Kamis, 24 September 2026 – 11:03 WIB
BATANG, VIVA Jogja –Anggota DPR RI Yoyok Riyo Sudibyo menyoroti pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG) setelah ratusan warga di Kecamatan Bawang, Kabupaten Batang, mengalami gangguan kesehatan usai menyantap menu MBG.
276 Warga Terkena Dugaan Keracunan MBG di Bawang Batang, Diperiksa Sampel Makanannya
Yoyok datang langsung ke RSUD Kalisari Batang, Kamis (24/9/2026), untuk melihat kondisi sejumlah siswa dan orang tuanya yang sedang menjalani perawatan.
Kunjungan tersebut juga merupakan bagian dari fungsi pengawasan DPR terhadap pelaksanaan program pemerintah di daerah.
![]()
Bukit Srawung KITB Resmi Dibuka, Destinasi Wisata Baru di Tengah Kawasan Industri Batang
Dalam kunjungannya, Yoyok mengapresiasi langkah cepat pemerintah daerah dan petugas kesehatan dalam menangani para korban.
Namun, dia meminta agar pelaksanaan MBG dievaluasi secara menyeluruh, apalagi kasus serupa kembali terjadi di Kabupaten Batang.
![]()
Rizal Bawazier Soroti Koperasi Merah Putih: Anggaran Sudah Disiapkan, Penerapannya Harus Segera Dimulai
Menurutnya, gagasan pokok program MBG untuk meningkatkan asupan gizi masyarakat khususnya generasi muda merupakan kebijakan yang perlu dilaksanakan secara serius.
Permasalahan muncul ketika implementasi di tingkat bawah dinilai berpotensi bergeser dari tujuan awal program.
“Saya tidak menolak MBG, tidak, saya mengapresiasi kerja Presiden. Niat baik Presiden dalam memberikan makanan bergizi gratis itu baik.
“Hanya pada tataran pelaksanaan sampai ke bawah saja, orientasinya saya tidak tahu lagi,” kata Yoyok.
Ia mempertanyakan apakah pengelolaan MBG lebih diarahkan pada margin atau kepentingan bisnis dibandingkan menjamin kualitas pangan dan keamanan penerima manfaat.
“Kalau orientasinya bukan untuk menjelaskan perintah pertama Presiden, tapi berorientasi pada margin, berorientasi bisnis, sampai kapan Mas Daryono kuat memikirkan hal itu?” katanya.
Yoyok juga menyoroti beban produksi yang harus ditangani oleh Unit Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG).
Ia mengatakan, satu SPPG di Batang melayani sekitar 2.600 porsi sehingga memerlukan pengolahan dan pendistribusian dalam jumlah banyak dan waktu yang relatif singkat.
Padahal, satu SPPG menyajikan 2.600 porsi. Coba, 2.600 porsi itu harus dimasak dalam satu malam dan dibagikan dalam waktu bersamaan dan secepat mungkin, katanya.
Menurut dia, kapasitas produksi sebesar ini perlu dijadikan bahan evaluasi agar aspek keamanan pangan tidak dikalahkan oleh tuntutan distribusi dalam jumlah besar.
Kasus dugaan keracunan MBG di Kecamatan Bawang saja sudah berdampak pada 276 orang. Para korban dilaporkan mengalami sejumlah keluhan, antara lain mual, pusing, muntah, sakit perut, dan diare.
Halaman Berikutnya
Pemerintah daerah masih melakukan penanganan dan pendataan, sementara sampel makanan diperiksa untuk mengetahui penyebab pasti gangguan kesehatan tersebut.
Konten di atas dibuat oleh pihak ketiga. Redaksi tidak bertanggung jawab atas isi maupun akibat yang ditimbulkan oleh konten ini. Agregator artikel oleh JetMedia Digital Agency














