Oleh Ikram Putrapengamat kebijakan publik, mantan editor BenarNews (Radio Free Asia).
Di tengah riuhnya panggung politik, janji-janji manis menjadi komoditas yang paling laris. Salah satu contohnya adalah janji makanan gratis yang dilontarkan Prabowo Subianto pada kampanye 2024.
Di telinga calon pemilih, janji ini sangat idealis dan mulia: makanan berprotein tinggi gratis dibagikan kepada puluhan juta anak sekolah dan ibu hamil di seluruh tanah air.
Orang gila mana yang sanggup melewatkan janji seperti itu? Apalagi, makanan gratis dipasarkan sebagai kunci pembuka pintu Indonesia Emas 2045 di negara yang anak-anaknya terancam. pengerdilan Ini.
Dengan makan gratis, anak-anak akan lebih sehat, fokus belajar meningkat, roda perekonomian berputar lebih cepat – karena bahan baku pangan akan dibeli langsung dari petani, peternak, dan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) yang ada di sekitar sekolah.
Namun saat ini kita menyadari bahwa terdapat kesenjangan yang sangat besar antara janji-janji politik dan kenyataan teknis di lapangan.
Apa yang tidak pernah diungkapkan oleh Prabowo kepada publik adalah betapa rumitnya memobilisasi rantai pasokan pangan untuk puluhan juta orang setiap hari.
Dan, seberapa besar risiko kerentanan yang mengintai jika eksekusi kebijakan dilakukan secara tergesa-gesa demi mengejar target politik belaka.

Yang tidak diceritakan oleh Prabowo: program ini mengancam nyawa
Memberi makan ribuan anak di ribuan lokasi berbeda merupakan operasi logistik pangan berskala raksasa yang memerlukan standar sanitasi yang tinggi, rantai pendingin yang terjaga, dan kontrol kualitas yang sangat ketat.
Di berbagai daerah, krisis ini telah memakan korban jiwa.
Makanan yang disajikan dalam keadaan basi, tersusun dari bahan baku berkualitas rendah, atau terkontaminasi bakteri akibat pengolahan dan distribusi yang terlalu lama di jalan merupakan pemandangan yang menakutkan bagi para orang tua.
Banyak penyedia dapur terpaksa beroperasi dalam skala besar tanpa diberikan sertifikasi kesesuaian pengolahan makanan yang memadai. Kecepatan dan kuantitas lebih diutamakan daripada kualitas dan keamanan.
Niat awalnya disebut-sebut untuk membebaskan anak dari ancaman pengerdilan malah berubah menjadi ancaman kesehatan akut yang membawa anak-anak ke Ruang Gawat Darurat (UGD).
Yang tidak dibicarakan oleh Prabowo: beban anggaran dan pengorbanan sektor pendidikan
Program ini juga memicu distorsi besar dalam tata kelola keuangan negara. Betapa tidak, anggaran program ini mencapai ratusan triliun rupiah per tahun.
Angka yang sangat besar tersebut secara langsung memberikan tekanan terhadap Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) yang sudah terbebani oleh pembayaran utang dan ketidakpastian perekonomian global.
Sektor Pendidikan Menjadi Korban

Untuk mendapatkan dana segar bagi distribusi pangan ini, pemerintah terpaksa melakukan efisiensi dan pergeseran anggaran secara besar-besaran. Sayangnya, sektor yang paling terkena dampak pengalihan anggaran ini adalah sektor pendidikan.
Alokasi dana untuk perbaikan fasilitas sekolah yang rusak, pembangunan ruang kelas baru di daerah terpencil, serta peningkatan kesejahteraan dan gaji guru honorer terpaksa dipotong atau ditunda.
Ironi besarnya terlihat jelas: anak-anak boleh saja mendapat sekotak makanan di meja mereka, namun mereka harus memakannya di bawah atap sekolah yang hampir roboh, didukung oleh guru-guru yang belum sejahtera.
Pendidikan diposisikan seolah-olah hanya soal perut kenyang, sementara mengabaikan kualitas literasi, infrastruktur pembelajaran, dan kualitas pengajaran yang sejatinya menjadi tumpuan utama pengembangan sumber daya manusia.
Apa yang tidak diceritakan oleh Prabowo: rantai pasokan yang berantakan dan monopoli vendor
Impian bahwa program ini akan membangkitkan perekonomian masyarakat akar rumput melalui pemberdayaan UMKM lokal juga terbukti hanya isapan jempol belaka.
Dalam praktiknya, permintaan pangan dalam jumlah yang sangat besar dalam waktu singkat justru membuat penyedia pangan skala kecil lokal kewalahan. UMKM, petani kecil, dan peternak lokal yang dijanjikan hasil panen menguntungkan justru tersingkir dari ekosistem.
Sebaliknya, proyek pengadaan pangan dan distribusi katering berskala besar jatuh ke tangan vendor besar, korporasi, atau pihak yang dekat dengan lingkaran kekuasaan.
Baca Juga: Dua Tahun Prabowo (1): Antara Negara Kuat dan Pemerintahan Efektif
Akibatnya, muncul peluang baru terjadinya praktik rent-seeking, korupsi pengadaan barang, dan kurang transparannya penunjukan mitra kerja.
Di daerah terpencil, terdepan, dan terluar (3T), distribusi pangan segar seringkali terhambat karena buruknya infrastruktur transportasi.
Akibatnya makanan menjadi busuk sebelum dapat diolah, atau biaya meningkat berkali-kali lipat dari anggaran awal yang ditetapkan.
Pelajaran bagi Kami: Tepati Janji dan Peta Jalan

Tragedi makan gratis ini merupakan pengingat bahwa kebijakan publik yang berdampak pada jutaan nyawa tidak boleh dirancang berdasarkan retorika populis yang dangkal.
Populisme politik kerap membuai masyarakat dengan kata “bebas”. Namun, sebagai warga negara yang cerdas dan kritis, kita harus menyadari satu hukum dasar dalam perekonomian dan tata kelola negara: tidak ada yang namanya makan siang gratis.
Setiap rupiah yang dikeluarkan untuk program “gratis” selalu dibiayai dari pajak masyarakat atau dipotong hak-hak masyarakat di sektor vital lainnya.
Kita harus mengubah cara kita memandang pemimpin politik. Di masa depan, ketika seorang politisi menjajakan basa-basi atau hal-hal gratis, kita harus menjawabnya dengan pertanyaan-pertanyaan yang lebih mendasar:
-
Bagaimana skema detail pelaksanaan teknis di lapangan?
-
Dari mana sebenarnya anggarannya dan sektor apa saja yang dikorbankan?
-
Bagaimana bentuk pengawasan independen dan penjaminan mutu keselamatan?
Jika sebuah janji tidak dibarengi dengan peta jalan teknis yang rasional, transparan, dan teruji secara ilmiah, maka janji tersebut pada hakikatnya hanyalah bom waktu yang siap mengorbankan rakyat di masa depan.
Sudah saatnya kita berhenti menjadi penonton yang mudah terpengaruh, dan mulai menjadi pemilih cerdas yang menuntut akuntabilitas.***
Simak informasi publik, kebijakan & geopolitik dunia di channel tersebut Ada apa Dan Telegram Pendirian
Konten di atas dibuat oleh pihak ketiga. Redaksi tidak bertanggung jawab atas isi maupun akibat yang ditimbulkan oleh konten ini. Agregator artikel oleh JetMedia Digital Agency














