Mantan Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa digadang-gadang menjadi salah satu calon kuat pada Pilpres 2029 mendatang. Ia bahkan disebut sangat cocok disandingkan dengan Anies Baswedan sebagai calon presiden dan wakil presiden. Jika terwujud, pasangan ini digadang-gadang akan menjadi salah satu yang paling diunggulkan pada pemilu mendatang.
Wacana duet Anies Baswedan-Purbaya Yudhi Sadewa ramai diperbincangkan masyarakat di media sosial, wacana tersebut muncul di tengah polemik pemecatan Purbaya dari jabatan Menteri Keuangan oleh Presiden Prabowo Subianto.
Baca juga: Purbaya Berhasil Dicopot, Dirjen Pajak dan Bea Cukai Segera Minta Perombakan Internal Kementerian Keuangan Dibatalkan
Dosen Lintas Budaya Ali Syarief pun menyoroti wacana tersebut, menurutnya duet kedua tokoh tersebut jelas sangat menarik, namun ada beberapa hal penting yang membuat duet ini sulit terwujud, salah satunya adalah kedua tokoh tersebut tidak memiliki kendaraan politik. Maju sebagai calon independen jelas tidak akan mungkin dilakukan karena terkendala berbagai regulasi.
“Kalau Anies dan Purbaya dipasangkan, akan menarik elite intelektual – tapi tidak populer di kalangan akar rumput, dan parpol mana yang akan mendukung? Ini persoalan sistem presidensial di Indonesia. Toja’iah dengan prinsipnya sendiri,” kata Ali seperti diberitakan Olenka.id Kamis (17/9/2026).
Sekadar informasi, meski Presidential Threshold (ambang batas pencalonan presiden) sudah tidak berlaku lagi pada Pilpres 2029, namun jalur perseorangan (mandiri) tetap tidak diperbolehkan.
Putusan MK Nomor 62/PUU-XXII/2024 hanya menghilangkan ambang batas pencalonan partai politik. Meski demikian, pencalonan presiden tetap diwajibkan melalui partai politik atau gabungan partai politik peserta pemilu.
Dalam putusan tersebut, Mahkamah Konstitusi menyatakan Pasal 222 Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2017 tentang Pemilu yang sebelumnya mengatur syarat ambang batas 20 persen kursi DPR atau 25 persen suara sah nasional, bertentangan dengan UUD 1945 dan tidak lagi mempunyai kekuatan hukum mengikat.
Purbaya menjadi rebutan partai politik
Terpisah, Direktur Rumah Politik Indonesia Fernando Emas mengatakan Purbaya jelas menjadi salah satu komoditas politik terlaris pasca didepaknya Prabowo.
Dikatakannya, Purbaya memiliki karakter yang sangat unik, cara berkomunikasinya sangat lugas yang dinilai mirip dengan mantan Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama (Ahok). Hal ini membuatnya menjadi sumber perdebatan di partai politik.
Gaya blak-blakan mantan Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa memang menjadi pemimpin yang disukai masyarakat. Seperti saat Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) menjadi Gubernur DKI Jakarta, kata Fernando Emas.
Karena gayanya yang blak-blakan dan suka tampil apa adanya, Purbaya bahkan dijuluki menteri koboi karena pernyataannya yang kerap memancing perdebatan terbuka dengan sesama pejabat negara, namun justru karena gayanya tersebut, Purbaya pun langsung mendapat banyak simpatisan dalam waktu yang cukup singkat.
Karakternya yang kuat dan basis dukungan simpatisan yang besar menjadikan Purbaya sebagai komoditas politik yang bernilai tinggi. Sangat mungkin partai politik meminangnya demi kepentingan Pemilihan Presiden (Pilpres) 2029, jelas Fernando.
Fernando melanjutkan, sosok seperti Purbaya tidak hanya diminati partai-partai besar sekaliber Golkar dan PDI-Perjuangan yang sarat tokoh dan tokoh besar, ia juga akan menjadi sasaran nomor satu parpol yang saat ini sedang mengalami krisis tokoh-tokoh besar seperti Partai Amanat Nasional (PAN) atau Partai Keadilan Sejahtera (PKS).
Masih sangat mungkin Purbaya bisa disandingkan dengan Partai Golkar, PAN, PKB atau PKS, kemudian berpasangan dengan kader partai lain, misalnya dari PDI Perjuangan, jelasnya.
Kata Fernando, saat ini popularitas Purbaya sedang naik daun, seluruh simpati masyarakat tertuju padanya setelah ia didepak dengan sangat tidak hormat oleh Prabowo, kesempatan itu bisa ia manfaatkan untuk memilih kendaraan politik untuk melanjutkan karir politiknya di Indonesia.
Jika popularitas dan simpati masyarakat tidak dikelola dengan baik, maka semuanya akan menguap dan berakhir begitu saja, Purbaya bisa kehilangan momentum dan panggung politik.
Baca Juga: Sangat Tidak Etis! Cara Prabowo Pecat Purbaya Bikin Prof Jimly Elus Dada: Kita Butuh UU Etika Bernegara
“Kalau Purbaya tidak punya wahana panggung politiknya, maka lambat laun akan memudar dengan sendirinya. Kecuali, simpatisan Purbaya memang ingin dia maju di Pilpres 2029, lalu secara mandiri membuat ‘panggung’ mantan menteri keuangan itu,” pungkas Fernando.
Konten di atas dibuat oleh pihak ketiga. Redaksi tidak bertanggung jawab atas isi maupun akibat yang ditimbulkan oleh konten ini. Agregator artikel oleh JetMedia Digital Agency














