SURABAYA (Lentera) – Jajanan pasar tidak hanya bisa diperkenalkan sebagai warisan kuliner, tapi juga menjadi bagian dari kisah hidup generasi muda. Pendekatan inilah yang dilakukan Veronica Singajaya, alumnus Desain Komunikasi Visual (DKV) angkatan 2022 Universitas Kristen Petra (UK), untuk mendekatkan kuliner tradisional Indonesia kepada generasi Z.
Melalui karakter bernama “Jelita”, Veronica mengembangkan kampanye berbasis Kekayaan Intelektual (IP) yang memadukan budaya, visual storytelling, komik, dan animasi pendek. Karakter ini diposisikan sebagai representasi Gen Z dalam fase emerging Adulthood dengan berbagai permasalahan yang dekat dengan kehidupan sehari-hari.
“Karakter Jelita mewakili Gen Z yang sedang memasuki fase dewasa dewasa. Melalui kampanye di Instagram, Jelita tampil dalam bentuk komik pendek dan animasi pendek yang menceritakan berbagai irisan pengalaman hidup dari sudut pandang Jelita. Setiap cerita kemudian dijembatani dengan ciri khas masing-masing jajanan pasar,” kata Veronica, Senin (5/10/2026).
Wanita kelahiran Banjarmasin ini memilih sejumlah jajanan pasar untuk ditampilkan dalam karyanya, antara lain kue lapis, onde-onde, leker, putu, klepon, dan carabikang.
Alih-alih sekadar menjelaskan asal usul atau bentuk makanan, Veronica menghubungkan ciri-ciri setiap jajanan dengan pengalaman yang akrab bagi Gen Z, seperti pencarian jati diri, tekanan sosial, pekerjaan, kebutuhan istirahat, dan proses tumbuh dewasa.
“Setiap jajanan memiliki cerita dan makna yang berbeda-beda, sehingga pendekatan ini menjadikan jajanan pasar tidak terasa seperti benda budaya yang hanya perlu dipelajari, namun menjadi sesuatu yang dapat dikaitkan secara personal dengan kehidupan penikmatnya,” jelasnya.
Pendekatan ini tidak berhenti pada konten digital saja. Veronica mengembangkan sejumlah media pendukung, seperti gantungan kunci, set stiker, dan kartu pos, untuk memperluas pengalaman penonton terhadap karakter dan cerita yang dibangun.
Pekerjaan ini merupakan bagian dari tugas akhir beliau pada bidang DKV. Ide-idenya juga berkesempatan ditampilkan dalam Projection Mapping Showcase di Jakarta Future Festival 2026.
Kegiatan yang melibatkan Kementerian Ekonomi Kreatif, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, dan Asosiasi Program Studi Desain Komunikasi Visual Indonesia ini menampilkan karya mahasiswa DKV terpilih dari berbagai daerah di Indonesia.
“Melalui keikutsertaan dalam pameran ini, desain karya ini tidak hanya hadir sebagai konten di media sosial, namun juga dapat diperkenalkan dalam konteks ekosistem kreatif yang lebih luas,” ujarnya.
Diakuinya, ide tersebut tak lepas dari pengalamannya mengikuti pertukaran pelajar di Dongseo University, Busan, Korea Selatan. Pada program ini, ia menjadi satu-satunya penerima Global Korea Scholarship (GKS) asal Indonesia di kelasnya.
Pengalaman ini juga memperkaya pandangannya tentang cara budaya dikemas dan dikomunikasikan melalui media kreatif. Ia kemudian mencoba menerapkan pendekatan serupa pada budaya kuliner Indonesia dengan bahasa visual yang lebih dekat dengan generasi muda.
Dalam proses kreatifnya, Veronica mengaku tertarik memadukan unsur fantasi dengan unsur budaya. “Karena budaya Indonesia memiliki banyak materi yang dapat dikembangkan menjadi karya visual yang lebih imajinatif dan personal,” ujarnya.
Ia juga bercita-cita menjadi seorang desainer komunikasi visual yang tidak hanya menghasilkan karya estetis, namun juga menggunakan desain sebagai media edukasi melalui ilustrasi, storytelling, serta pengembangan karakter dan IP.
“Tidak sekedar menjadi desainer yang karyanya bagus, saya ingin karya saya bisa menjadi media edukasi, khususnya dalam hal ilustrasi, storytelling, dan pengembangan karakter/IP. Saya ingin terus mengeksplorasi bagaimana unsur fantasi dan budaya bisa dipadukan menjadi karya yang relevan dan punya cerita,” ujarnya.
Melalui karyanya tersebut, Veronica menunjukkan bahwa mengenalkan budaya kepada generasi muda tidak selalu harus melalui pendekatan konvensional. Jajanan pasar dapat ditempatkan pada cerita-cerita yang lebih dekat dengan keseharian penontonnya, sehingga nilai-nilai budaya yang ada di dalamnya tetap terjaga sekaligus mempunyai ruang untuk dimaknai dalam konteks kekinian.
Reporter: Dapat dipercaya
Redaktur: Lutfiyu Handi
Konten di atas dibuat oleh pihak ketiga. Redaksi tidak bertanggung jawab atas isi maupun akibat yang ditimbulkan oleh konten ini. Agregator artikel oleh JetMedia Digital Agency














