Reporter: Ahmad Fadillah | Editor: Bambang Irawan
BALIKPAPAN – Kalimantan Timur (Kaltim) masih menghadapi kondisi musim kemarau dengan curah hujan yang sangat rendah.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memperkirakan wilayah Kalimantan Timur akan mulai memasuki musim hujan pada November 2026, setelah melalui masa transisi pada Oktober.
Kepala Stasiun Meteorologi (SAMS) Sultan Aji Muhammad Sulaiman BMKG Sepinggan Balikpapan Djoko Sumardiono mengatakan, kondisi pada September masih didominasi musim kemarau sehingga pasokan air di sejumlah wilayah masih perlu mendapat perhatian.
Artinya bulan September ini masih kemarau. Artinya kita masih musim kemarau. Jadi curah hujan masuk kategori sangat rendah, kata Djoko, Minggu (20/9/2026).
Memasuki bulan Oktober, kondisi cuaca diperkirakan mulai berubah seiring peralihan atau masa peralihan dari musim kemarau ke musim hujan.
Sedangkan pada bulan November, Kalimantan Timur diperkirakan mulai memasuki musim hujan. Meski demikian, Djoko mengatakan, waktu pasti dimulainya musim hujan masih menunggu hasil analisis dan rilis resmi Stasiun Meteorologi APT Pranoto Samarinda BMKG sebagai Wajib Klimatologi di wilayah Benua Etam.
Insya Allah bulan November kita akan memasuki musim hujan. Tapi lebih tepatnya kita lihat press release teman-teman di APT Pranoto Klimatologi, ujarnya.
Namun datangnya musim hujan tidak serta merta membuat curah hujan tahun ini sama dengan tahun sebelumnya.
Djoko mengatakan, ada pengaruh El Nino yang menyebabkan curah hujan diperkirakan akan lebih rendah.
Sebagai gambaran, jika pada bulan November lalu curah hujan bisa mencapai 200 hingga 300 milimeter dalam sebulan, maka tahun ini diperkirakan bisa di bawah 200 milimeter.
Artinya masih akan terjadi hujan, hanya saja karena tahun ini merupakan tahun El Nino, curah hujannya tidak seperti tahun-tahun sebelumnya, jelasnya.
Di tengah kondisi tersebut, Balikpapan beberapa hari terakhir mengalami cuaca mendung.
BMKG menjelaskan, kondisi tersebut tidak seluruhnya disebabkan oleh kabut asap.
Djoko mengatakan, tiga hari sebelumnya sudah ada asap yang masuk ke wilayah Kaltim.
Pergerakan asap berasal dari sejumlah wilayah di Kalimantan dan dipengaruhi oleh kondisi angin yang lebih lemah.
“Asapnya dikirim asap. Aromanya benar-benar terasa,” ujarnya.
Namun untuk kondisi Balikpapan saat ini, kekeruhan lebih dominan akibat pertumbuhan awan.
Berdasarkan pengamatan di udara bagian atas, cukup banyak awan rendah yang berpotensi berkembang menjadi awan hujan.
Namun pertumbuhan awan belum maksimal karena lapisan udara di atas sekitar 3.000 meter masih tergolong kering.
Kondisi ini membuat awan cepat menguap dan tidak berkembang menjadi hujan deras.
Meski begitu, hujan ringan mulai terjadi di sejumlah wilayah. Menurut Djoko, kondisi tersebut menjadi indikasi pertumbuhan awan konvektif di Kaltim mulai meningkat.
Meski tidak lebat, tapi kemarin hanya gerimis. Ini indikasi awan konvektif sudah mulai tumbuh di wilayah Kaltim, ujarnya.
Untuk membantu meningkatkan peluang terjadinya hujan, Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) juga telah dilakukan di Kalimantan Timur.
Posko OMC berada di Samarinda dan penyemaian dilakukan di wilayah yang berpotensi tumbuhnya awan.
Namun Balikpapan belum menjadi kawasan optimal untuk penyemaian karena pertumbuhan awan masih minim.
“Untuk Balikpapan sendiri, karena pertumbuhan awannya kurang, kami tidak sempat menyemainya,” kata Djoko.
Selain faktor awan, kondisi angin juga menjadi kendala. Saat ini angin yang bergerak dari daerah pantai ke arah utara membuat penyemaian di Balikpapan semakin sulit dilakukan.
Sebaliknya, pertumbuhan awan yang lebih masif terjadi di wilayah utara Kalimantan Timur, termasuk Berau.
Kondisi ini membuat wilayah tersebut lebih mungkin untuk diunggulkan.
Djoko mengatakan, OMC yang dilaksanakan sekitar 15 hingga 17 September ini bertepatan dengan perkembangan awan hujan yang cukup luas di sejumlah wilayah Kaltim. Usai dilakukan penyemaian, hujan kemudian turun di beberapa wilayah.
Namun penerapan OMC tidak bisa dilakukan di sembarang lokasi. Keberhasilannya sangat bergantung pada keberadaan seedable cloud dan ketersediaan armada.
“Misalnya di Balikpapan kita mau melakukan penyemaian tapi ternyata tidak ada awan, itu tidak mungkin,” jelasnya.
Selain keterbatasan pertumbuhan cloud, ketersediaan armada OMC juga berarti penyemaian harus dilakukan di wilayah prioritas.
Soal bahan yang digunakan, Djoko memastikan proses penyemaiannya menggunakan garam berbutir sangat halus.
Katanya, bahan tersebut bukan bahan kimia berbahaya dan akan larut jika tercampur air. Oleh karena itu, hujan buatan yang turun tidak berbahaya bagi kesehatan.
“Yang kita sebarkan itu garam. Garam itu cair. Kalau ketemu air konsentrasinya berkurang. Tidak berbahaya bagi kesehatan,” ujarnya.
Dijelaskannya, jumlah bahan yang digunakan dalam proses penyemaian bisa mencapai sekitar satu ton.
Namun bahan ini terdistribusi dalam bentuk partikel yang sangat halus sehingga bila jatuh bersama hujan konsentrasinya menjadi sangat rendah.
Djoko menambahkan, OMC bukan berarti bisa menghasilkan hujan tanpa awan. Pengoperasian ini masih memerlukan kondisi atmosfer yang mendukung dan pertumbuhan awan.
Oleh karena itu, dengan kondisi Kalimantan Timur yang masih dalam masa kering, penerapan OMC harus menyesuaikan dengan perkembangan cloud di masing-masing wilayah.
Sementara itu, masyarakat masih diminta menunggu informasi resmi BMKG terkait kepastian awal musim hujan di Kaltim yang diperkirakan akan mulai pada November mendatang.
Konten di atas dibuat oleh pihak ketiga. Redaksi tidak bertanggung jawab atas isi maupun akibat yang ditimbulkan oleh konten ini. Agregator artikel oleh JetMedia Digital Agency














