SUKABUMISATU.COM, Jakarta – Setiap detik menjadi sangat berharga ketika gempa bumi meruntuhkan bangunan dan membuat korban terjebak di bawah reruntuhan. Kecepatan, ketepatan dan koordinasi antar tim penyelamat menjadi faktor penentu keberhasilan operasi pencarian dan penyelamatan.
Permasalahan ini menjadi perhatian Kepala Badan Pencarian dan Pertolongan Nasional (Basarnas), Marsekal TNI Mohammad Syafii, melalui penelitian disertasinya tentang penguatan tata kelola tim Indonesia Urban Search and Rescue (USAR).
Penelitian bertajuk “Model Tata Kelola Strategis Kompetensi Tim USAR Multi-Stakeholder Berbasis Pedoman INSARAG di Indonesia (Model OC-USAR)” dipaparkan pada Sidang Review Naskah Disertasi Program Doktor Administrasi Publik Universitas Muhammadiyah Jakarta (UMJ), Jumat (6/11/2026).
Dalam penelitiannya, Mohammad Syafii menekankan pentingnya integrasi kemampuan personel, pembagian tugas yang jelas, dan koordinasi lintas lembaga dalam menangani operasi penyelamatan korban bencana khususnya gempa bumi.
“Saat korban terjebak di reruntuhan, seluruh kemampuan penyelamatan harus bekerja secara terintegrasi. Kompetensi personel, kejelasan peran, dan koordinasi lintas lembaga menjadi kunci untuk memastikan penyelamatan terjadi dengan cepat, tepat dan aman,” kata Mohammad Syafii.
Penelitian ini mengidentifikasi empat tantangan utama dalam mengelola tim USAR di Indonesia. Hal tersebut antara lain kesenjangan kompetensi antar lembaga, dualisme komando operasional antara SAR Mission Coordinator (SMC) dan Incident Command System (ICS), fragmentasi tata kelola, dan terbatasnya kemampuan di 45 daerah dalam proses akreditasi nasional.
Untuk menjawab permasalahan tersebut, Model OC-USAR menawarkan lima pilar penguatan, yaitu regulasi dan kewenangan, pembagian kompetensi, koordinasi operasional terjadwal, pengembangan database kompetensi Indonesia Search and Rescue–Commonwealth of Independent States (INASAR-CIS), serta keberlanjutan dan replikasi tim nasional USAR.
Model ini dirancang untuk mengintegrasikan keunggulan 11 kementerian dan lembaga, sekaligus mendukung pelaksanaan operasi pencarian dan penyelamatan berdasarkan pedoman International Search and Rescue Advisory Group (INSARAG).
Selain itu, gagasan ini diharapkan dapat memperkuat kesiapan INASAR untuk mencapai klasifikasi INSARAG kategori Berat pada tahun 2028.
Hasil penelitian ini diharapkan menjadi rekomendasi kebijakan bagi pemerintah dalam membangun sistem penyelamatan yang lebih profesional, terintegrasi dan memiliki standar kompetensi.
Dengan penguatan tata kelola, diharapkan tim penyelamat nasional lebih siap menghadapi situasi darurat, sehingga peluang penyelamatan korban bencana dapat lebih besar di tengah keterbatasan waktu dan tingginya risiko di lapangan.
Reporter: Suhendi Soex
Konten di atas dibuat oleh pihak ketiga. Redaksi tidak bertanggung jawab atas isi maupun akibat yang ditimbulkan oleh konten ini. Agregator artikel oleh JetMedia Digital Agency














