Wakil Ketua Umum Partai Hanura Patrice Rio Capella meminta Presiden Prabowo Subianto membentuk kabinet yang mengedepankan profesionalisme dan kompetensi, bukan sekedar mengakomodasi kepentingan kepentingan politik.
Menurut Rio, Presiden perlu mengevaluasi susunan kabinet agar para menteri mampu menerjemahkan gagasan besar pemerintah menjadi program yang efektif dan sesuai dengan tujuan yang telah ditetapkan.
Jadi menurut saya kabinet zaken harusnya menjadi orientasi Pak Prabowo sebagai presiden yang punya konsep besar, kata Rio dalam keterangannya, Rabu (28/10/2026).
Ia menilai gagasan-gagasan yang diusung Prabowo, termasuk program Makan Bergizi Gratis (MBG) dan Koperasi Desa Merah Putih, memerlukan dukungan menteri yang memiliki kemampuan dalam melaksanakan kebijakan secara tepat.
Rio juga menyarankan agar Prabowo mempertimbangkan perampingan dan perombakan kabinet pada awal tahun 2027. Ia menegaskan, pengisian jabatan menteri harus didasarkan pada kemampuan dan profesionalisme, bukan semata-mata kedekatan politik.
“Prabowo harus tegas, tidak lagi merekrut anggota kabinet hanya untuk membalas budi sebagai bagian dari tim pendukung atau tim sukses,” kata Rio.
Rio menilai sejumlah program yang diusung Prabowo dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka memiliki tujuan sosial yang penting bagi masyarakat.
Ia mencontohkan program MBG yang bertujuan untuk memenuhi kebutuhan gizi anak Indonesia. Sedangkan Koperasi Desa Merah Putih diharapkan dapat membantu petani mengatasi permasalahan distribusi hasil pertanian dan mengurangi ketergantungan terhadap tengkulak.
Meski mengapresiasi gagasan tersebut, Rio menilai permasalahan utama terletak pada implementasi di tingkat kementerian. Menurut dia, gagasan dan tujuan program yang telah dirancang pemerintah belum tentu dapat terwujud secara maksimal jika tidak didukung oleh menteri yang kompeten.
Konsep sosialisme ala Indonesia, meliputi pangan, sekolah, lalu koperasi, menurut saya itu ide yang bagus. Masalahnya di tataran penerapannya, tidak bisa diterjemahkan, katanya.
Oleh karena itu, Rio meminta Prabowo memastikan setiap menteri memahami arah kebijakan Presiden dan mampu menerjemahkannya menjadi langkah nyata yang bermanfaat bagi masyarakat.
Selain menyoroti pelaksanaan program pemerintah, Rio juga menyinggung soal reshuffle kabinet yang beberapa kali dilakukan selama dua tahun pemerintahan Prabowo-Gibran.
Menurut dia, tingginya frekuensi reshuffle perlu dijadikan bahan evaluasi untuk melihat keselarasan antara gagasan Presiden dengan kemampuan pejabat kabinet dalam menjalankan kebijakan.
“Kalau dalam dua tahun terjadi tujuh atau delapan reshuffle, itu menunjukkan tidak ada sinergi antara ide besar dengan tingkat penerapan atau penerjemahan pemikiran Presiden,” kata Rio.
Anak buah Oesman Sapta Odang berharap evaluasi kabinet bisa mendorong terbentuknya pemerintahan yang lebih profesional dan efektif. Dengan begitu, program-program prioritas Presiden dapat terlaksana secara maksimal sesuai dengan target yang telah ditetapkan.
Konten di atas dibuat oleh pihak ketiga. Redaksi tidak bertanggung jawab atas isi maupun akibat yang ditimbulkan oleh konten ini. Agregator artikel oleh JetMedia Digital Agency














