Payakumbuh – Pagi itu, langit Kota Payakumbuh tampak sedikit berawan. Namun di ruas-ruas jalan utama, warna-warni sepeda tua berjejer rapi.
Bel sepeda berbunyi nyaring, disambut tawa dan sapaan akrab para ontelis dari berbagai penjuru Indonesia.
Mereka datang bukan untuk lomba. Tak ada perebutan piala, tak ada garis finis yang harus dikejar.
Yang ada hanya kebersamaan, nostalgia masa lalu, dan rasa bangga menunggangi sepeda yang menjadi saksi perjalanan sejarah bangsa.
Sekitar lima ratusan ontelis memadati Parade Onthel Payakumbuh 2025, yang digelar selama dua hari, 8–9 November 2025.
Mereka datang dari berbagai kota: Padang, Bukittinggi, Lampung, Riau, hingga Sidoarjo. Ada yang menempuh perjalanan berhari-hari demi bisa ikut ambil bagian.
“Kalau naik ontel itu bukan sekadar bersepeda, tapi seperti membawa kenangan orang tua kita dulu,” ujar Arifin (62), ontelis asal Bukittinggi, sambil mengelap sadel sepedanya yang berkilau di bawah sinar matahari, Minggu (09/11/2025).
Begitu parade dimulai, suasana Payakumbuh berubah bak panggung film hitam putih. Para peserta mengenakan busana khas. Jas safari, kebaya, blangkon, hingga peci hitam, membuat siapa pun yang melihat seolah terseret kembali ke masa silam.
Parade ini menempuh rute yang menyusuri sejumlah ikon Payakumbuh: Kampung Adat Balai Kalikih, Masjid Gadang Balai Nan Duo, Tugu Onthel raksasa, hingga Taman Batang Agam.
Sepanjang perjalanan, pemandangan Payakumbuh yang hijau dan tertata rapi menjadi latar sempurna bagi pertemuan budaya ini.
“Konsepnya memang ingin membawa peserta dan masyarakat merasakan nuansa tempo dulu,” ujar Kepala Dinas Pariwisata, Pemuda, dan Olahraga Payakumbuh, Yunida Fatwa, yang juga ketua pelaksana kegiatan.
“Selain melestarikan budaya bersepeda klasik, acara ini juga menjadi ajang promosi wisata dan kuliner lokal,” sambungnya.
Bagi Pemerintah Kota Payakumbuh, kata Wali Kota Zulmaeta, parade ini adalah cara lain memperkenalkan kotanya kepada Indonesia.
“Parade Onthel bukan sekadar kegiatan olahraga, tapi juga wadah mempererat silaturahmi, memperkuat identitas budaya, dan menghidupkan ekonomi masyarakat,” kata Wako, Zulmaeta.
Ia menambahkan, sepeda ontel adalah gambaran kesederhanaan dan kegigihan generasi terdahulu.
“Melalui kegiatan ini, kita belajar bahwa kemajuan tidak berarti harus melupakan akar budaya,” ujarnya.
Sementara itu, Wakil Wali Kota Payakumbuh, Elzadaswarman, yang juga Ketua Komunitas Sepeda Tua Indonesia (KOSTI) Sumatera Barat, menyebut acara ini akan digelar lagi tahun depan.
“Insya Allah tahun depan kita gelar lagi dengan konsep lebih besar. Kita ingin Payakumbuh dikenal sebagai kota yang ramah bagi pesepeda,” ujarnya.
Parade ini bukan hanya tentang bersepeda.
Pada malam pembukaan, di Kawasan GOR M. Yamin yang disulap menjadi Pasa Lamo, para ontelis disuguhi pertunjukan seni tradisional Minangkabau serta kuliner khas daerah yang kini semakin sulit ditemukan.
Bagi para peserta, momen ini bukan hanya ajang tampil, tapi juga ruang untuk saling mengenal dan bertukar cerita.
“Kalau kami kumpul begini, rasanya seperti reuni besar keluarga,” kata Sukardi (54), ontelis dari Jambi.
“Kami datang dari jauh, tapi di sini semua terasa dekat,” tukuknya.
Dinas Pariwisata mencatat, kehadiran ratusan peserta dari luar daerah berdampak langsung pada pelaku UMKM, penginapan, hingga pedagang kaki lima.
“Parade Onthel terbukti bisa menggerakkan ekonomi lokal. Ini jadi bukti bahwa kegiatan budaya bisa sejalan dengan pengembangan pariwisata,” kata Yunida.
Menjelang siang, rombongan ontelis memasuki garis akhir di kawasan GOR M. Yamin Kubu Gadang. Keringat membasahi dahi, namun senyum tak pernah hilang dari wajah mereka.
Karena sebelumnya, beberapa peserta bahkan masih sempat berpose di depan Tugu Onthel raksasa yang konon katanya hanya ada dua di dunia, simbol Kota Payakumbuh yang kini makin dikenal luas.
“Sepeda ini tua, tapi semangatnya muda,” ujar Pak Arifin sambil tertawa kecil.
Parade Onthel Payakumbuh 2025 pun berakhir, meninggalkan kesan mendalam bagi masyarakat dan peserta.
Bagi sebagian orang, kegiatan ini adalah perjalanan nostalgia. Bagi yang lain, ia adalah pengingat bahwa kesederhanaan dan kebersamaan masih menjadi nilai paling indah dalam kehidupan.
Dan bagi Kota Payakumbuh, parade ini adalah cara elegan untuk berkata: “Kita bisa maju tanpa melupakan akar budaya dan semangat masa lalu.” (red)
Editor : Rachmail Gucci
Sumber Berita : Pemko Payakumbuh, Kosti, Disparpora Payakumbuh













