Jelang 2 Tahun Pemerintahan Prabowo: Ini 7 Indikator Perekonomian Terkini

- Redaksi

Jumat, 2 Oktober 2026

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy


Jakarta, CNBC Indonesia – Kuartal terakhir tahun 2026 resmi dimulai pada Kamis (1/10/2026). Periode ini bertepatan dengan mendekati dua tahun pemerintahan Presiden Prabowo Subianto pada 20 Oktober mendatang.

Kedua momen ini merupakan saat yang tepat untuk melihat kembali kondisi perekonomian Indonesia. Terlebih lagi, data terbaru menunjukkan gambaran yang cukup beragam.

Perekonomian masih mampu tumbuh di atas 5% dan investasi meningkat cukup pesat. Kepercayaan konsumen dan penjualan ritel juga mulai membaik. Namun, tekanan tersebut belum sepenuhnya hilang. Inflasi kembali meningkat, nilai tukar rupiah masih melemah, impor tumbuh jauh lebih tinggi dibandingkan ekspor, dan jumlah pekerja yang terkena PHK semakin meningkat.

Berikut gambaran perekonomian Indonesia memasuki kuartal keempat tahun 2026 jelang dua tahun pemerintahan Prabowo.

1. Perekonomian Masih Tumbuh Di Atas 5%

Data pertumbuhan ekonomi terkini masih berasal dari triwulan II tahun 2026. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat perekonomian Indonesia tumbuh 5,29% secara tahunan (tahun ke tahun/yoy).

Pertumbuhan memang melambat dibandingkan triwulan I 2026 yang mencapai 5,61%. Meski demikian, secara keseluruhan perekonomian Indonesia masih tumbuh 5,45% sepanjang semester I tahun ini.


Konsumsi rumah tangga masih menjadi penopang utama. Komponen ini tumbuh 5,06% dan memberikan kontribusi 2,67 poin persentase terhadap pertumbuhan ekonomi.

Belanja pemerintah juga meningkat sebesar 15,97% didorong oleh pembayaran gaji ke-13 serta peningkatan belanja pegawai, barang, dan jasa. Di sisi lain, ekspor hanya tumbuh 4,13%, sedangkan impor melonjak 8,82%.

Kondisi ini menunjukkan mesin perekonomian dalam negeri masih berjalan. Namun, pertumbuhan impor lebih tinggi dibandingkan ekspor, sehingga perdagangan luar negeri tidak banyak membantu pertumbuhan.

Bagaimana dengan per kapita?

Untuk melihat pembangunan ekonomi dari sudut pandang jumlah penduduk, indikator yang dapat digunakan adalah PDB per kapita.

Data tahunan terkini menunjukkan PDB per kapita Indonesia akan mencapai Rp83,7 juta atau sekitar US$5.083 pada tahun 2025. Angka tersebut meningkat dibandingkan tahun 2024 yang sebesar Rp78,6 juta atau US$4.960.


Secara nominal, PDB per kapita dalam rupiah meningkat sekitar 6,5%. Meski demikian, angka tersebut bukan berarti setiap penduduk Indonesia memiliki pendapatan sebesar Rp 83,7 juta per tahun.

PDB per kapita hanya membagi nilai perekonomian nasional dengan jumlah penduduk. Indikator ini belum menunjukkan bagaimana pendapatan didistribusikan atau seberapa besar kenaikan biaya hidup yang dirasakan masyarakat.

Oleh karena itu, kenaikan PDB per kapita tetap perlu dibaca bersama dengan data kemiskinan, ketimpangan, lapangan kerja, dan konsumsi masyarakat.

2. Inflasi Kembali Meningkat

Memasuki triwulan terakhir tahun 2026, tekanan harga mulai meningkat.

BPS mencatat inflasi Indonesia akan mencapai 3,28% secara tahunan pada September 2026. Angka tersebut meningkat dari 3,19% pada Agustus dan 2,88% pada Juli. Meski meningkat, inflasi masih berada dalam target Bank Indonesia sebesar 2,5% plus minus 1%.

Secara bulanan, harga barang dan jasa naik 0,30%. Sedangkan inflasi awal tahun hingga September tercatat sebesar 2,17%.


Kenaikan harga kembali dirasakan sejumlah kebutuhan sehari-hari, khususnya pangan. Harga cabai, beras, telur, dan daging ayam merupakan beberapa komoditas penyumbang inflasi bulanan.

Inflasi yang masih sesuai target tentu tidak mengkhawatirkan. Namun posisinya semakin mendekati batas atas target BI sebesar 3,5%.

Jika harga pangan dan energi terus meningkat, ruang bagi Bank Indonesia untuk menurunkan suku bunga juga akan semakin terbatas.

3. Kepercayaan Konsumen Mulai Pulih

Kabar cukup baik datang dari Indeks Kepercayaan Konsumen (IKK).

Survei Konsumen Bank Indonesia menunjukkan IKK naik dari 116,8 pada Juli menjadi 118,5 pada Agustus 2026. Angka tersebut masih di atas 100, menunjukkan masyarakat masih optimis terhadap kondisi perekonomian.


Penilaian masyarakat terhadap kondisi perekonomian saat ini juga membaik. Indeks Kondisi Perekonomian Saat Ini meningkat dari 107,9 menjadi 109,4.

Sedangkan Indeks Ekspektasi Konsumen naik dari 125,7 menjadi 127,6. Peningkatan ini menunjukkan masyarakat sedikit lebih percaya diri terhadap pendapatan, peluang kerja, dan aktivitas usaha dalam beberapa bulan ke depan.

Namun perbaikan masih perlu dilihat dalam beberapa bulan ke depan. Kepercayaan konsumen bisa berubah lagi jika harga kebutuhan pokok naik atau pasar tenaga kerja memburuk.

4. Penjualan Ritel Kembali Tumbuh

Pemulihan juga terlihat pada penjualan ritel.

Indeks Penjualan Riil tumbuh 1,1% secara tahunan pada bulan Juli 2026. Hasil ini membaik setelah penjualan ritel mengalami kontraksi sebesar 3% pada bulan Juni dan 3,9% pada bulan Mei.

Bank Indonesia memperkirakan penjualan ritel masih tumbuh 0,5% pada Agustus. Pertumbuhan tersebut terutama ditopang oleh penjualan suku cadang dan aksesoris serta kelompok makanan, minuman, dan tembakau.


Kembalinya penjualan ritel ke zona positif menandakan belanja masyarakat mulai pulih setelah sempat melemah pada pertengahan tahun.

Namun pertumbuhannya masih kecil. Kondisi ini menunjukkan konsumen masih berbelanja, namun belum berani meningkatkan belanja secara besar-besaran.

5. Neraca Perdagangan Kembali Surplus Besar

Kinerja perdagangan Indonesia akan membaik cukup tajam pada Agustus 2026.

BPS mencatat surplus neraca perdagangan sebesar US$3,55 miliar. Nilai tersebut melonjak dibandingkan surplus tipis sebesar US$122 juta pada bulan Juli dan menjadi surplus bulanan terbesar sejak September 2025.

Ekspor mencapai US$26,61 miliar atau tumbuh 6,72% secara tahunan. Sedangkan impor tercatat sebesar US$23,06 miliar dan meningkat jauh lebih tinggi sebesar 19,09%.


Sepanjang Januari-Agustus 2026, Indonesia masih membukukan surplus perdagangan sebesar US$7,25 miliar. Surplus tersebut berasal dari perdagangan nonmigas sebesar US$28,54 miliar, namun tergerus oleh defisit migas yang mencapai US$21,29 miliar.

Ekspor logam membantu mendukung perbaikan, termasuk nikel, besi dan baja, serta aluminium. Namun pertumbuhan impor yang jauh lebih tinggi dibandingkan ekspor tetap perlu diperhatikan.

Selain itu, neraca transaksi berjalan pada kuartal II mengalami defisit sebesar US$12,5 miliar atau setara 3,3% PDB. Defisit yang semakin melebar menunjukkan kebutuhan devisa Indonesia masih cukup besar meski neraca perdagangan barang sudah kembali surplus.

6. Rupiah Masih Tertekan

Memasuki bulan Oktober, rupiah belum mampu lepas dari tekanan. Merujuk data Refinitivrupiah dibuka melemah ke Rp. 17.885/US$ pada perdagangan Kamis (1/10/2026). Dibandingkan posisi akhir tahun 2025 sebesar Rp 16.670/US$, mata uang Garuda melemah sekitar 7,3%.


Pelemahan nilai tukar rupiah dipengaruhi oleh penguatan dolar AS, tingginya kebutuhan mata uang asing untuk impor, ketidakpastian pasar global, serta kekhawatiran terhadap kondisi fiskal dan transaksi berjalan Indonesia.

Kondisi ini perlu diperhatikan karena sekitar 70% impor Indonesia berupa bahan baku dan bahan penolong. Ketika dolar menjadi lebih mahal, biaya yang harus dikeluarkan perusahaan untuk mengimpor bahan produksi juga meningkat.

Jika kenaikan biaya dibebankan kepada konsumen, harga barang di dalam negeri juga bisa meningkat. Namun jika perseroan memilih menahannya, maka keuntungan perseroan berpotensi berkurang.

7. Jumlah PHK justru meningkat

Meskipun terdapat perbaikan pada sejumlah indikator, kondisi pasar tenaga kerja masih berada dalam tekanan.

Kementerian Ketenagakerjaan mencatat sebanyak 53.490 pekerja dilaporkan terkena PHK melalui sistem Jaminan Kehilangan Pekerjaan selama Januari-Agustus 2026.

Jumlah ini meningkat 20,65% dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebanyak 44.333 pekerja. Jawa Barat mencatat jumlah tenaga kerja terbanyak sebanyak 10.880 orang, disusul Banten sebanyak 6.303 orang, dan Jawa Timur sebanyak 5.400 orang.


Data ini tidak menggambarkan seluruh kasus PHK di Indonesia karena hanya mencakup pekerja yang terdaftar di sistem JKP. Angka tersebut juga dapat berubah karena pekerja memiliki waktu hingga enam bulan untuk mengajukan klaim.

Secara lebih luas, jumlah penduduk yang bekerja masih terus meningkat. Hingga Februari 2026, jumlah penduduk bekerja bertambah 1,90 juta orang menjadi 147,67 juta orang. Tingkat Pengangguran Terbuka pun turun dari 4,76% menjadi 4,68%.

Perbedaan ini menunjukkan masih terciptanya lapangan kerja baru, namun pada saat yang sama cukup banyak pekerja formal yang kehilangan pekerjaan. Tekanan terutama dirasakan di kawasan industri dan sektor padat karya.

RISET CNBC INDONESIA

(dilindungi email)

(evw/evw)

Konten di atas dibuat oleh pihak ketiga. Redaksi tidak bertanggung jawab atas isi maupun akibat yang ditimbulkan oleh konten ini. Agregator artikel oleh JetMedia Digital Agency

Berita Terkait

Hadiri Kelas Kader di Mojokerto, Anies Minta Kader Gerakan Rakyat Utamakan Gagasan – Kempalan.com
Hadapi Dejan FC, Persipura Kehilangan Lima Pemain – Nokenlive
Pemkab Biak Numfor Dorong Potensi Ikan Lokal untuk Dukung Program MBG
Demo di Cirebon, Pengemudi Ojol Blokir Gerbang Balaikota
Viral, Ambulans Bawa Pasien Kritis Ditahan Rombongan Aparat, Anak Teriak Histeris Minta Buka Jalan
Indonesia Kerahkan 1.000 Tim Penyelamat untuk Mencari Korban Kapal Feri yang Tenggelam
Ratusan Buruh Demo di Depan Kantor Gubernur Jatim Tuntut Kenaikan UMK 2027
Insentif SPPG tak lagi Rp 6 juta per hari, ini jumlah terbaru yang diambil dari alokasi Rp 15 ribu
Tag :

Berita Terkait

Jumat, 2 Oktober 2026 - 13:55 WIB

Hadiri Kelas Kader di Mojokerto, Anies Minta Kader Gerakan Rakyat Utamakan Gagasan – Kempalan.com

Jumat, 2 Oktober 2026 - 13:35 WIB

Hadapi Dejan FC, Persipura Kehilangan Lima Pemain – Nokenlive

Jumat, 2 Oktober 2026 - 13:15 WIB

Pemkab Biak Numfor Dorong Potensi Ikan Lokal untuk Dukung Program MBG

Jumat, 2 Oktober 2026 - 12:55 WIB

Demo di Cirebon, Pengemudi Ojol Blokir Gerbang Balaikota

Jumat, 2 Oktober 2026 - 12:35 WIB

Jelang 2 Tahun Pemerintahan Prabowo: Ini 7 Indikator Perekonomian Terkini

Berita Terbaru

Headline

Demo di Cirebon, Pengemudi Ojol Blokir Gerbang Balaikota

Jumat, 2 Okt 2026 - 12:55 WIB