Jakarta, CNBC Indonesia – Perang di Timur Tengah kembali memanas. Dalam update terkini Senin (21/9/2026), Iran memperingatkan akan terjadi eskalasi baru antara negaranya dengan Amerika Serikat (AS).
Hal ini memberikan tekanan lebih lanjut pada pasar energi global yang sudah lemah. Di sisi lain, kekerasan antara Arab Saudi dan kelompok Houthi di Yaman juga semakin memanas.
Jadi apa saja pembaruannya? Berikut ringkasannya CNBC Indonesia:
1.Iran Mengancam Pembalasan yang Mengerikan terhadap AS
Komando Pusat militer Iran mengatakan setiap serangan baru di wilayahnya akan memicu pembalasan berkelanjutan terhadap pangkalan dan kepentingan AS. Sekutu Amerika di wilayah tersebut juga akan dianggap sebagai pihak yang terlibat dalam konflik tersebut.
“Menurut informasi yang diterima, para penjahat Amerika sekali lagi memutuskan untuk melanjutkan tindakan terhadap Iran, dengan lampu hijau dari beberapa negara regional, pada pertemuan bersama di negara-negara Eropa,” kata Markas Besar Khatam al-Anbiya dalam sebuah pernyataan pada hari Minggu.
“Semua akan dianggap terlibat jika mereka mendukung serangan AS… tidak bisa lagi mengharapkan pengendalian diri atau kesopanan dari pasukan Iran,” tambahnya.
Perlu diketahui, sudah hampir tujuh kali terjadi perang antara AS dan Iran. Sejauh ini, belum ada pihak yang siap memberikan konsesi besar yang diperlukan untuk mengakhiri pertempuran.
2.Arab Saudi Melancarkan 28 Serangan ke Yaman
Kelompok Houthi menyatakan Arab Saudi melancarkan 28 serangan di beberapa wilayah Yaman dalam 24 jam terakhir. Bentrokan antara kelompok pro-Iran dan pemerintah Yaman yang didukung Riyadh dalam perang saudara kembali berkobar dalam beberapa pekan terakhir.
“Angkatan Udara Saudi melakukan 28 serangan yang menargetkan provinsi Taiz, Al-Jawf dan Marib, menggunakan pesawat F-15 dan Typhoon yang lepas landas dari pangkalan udara Khamis Mushait dan Taif,” kata juru bicara militer Houthi Yahya Saree dalam pernyataannya, AFP.
Bulan ini, kelompok Houthi, yang sudah menguasai sebagian besar wilayah berpenduduk Yaman, melancarkan serangan kilat untuk merebut seluruh pantai Laut Merah di negara itu, memberi mereka kendali atas Selat Bab al-Mandab yang penting. Houthi menegaskan navigasi di selat itu tetap terbuka dan bebas, kecuali kapal milik Saudi.
Serangan itu terjadi setelah Arab Saudi melaporkan serangan rudal balistik Houthi ke arah Riyadh saat fajar, menyusul kebakaran di dekat bandara internasional ibu kota Saudi.
Perang tersebut, yang dimulai pada tahun 2014 dengan perebutan ibu kota Sanaa oleh Houthi, berhenti pada tahun 2022, namun kembali berkobar pada bulan Juli.
Sementara itu, Departemen Luar Negeri AS membatasi perjalanan pegawai pemerintah Amerika ke kota Taif dan Yanbu di Arab Saudi. Situasi keamanan di tengah serangan yang dihadapi kerajaan dari kelompok Houthi yang didukung Iran di Yaman adalah alasannya.
“Karena situasi keamanan yang sedang berlangsung di Arab Saudi, pegawai pemerintah AS yang bertugas di Arab Saudi kini memerlukan izin khusus untuk semua perjalanan resmi dan pribadi ke kota Taif dan Yanbu,” demikian pernyataan yang diposting di X.
3. Tiongkok Didesak untuk “Turun Gunung”
Keterlibatan Tiongkok dapat membantu meningkatkan diplomasi AS-Iran. Hal ini ditegaskan oleh ahli strategi Partai Republik AS dan mantan pejabat Gedung Putih dan keamanan nasional, Mark Pfeifle.
Dia mengatakan bahwa di luar upaya mediasi Qatar dan Pakistan, ada perkembangan lain yang dapat membantu meningkatkan diplomasi antara Teheran dan Washington. Dia menyebut Tiongkok sebagai jawabannya.
“Dalam minggu mendatang, saya akan benar-benar memperhatikan apa yang dikatakan dan dilakukan Tiongkok,” katanya, menyoroti permintaan Arab Saudi atas bantuan Beijing terkait kelompok Houthi, serta pertemuan mendatang antara Presiden AS Donald Trump dan Presiden Tiongkok Xi Jinping, di AS, seperti dilansir Al-Jazeera.
“Houthi berkomitmen untuk tidak menyerang AS; hal ini setidaknya mengurangi kemungkinan Iran melancarkan perang di dua front – baik di Laut Merah dan Selat Hormuz,” katanya.
“Sekarang, Saudi telah meminta Tiongkok untuk melakukan intervensi terhadap Iran dan menahan kelompok Houthi. Jadi, untuk pertama kalinya, kami benar-benar melihat Tiongkok mulai terlibat.”
Pfeifle mengatakan Trump dan Xi kemungkinan juga akan bertemu satu sama lain serta para pemimpin Teluk di sela-sela KTT PBB minggu ini di New York. Secara teoritis, tegasnya, tekanan yang lebih besar dapat diberikan kepada Iran agar bersedia duduk di meja perundingan.
4. Pertemuan Trump & Xi Jinping
Sementara itu, pertemuan antara Trump dan Xi Jinping akan segera dilakukan pada 24 September. Menteri Keuangan AS Scott Bessent dan Wakil Perdana Menteri Tiongkok He Lifeng memulai pembicaraan pada hari Minggu.
Pada dasarnya, keduanya membahas dasar kemungkinan kesepakatan AS-China, terkait perdagangan, kecerdasan buatan (AI), mineral tanah jarang, dan Iran. Pembicaraan tersebut, yang juga melibatkan pejabat tinggi perdagangan Presiden Donald Trump, Jamieson Greer, diadakan di New York.
Masalah lainnya adalah tekanan ekonomi AS terhadap Iran, mengingat konflik antara Washington dan Teheran sudah memasuki bulan ketujuh, tulis AFP.
“Tiongkok adalah mitra ekonomi utama Iran – yang membeli sebagian besar produksi minyaknya – serta pendukung diplomasi yang penting,” tambah situs tersebut.
Trump dan Xi juga diperkirakan akan bertemu pada bulan November di forum Kerja Sama Ekonomi Asia-Pasifik (APEC) di Shenzhen, Tiongkok. Trump juga diperkirakan akan mengundang Xi ke KTT G20 pada bulan Desember di resor Doral di Miami.
5. Kontraksi ekonomi Iran
Perekonomian Iran mengalami kontraksi lebih dari 10% selama perang Timur Tengah, yang dimulai dengan serangan AS-Israel pada akhir Februari. Produk domestik bruto (PDB) negara tersebut menyusut sebesar 10,1% tahun-ke-tahun dari akhir Maret hingga akhir Juni, periode yang dikenal di Iran sebagai kuartal pertama kalender Persia, Pusat Statistik Iran mengatakan pada hari Minggu.
Iran telah berperang dengan AS sejak akhir Februari, ketika serangan AS-Israel menewaskan pemimpin tertinggi republik Islam tersebut dan pejabat senior militer pada awal serangan besar-besaran. Serangan tersebut memicu pembalasan Teheran dengan memblokir Selat Hormuz sehingga menyebabkan harga minyak global melonjak, seiring meluasnya konflik di Timur Tengah.
Selain itu, perekonomian Iran telah lama berjuang melawan hiperinflasi dan devaluasi mata uangnya, yang sebagian besar disebabkan oleh sanksi ekonomi. Laju inflasi Iran pada Juli 2026 tercatat sebesar 87,9% (year on year/yoy).
6. Harga Emas
Harga emas sedikit berubah pada hari Senin karena pelaku pasar mencermati perkembangan di Timur Tengah dan dampaknya terhadap inflasi dan suku bunga. Harga emas spot hampir tidak bergerak pada US$4,379.74 per ounce, setelah mencapai level tertinggi satu minggu pada hari Jumat sementara kontrak berjangka emas AS untuk pengiriman Desember turun 0,1% menjadi US$4,419.40.
“Fokus utama tetap pada geopolitik, minyak dan reaksi terhadap imbal hasil obligasi. Agar emas dapat membukukan kenaikan yang signifikan, kemungkinan diperlukan penurunan harga minyak dan/atau imbal hasil obligasi,” kata Tim Waterer, kepala analis pasar di KCM Trade.
“Emas kemungkinan akan diperdagangkan pada kisaran US$4.200 hingga US$4.580 dalam waktu dekat,” imbuhnya.
7. Harga Minyak
Harga minyak telah jatuh ke level terendah sejak 10 September. Investor mengamati pemulihan sebagian pengiriman minyak dari Arab Saudi meskipun ada serangan Houthi yang sedang berlangsung.
Kontrak berjangka minyak mentah Brent berada pada US$101,71 per barel, turun 2,08% dari sebelumnya. Minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS menyentuh US$98,15 per barel, turun 2,14% dari level sebelumnya.
“Tampaknya sebagian premi risiko mulai menghilang dari harga minyak di tengah harapan bahwa jalur diplomatik untuk meredakan ketegangan antara AS dan Iran mungkin terwujud minggu ini,” kata Tim Waterer, kepala analis pasar di KCM Trade.
“Apakah harapan ini terbukti masuk akal atau tidak, itu adalah pertanyaan lain. Waktu akan menjawabnya,” tambahnya.
8. Berita Selat Hormuz
Lalu lintas kapal akhir pekan yang melalui Selat Hormuz menurun. Mengutip Reuters, hanya 12 kapal komoditas yang melewati Selat Hormuz pada Sabtu dan Minggu.
Jumlah tersebut turun hampir dua pertiga dari akhir pekan sebelumnya. Pekan lalu ada 35 kapal yang transit di jalur perairan ini.
Sebelumnya, Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf mengatakan pada hari Minggu bahwa Selat Hormuz akan tetap ditutup “sampai AS memenuhi komitmennya” berdasarkan perjanjian perdamaian sementara yang ditandatangani pada bulan Juni. AS juga terus memberlakukan blokade terhadap pelabuhan Iran di selatan.
Badan Operasi Maritim Inggris mengatakan tingkat ancaman di jalur air tersebut masih parah. Sejauh ini setidaknya ada tiga serangan yang dilaporkan terhadap kapal dalam tiga hari terakhir.
(sef/sef)
(Gambas: Video CNN)
Konten di atas dibuat oleh pihak ketiga. Redaksi tidak bertanggung jawab atas isi maupun akibat yang ditimbulkan oleh konten ini. Agregator artikel oleh JetMedia Digital Agency












