SIDOARJOterbaru — Program Bangga Kencana tidak lagi sebatas urusan Keluarga Berencana (KB). Pembinaan keluarga, pencegahan stunting, peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM), dan penguatan peran orang tua dalam tumbuh kembang anak merupakan bagian penting dari program tersebut.
Hal tersebut mengemuka dalam Sosialisasi dan KIE bersama Mitra se-Provinsi Jawa Timur di Desa Tambaksumur Kabupaten Sidoarjo, Sabtu (19/9/2026). Kegiatan tersebut menghadirkan Anggota Komisi IX DPR RI Indah Kurnia, Ketua Tim Kerja Perencanaan dan Keuangan, Perwakilan BKKBN Jawa Timur, Dr. Sofyan Rizalanda, M.Kes., dan Kepala Dinas P3AKB Sidoarjo Heni Kristen, S.Pd., MM
Indah Kurnia mengatakan hingga saat ini masyarakat masih mengidentikkan BKKBN dengan program KB. Bahkan, setelah bertransformasi menjadi bagian dari Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/BKKBN, cakupan tugasnya semakin luas.
“Kalau tadi kita bicara BKKBN, yang langsung terlintas di pikiran adalah KB. Semua harus direncanakan. Apapun itu, perencanaan harus diutamakan,” kata Indah.
Menurutnya, pembangunan keluarga dan sumber daya manusia merupakan bagian penting dalam mempersiapkan Indonesia menuju tahun 2045. Termasuk memastikan bonus demografi yang ada saat ini dapat dipersiapkan dan dikelola dengan baik.
“Melalui kegiatan ini setidaknya kita merencanakan bagaimana mempersiapkan diri menuju Indonesia Emas 2045. Bonus demografi perlu kita persiapkan mulai dari sekarang agar benar-benar bisa menjadi bonus,” ujarnya.
Indah juga menyebutkan sejumlah program yang tengah didorong bersama kementerian/lembaga mitra, salah satunya SMK Go Global untuk memperluas peluang dan kesiapan generasi muda menghadapi dunia kerja.
Sementara itu, dr Sofyan Rizalanda menekankan pentingnya mencegah stunting sejak dini. Menurutnya, permasalahan gizi buruk kronis dan infeksi berulang tidak bisa diatasi secara memadai saat anak lahir, melainkan harus disiapsiagai sejak remaja.
“Upaya pencegahan gizi buruk kronis tidak hanya dimulai pada masa kehamilan saja, namun perlu dipersiapkan sejak usia remaja,” jelasnya.
Ia mendorong keluarga untuk memperhatikan kebutuhan kesehatan dan gizi remaja putri sebagai bagian persiapan membangun generasi sehat dan berkualitas.
Sejumlah program pembangunan keluarga yang dijalankan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan/BKKBN antara lain GENTING, SIAYA dan GATI.
Di sisi lain, Heni Kristen menjelaskan sejumlah permasalahan keluarga yang masih menjadi perhatian di Sidoarjo, mulai dari stunting, perkawinan anak, keluarga dengan perempuan sebagai kepala keluarga, HIV/AIDS, keluarga berisiko stunting, hingga rendahnya partisipasi laki-laki dalam program KB.
Menurut Heni, keterlibatan ayah dalam tumbuh kembang anak juga perlu diperkuat. Tantangan keluarga di era digital, termasuk penggunaan media sosial dan perlindungan anak, juga perlu mendapat perhatian.
“Berbagai permasalahan tersebut memerlukan keterlibatan keluarga, masyarakat, dan pemerintah secara bersama-sama,” ujarnya.
Kegiatan tersebut juga mencakup dialog dengan masyarakat. Sejumlah peserta mengangkat isu terkait kesehatan reproduksi remaja, menstruasi, bantuan bagi keluarga kurang mampu, dan program remaja di sekolah.
Menyikapi hal tersebut, Sofyan mendorong penguatan Pusat Informasi dan Konseling Remaja (PIK-R) di sekolah. Forum ini dinilai dapat menjadi ruang bagi remaja untuk memperoleh informasi, edukasi, dan pendampingan melalui pendekatan teman sebaya.
Kegiatan ini menjadi ruang dialog antara masyarakat, DPR RI, Kemendukbangga/BKKBN dan Pemerintah Kabupaten Sidoarjo untuk memperkuat pemahaman tentang pembangunan keluarga sekaligus menyerap berbagai permasalahan yang dihadapi masyarakat. (cles)
Konten di atas dibuat oleh pihak ketiga. Redaksi tidak bertanggung jawab atas isi maupun akibat yang ditimbulkan oleh konten ini. Agregator artikel oleh JetMedia Digital Agency














