Sementara itu, M. Noor Kanwa menyampaikan materi tentang “Etika Penggunaan AI dalam Foto Jurnalisme”.
Dalam pemaparannya, Hendra menegaskan etika jurnalistik menjadi benteng pertahanan bagi jurnalis foto dalam menghadapi penyebaran visual hoax. Menurutnya, foto jurnalistik harus disajikan secara jujur dan transparan agar masyarakat mendapatkan gambaran peristiwa tanpa manipulasi.
“Sebuah foto disajikan secara jujur dan transparan sehingga masyarakat dapat memahami sepenuhnya suatu peristiwa tanpa dimanipulasi,” kata Hendra.
Ia menjelaskan, karya visual jurnalistik harus menggambarkan kondisi sebenarnya pada saat suatu peristiwa berlangsung. Selain gambar, caption atau keterangan foto juga menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari produk jurnalistik.
“Foto jurnalistik juga ada keterangannya. Keterangan foto ini merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari produk jurnalistik,” ujarnya.
Foto Jurnalisme Menjadi Catatan Fakta
Hendra mengatakan foto jurnalistik mempunyai peran penting dalam merekam fakta di tengah perkembangan teknologi AI dan manipulasi visual yang semakin mudah diakses. Menurutnya, foto tidak hanya berfungsi sebagai pelengkap berita, tetapi juga sebagai dokumentasi suatu peristiwa yang dapat menjadi catatan sejarah.
“Foto itu akan menjadi saksi dan catatan sejarah. Peristiwa yang terjadi direkam melalui jepretan lensa, kemudian dihasilkan foto yang kita bagikan untuk informasi masyarakat,” ujarnya.
Ia pun mengingatkan masyarakat untuk tidak langsung mempercayai keaslian sebuah foto hanya berdasarkan popularitasnya di media sosial. Jumlah likes tidak bisa menjadi ukuran kebenaran suatu informasi visual.
Hendra berpesan kepada masyarakat untuk melakukan verifikasi ketika menemukan foto atau informasi yang meragukan. Tipsnya, kalau kita melihat sesuatu yang meragukan – baik berita maupun foto – kita harus mencari tahu kebenarannya. Kalau tidak ada media yang memberitakan, lewati saja, kata Hendra.
Dalam workshop tersebut, Hendra juga menguji kemampuan peserta dengan menunjukkan sejumlah foto untuk membedakan gambar hasil AI dengan foto asli. Alhasil, sejumlah peserta masih tertipu dan menganggap gambar yang dihasilkan AI adalah foto asli.
AI adalah alat, bukan pengganti hati nurani jurnalis
Sementara itu, M Noor Kanwa membahas tentang hubungan teknologi dan etika dalam foto jurnalistik. Ia menekankan pentingnya keterangan foto yang mengandung unsur 5W+1H sebagai bagian dari penyajian karya jurnalistik. “Caption foto ini biasanya terdiri dari dua kalimat. Kalimat pertama berkaitan dengan foto, sedangkan kalimat kedua berisi informasi tambahan. Dalam dunia jurnalistik, caption foto ini wajib,” kata Kanwa.
Kanwa mengatakan, salah satu hal utama yang dicari jurnalis foto dalam menjalankan tugasnya adalah momen. Menurutnya, suatu momen adalah peristiwa yang tertangkap kamera dan tidak bisa terulang kembali.
“Momen adalah peristiwa atau kejadian yang terekam kamera dan tidak dapat terulang untuk kedua kalinya,” ujarnya.
Ia menilai kemampuan mengabadikan momen menjadi salah satu pembeda dalam pekerjaan seorang jurnalis foto. “Banyak orang yang mengambil foto bagus, tapi hanya orang-orang tertentu yang mendapatkan momennya,” kata Kanwa.
Kanwa juga mengakui perkembangan AI telah mengubah proses produksi fotografi di era digital. Meski demikian, ia menegaskan AI tetap harus diposisikan sebagai alat, bukan pengganti pertimbangan etis jurnalis.
“AI adalah alat, bukan pengganti hati nurani jurnalis. Ada yang bilang ‘biarkan foto berbicara’. Apakah AI bisa seperti itu?” katanya.
Menurut Kanwa, pemanfaatan AI dalam foto jurnalistik dapat diarahkan untuk membantu mengatasi keterbatasan teknis fotografi selama tidak mengubah makna dan substansi foto. “AI digunakan untuk mengimbangi keterbatasan teknis yang ada pada proses fotografi digital agar hasilnya lebih akurat, tanpa mengubah makna dan signifikansi foto,” ujarnya.
Ia mencontohkan penggunaan AI untuk teknis editing seperti koreksi warna. Namun, perubahan tersebut tidak boleh mengubah elemen penting dalam foto untuk tujuan manipulasi.
“AI ini berfungsi sebagai alat pengeditan teknis untuk koreksi warna, namun tidak untuk mengubah warna-warna esensial, seperti mengubah warna rambut untuk keperluan manipulasi usia dan sebagainya,” lanjutnya.
Workshop Fesmed Selat Malaka 2026 diharapkan menjadi bagian dari upaya peningkatan kualitas jurnalisme visual sekaligus memperkuat sinergi antara AJI, PFI dan masyarakat dalam mengawal penyebaran informasi visual yang benar.
Di akhir kegiatan, peserta juga disuguhi dokumentasi buku foto jurnalistik “Prahara Pulau Emas” yang berisi foto-foto korban dan dampak bencana banjir di Aceh dan sejumlah wilayah Sumatera lainnya.
Editor: Gokli
Konten di atas dibuat oleh pihak ketiga. Redaksi tidak bertanggung jawab atas isi maupun akibat yang ditimbulkan oleh konten ini. Agregator artikel oleh JetMedia Digital Agency













