tirto.id – Beredar di media sosial Facebook klip dua video dari dua kejadian berbeda. Keduanya menampilkan pertemuan tokoh Indonesia dengan Menteri Luar Negeri Singapura Vivian Balakrishnan. Pada video pertama sosoknya adalah Presiden Prabowo, sedangkan pada video kedua sosoknya adalah Anies Baswedan.
Video tersebut disebarkan oleh akun Facebook “Ipank Sastro” (arsip) pada Rabu (30/10/2026), dengan caption pada video tersebut, “Menlu Singapura saat bertemu Pak Prabowo. Menlu Singapura bertemu Pak Anis.”
Postingan tersebut disertai narasi yang menyebut Anies sebagai “pemecah belah bangsa” dan menghubungkan kunjungannya ke Singapura dengan banyaknya demonstrasi yang terjadi di Indonesia.
“Pembela negara ANIS BASWEDAN, setelah keluar dari Singapura, demonstrasi terjadi dimana-mana.”
Hingga artikel ini ditulis pada Senin (2/11/2026), unggahan tersebut telah mendapat 1 like, 1 komentar, dan 3 share.
Tirto juga menemukan postingan serupa di akun Facebook “Hendriana”, “Felix M” di grup chat Viral Tomohon, dan “Pegiat Medsos24” yang menampilkan video serupa terkait pertemuan Prabowo dan Anies dengan Menteri Luar Negeri Singapura.
Jadi, seberapa benarkah klaim ini?
Pencarian Fakta
Pertama-tama, periksa kebenaran klaim tersebut Tirto telusuri dua video di postingan untuk memeriksa waktu, konteks, dan hubungan antara peristiwa yang ditampilkan dan narasi yang menyertainya.
Video di atas memperlihatkan Presiden Prabowo Subianto bertemu Menteri Luar Negeri Singapura Vivian Balakrishnan di kediaman Prabowo di Hambalang, Kabupaten Bogor, pada Rabu, 28 Oktober 2026.
Di dalam siaran pers resmi dari Sekretariat PresidenPresiden RI, Prabowo Subianto, menerima permintaan pertemuan dengan Menteri Luar Negeri Singapura, Vivian Balakrishnan di kediamannya di Hambalang, Kabupaten Bogor, Provinsi Jawa Barat. Rapat berlangsung tertutup pada Rabu sore, 28 Oktober 2026.
Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya dalam keterangan tertulisnya mengatakan, pertemuan tersebut merupakan tindak lanjut permintaan Menlu Singapura yang tiba di Indonesia pada Selasa (27/10/2026). Menurut dia, Menlu Vivian meminta waktu untuk bertemu langsung dengan Presiden Prabowo.
“Diketahui, Menteri Luar Negeri Vivian dan Wakil Menteri Luar Negeri Singapura tiba-tiba tiba di Jakarta pada Selasa pagi lalu dan mengirimkan permintaan untuk bertemu dengan Kepala Negara,dia menulis.
Senada dengan itu, YouTube Sekretariat Kabinet juga menayangkan video dokumenter Prabowo menerima Menteri Luar Negeri Singapura Vivian Balakrishnan di Hambalang pada 28 Oktober 2026.
Dengan demikian, video pertama merupakan dokumentasi pertemuan diplomatis Prabowo dan Vivian pada Oktober 2026, bukan dokumentasi pertemuan Anies Baswedan.
Lebih lanjut, video di bawah ini memperlihatkan Anies Baswedan sedang bertemu dengan Menteri Luar Negeri Singapura Vivian Balakrishnan dan Duta Besar Singapura untuk Indonesia Kwok Fook Seng.
Di YouTube Anies Baswedan, ditemukan video asli yang mendokumentasikan kejadian tersebut berjudul “Anies Makan Siang Bersama Menlu dan Duta Besar Singapura” yang diunggah melalui kanal YouTube resminya pada 25 April 2024.
Pertemuan April 2024 itu terjadi jauh sebelum pertemuan Prabowo dengan Vivian pada Oktober 2026. Sebab, kedua video tersebut merekam dua peristiwa berbeda yang terjadi di waktu berbeda, bukan rangkaian peristiwa yang berkaitan.
Dalam Instagram resminya @aniesbaswedan, Anies juga menjelaskan pertemuan tersebut merupakan acara makan siang bersama Menlu Singapura dan Duta Besar Singapura. Ia mengatakan Menlu Singapura sering berkunjung dan ini bukan pertemuan pertamanya.
Topik yang dibahas tidak hanya terkait hubungan Indonesia dan Singapura saja, namun juga terkait perkembangan dunia global.
Oleh karena itu, narasi atau klaim dalam postingan Facebook yang mengaitkan pertemuan Anies dan Menlu Singapura dengan demonstrasi yang terjadi pada tahun 2026 tidak didukung informasi yang kredibel.
Hingga saat ini, belum ada bukti informasi dari media kredibel yang menunjukkan bahwa pertemuan Anies dengan Menlu Singapura dan Duta Besar Singapura pada tahun 2024 terkait dengan demonstrasi yang terjadi pada tahun 2026, atau membuktikan tudingan Anies sebagai pemecah belah bangsa.
Sementara itu, demonstrasi yang terjadi pada Oktober 2026 mempunyai konteks tersendiri. Tirto Diberitakan, ribuan massa yang melakukan aksi protes pada 28 Oktober memadati kawasan Bundaran Hotel Indonesia (HI), Jakarta Pusat, pada Rabu (28/10/2026) sore.
Berdasarkan pemantauan Tirto Di lokasi, hingga Rabu sore pukul 17.00 WIB, ribuan masyarakat masih berdiri di kawasan Bundaran HI sambil memegang poster protes.
Sejumlah pengunjuk rasa pun turut berorasi dan menyampaikan aspirasinya melalui pengeras suara.
Salah satu mahasiswa Universitas Pembangunan Veteran Jakarta (UPNVJ), Rafif Luqmanul mengatakan, aksi tersebut dilakukan untuk menyuarakan sejumlah tuntutan.
Pertama, pengunjuk rasa menuntut pemerintah serius mengatasi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang terjadi di sejumlah daerah di Indonesia.
“Kebakaran (hutan dan lahan) di Indonesia bukan disebabkan oleh (kejadian) alam begitu saja, namun ada dalang penyebab kebakaran hutan yang begitu serius, bahkan terorganisir seperti itu,kata Rafif.
Selain itu, para pengunjuk rasa juga menuntut supremasi sipil dan supremasi hukum diperkuat.
Rafif menegaskan, supremasi sipil dan hukum diperlukan agar Indonesia tidak kembali ke era Orde Baru.
Apakah kita ingin kembali ke masa Orde Baru? Apakah kita ingin menjadi negara demokrasi yang bukan demokrasi? Apakah kita ingin bangsa Indonesia tidak bisa, tidak leluasa menyampaikan kritik atau sarannya terhadap negara ini? dia menjelaskan.
Seruan serupa datang dari mahasiswa Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta, Kesha Lovato. Menurut Kesha, masyarakat marah karena pemerintah tidak serius menangani karhutla. Oleh karena itu, ia ikut ambil bagian dalam aksi menyuarakan agar karhutla ditetapkan sebagai bencana nasional.
“Mengapa pemerintah tidak mau mengakui bencana kebakaran hutan dan lahan ini sebagai bencana nasional?katanya.
Kesha mengatakan, aksi hari ini terbuka untuk semua kalangan dan tidak terbatas pada mahasiswa yang mengenakan jaket almamater.
Menurutnya, hal itu pertanda masyarakat sudah sangat marah dengan kondisi negara saat ini.
“Kami sangat marah, kami ingin seluruh masyarakat sipil datang ke sini,dia menekankan.
Sebagai informasi, dalam aksi 28 Oktober ini, massa aksi yang tergabung dalam Komite SADAR menyampaikan lima tuntutan masyarakat. Berikut daftar tuntutannya:
- Menetapkan status bencana nasional, menuntut perusahaan yang bertanggung jawab, dan menyelesaikan integrasi tata kelola pertanahan;
- Mewujudkan APBN untuk kemaslahatan rakyat dan berhenti memboroskannya untuk kepentingan politik berkedok program kerakyatan seperti MBG dan KDMP;
- Menurunkan biaya pendidikan, memberikan akses yang adil terhadap layanan dasar dan menyediakan lapangan kerja yang berkualitas;
- Berhenti menggunakan hukum untuk menyalahgunakan kekuasaan dan memberantas KKN;
- Memulihkan kebebasan berpendapat, mengadili pelanggar hak asasi manusia, dan menghentikan militerisasi ruang sipil.
Oleh karena itu, demonstrasi yang terjadi pada Oktober 2026 tidak membuktikan adanya hubungan sebab akibat dengan pertemuan Anies dan Menlu Singapura pada April 2024. Postingan tersebut tidak menyertakan bukti atau sumber kredibel yang dapat menghubungkan kedua peristiwa tersebut, termasuk dasar klaim dalam postingan tersebut.
Kesimpulan
Berdasarkan hasil pencarian fakta, klaim yang menyebut Anies Baswedan sebagai pemecah belah bangsa dan mengaitkan pertemuannya dengan pejabat Singapura dengan demonstrasi pada tahun 2026 adalah informasi palsu dengan konteks yang tidak tepat (konteks yang hilang).
Video Anies yang disertakan merupakan dokumentasi pertemuan pada 24 April 2024, sedangkan video Prabowo menampilkan pertemuan dengan Menlu Singapura pada 28 Oktober 2026.
Kedua video tersebut merekam peristiwa berbeda dan tidak membuktikan tudingan pertemuan Anies dan Prabowo terjadi bersamaan, terkait demonstrasi belakangan ini, atau memecah belah bangsa.
==
Apabila pembaca mempunyai saran, ide, tanggapan atau sanggahan terhadap klaim Fact Check dan Decode, pembaca dapat mengirimkannya ke email [email protected].
Konten di atas dibuat oleh pihak ketiga. Redaksi tidak bertanggung jawab atas isi maupun akibat yang ditimbulkan oleh konten ini. Agregator artikel oleh JetMedia Digital Agency














