Payakumbuh — Riuh tepuk tangan penonton mengiringi pertandingan sepak bola di tepi Sungai Batang Agam waktu itu. Di jalur pedestrian, warga tampak berlari, bersepeda, dan berjalan santai menikmati udara sore.
Suasana itu menggambarkan perubahan besar yang terjadi di kawasan Batang Agam, yang kini berkembang menjadi pusat olahraga, rekreasi, kuliner sekaligus ruang terbuka hijau andalan Kota Payakumbuh.
Penataan kawasan bantaran Sungai Batang Agam menjadi bukti bahwa pembangunan infrastruktur dapat berjalan selaras dengan pelestarian lingkungan.
Kawasan yang semula hanya berfungsi sebagai pengendali aliran sungai kini menghadirkan ruang publik yang nyaman, mendukung aktivitas masyarakat, sekaligus mempertahankan fungsi ekologisnya.
Dari ketinggian, Batang Agam menyuguhkan panorama yang memanjakan mata. Aliran sungai membelah hamparan ruang hijau yang tertata rapi, berpadu dengan taman, jalur pedestrian, lintasan jogging, lapangan sepak bola, serta gedung Gelanggang Olahraga (GOR).
Keindahan kawasan itu semakin lengkap dengan latar Gunung Sago, Gunung Marapi dan Gunung Bungsu yang menjulang gagah di kejauhan.
Sejak pagi hingga menjelang malan, kawasan tersebut dipenuhi beragam aktivitas. Masyarakat memanfaatkan lintasan jogging dan jalur pejalan kaki untuk berolahraga, keluarga menghabiskan waktu bersama di taman, beragam jajanan khas juga tersaji dan pencinta fotografi menjadikan Batang Agam sebagai salah satu tujuan favorit.
Lapangan sepak bola yang berada di sisi sungai menjadi pusat kegiatan olahraga masyarakat. Turnamen antarklub, pertandingan persahabatan, hingga kompetisi lokal rutin digelar di lokasi itu.
Kehadiran penonton yang memenuhi sisi lapangan menghadirkan atmosfer kompetisi yang sangat bersemarak, namun sayang di balik panasnya kompetisi belum ada stadion untuk kenyamanan pengunjung.
“Bangun stadion lae Pak Wali,” kata salah seorang penonton dari pinggir lapangan saat menyaksikan partai final Piala Wali Kota Payakumbuh 2026.
Mendengar hal itu, sontak Wali Kota Payakumbuh Zulmaeta yang juga menyaksikan pertandingan dari tribun dadakan bergetar hatinya untuk menghadirkan stadion yang lebih representatif untuk masyarakat Payakumbuh khususnya.
“Segera buatkan proposal ke kementerian, melihat antusias masyarakat dan dampak dari kegiatan ini terhadap pertumbuhan ekonomi masyarakat sudah sepatutnya kita memiliki stadion yang bagus,” kata Zulmaeta kepada jajarannya waktu itu.
Tak jauh dari lapangan, juga berdiri Gelanggang Olahraga (GOR) Nan Ompek berdesain moderen yang mendukung berbagai cabang olahraga dalam ruangan, seperti bulu tangkis, bola voli, bola basket dan bela diri. Fasilitas tersebut memperkuat peran Batang Agam sebagai salah satu sentra pembinaan olahraga di Kota Payakumbuh.
Di sepanjang bantaran sungai, jalur pedestrian yang terintegrasi dengan lintasan jogging menawarkan pengalaman berolahraga di ruang terbuka dengan suasana asri.
Deretan pepohonan yang tumbuh di sepanjang sungai memberikan keteduhan sekaligus menjaga kualitas lingkungan yang nyaman dengan udara yang bersih.
Lebih dari sekadar menyediakan fasilitas olahraga dan rekreasi, Batang Agam telah menjadi simbol keberhasilan penataan ruang kota.
Kawasan ini menghadirkan ruang bersama yang dapat dinikmati seluruh lapisan masyarakat tanpa mengesampingkan fungsi utama sungai sebagai bagian dari sistem pengendalian banjir.
Transformasi Batang Agam memperlihatkan bahwa pembangunan yang berpihak pada lingkungan mampu menciptakan ruang publik yang produktif, nyaman, dan berkelanjutan.
Di bawah panorama bukitbarisan yang megah, kawasan ini menjadi wajah baru Payakumbuh yang memadukan olahraga, wisata, pelestarian alam, dan kehidupan sosial masyarakat dalam satu kawasan yang harmonis. (red)
Editor : Rachmail Gucci
Sumber Berita : Istimewa















