Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Kota Tangerang Raya menggelar aksi unjuk rasa di depan Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Tangerang, Banten, Jumat (6/11) sore. Aksi ini digelar untuk mendesak dilakukannya evaluasi komprehensif terhadap buruknya kualitas pelayanan kesehatan di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Kota Tangerang.
Dikawal ketat puluhan anggota Polres Metro Kota Tangerang dan Satpol PP Kota Tangerang, para mahasiswa tersebut menyuarakan keprihatinan masyarakat terhadap pelayanan RSUD yang dinilai tidak ramah, terutama kepada pasien yang membutuhkan pelayanan cepat.
“Kami terpaksa turun ke jalan, karena selama ini rumah sakit ditutup dan sulit membicarakan pelayanan yang buruk,” kata Ketua HMI Tangerang Raya, Asep Setiawan.
Usai memberikan orasi, perwakilan pengunjuk rasa diterima langsung oleh Direktur Utama RSUD Kota Tangerang Yusuf Alfian Geovanny beserta jajaran dan perwakilan Dinas Kesehatan Kota Tangerang. Dalam pertemuannya, Asep bercerita tentang pelayanan yang buruk, seperti lambatnya pengobatan hingga memicu kekecewaan pasien.
Untuk itu, ia mendesak pengambil kebijakan seperti Dinas Kesehatan, Pemerintah Kota Tangerang, dan DPRD Kota Tangerang segera mengevaluasinya. “Sebagai lembaga pengawasan dan penentu kebijakan, pemerintah daerah harus turun tangan secara langsung untuk merespons keresahan masyarakat,” tegasnya.
Jika, kata Asep, dalam waktu dekat tidak ada perubahan signifikan dan situasi pelayanan masih buruk, maka permasalahannya akan dibawa ke tingkat yang lebih tinggi, seperti kementerian dan lainnya.
Sementara itu, Direktur RSUD Kota Tangerang Yusuf Alfian Geovanny menegaskan, pihaknya akan mencoba melakukan evaluasi terkait layanan tersebut. Bahkan, kritik tersebut pun ia menyambut baik, agar segala kendala yang ada di lapangan mulai dari masalah antrian, pelayanan, hingga fasilitas bisa ditindaklanjuti.
Lebih lanjut Yusuf menjelaskan, untuk menangani antrian, pihaknya sebenarnya telah menerapkan inovasi sistem registrasi berbasis digital untuk memangkas alur birokrasi penanganan pasien.
Meski begitu, ia tidak memungkiri bahwa permasalahan teknis pada server berbasis internet terkadang masih menjadi kendala yang menimbulkan permasalahan pada loket pendaftaran, laboratorium, dan bagian kedokteran. Untuk menyiasatinya, kata dia, pihak rumah sakit menerapkan sistem penanganan cepat (manual backup) jika server mengalami kendala.
Terkait persoalan keterbatasan kapasitas ruangan, seperti ruang rawat inap atau ICU yang kerap penuh, Yusuf menjelaskan penanganan pasien tetap berpedoman pada aturan dan standar pelayanan yang berlaku.
Jika kapasitas rumah sakit sudah penuh atau tidak sesuai spesifikasi kasus pasien (seperti memisahkan pasien menular dan tidak menular), maka rumah sakit menerapkan mekanisme Sisrute (Sistem Rujukan Terpadu) untuk merujuk pasien ke fasilitas kesehatan lain di Kota/Kabupaten Tangerang.
(P-4)
Konten di atas dibuat oleh pihak ketiga. Redaksi tidak bertanggung jawab atas isi maupun akibat yang ditimbulkan oleh konten ini. Agregator artikel oleh JetMedia Digital Agency














