Di Balik Maraknya Kasus Keracunan, Benarkah Program MBG Jadi Ladang Rp1,8 Miliar untuk Pengusaha

- Redaksi

Sabtu, 4 Oktober 2025

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Siswa sekolah dasar di salah satu ruang kelas menikmati makanan dari program Makan Bergizi Gratis, Jumat (03/10/2025). Meski terlihat ceria, program ini menuai kritik setelah maraknya kasus keracunan massal dan dugaan keuntungan miliaran rupiah bagi pengusaha penyedia layanan.

Siswa sekolah dasar di salah satu ruang kelas menikmati makanan dari program Makan Bergizi Gratis, Jumat (03/10/2025). Meski terlihat ceria, program ini menuai kritik setelah maraknya kasus keracunan massal dan dugaan keuntungan miliaran rupiah bagi pengusaha penyedia layanan.

Jakarta – Guru Besar Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Gadjah Mada (FEB UGM), Prof Dr R Agus Sartono, MBA, menyoroti adanya ketimpangan dalam pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG).

Menurutnya, mekanisme distribusi yang panjang justru membuat keuntungan besar hanya dinikmati segelintir pengusaha, sementara tujuan mulia program tersebut tergerus di tengah kasus keracunan massal di berbagai daerah.

“Sungguh menyedihkan jika unit cost Rp15.000 per porsi per anak, akhirnya tinggal hanya Rp7.000 saja? Program Makan Bergizi Gratis benar-benar menjadi ‘Makan Bergizi Gratis’ bagi pengusaha besar. Karena mendapat keuntungan yang besar secara gratis,” kata Prof Agus dikutip dari detikEdu, Jumat (03/10/2025).

Ia bahkan menguraikan potensi keuntungan yang didapat. Jika margin per porsi Rp2.000 dan satu Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) melayani 3.000 porsi, maka pengusaha bisa mengantongi Rp150 juta per bulan atau sekitar Rp1,8 miliar per tahun.

Menurut Prof Agus, masalah yang muncul bukan berasal dari ide dasar MBG, melainkan dari mekanisme penyaluran. Ia menilai rantai distribusi terlalu panjang, sehingga rawan kebocoran dan memberi ruang besar bagi pihak yang tidak seharusnya diuntungkan.

“Mengapa MBG yang tujuannya sangat bagus tidak dilakukan dengan mekanisme yang sudah ada?” ujarnya.

Ia mencontohkan data penerima bantuan sebenarnya sudah tersedia di Kementerian Sosial melalui Program Keluarga Harapan (PKH), serta di Kementerian Pendidikan melalui Bantuan Operasional Sekolah (BOS) dan Kartu Indonesia Pintar (KIP).

Selain itu, Prof Agus juga mengingatkan bahwa pendidikan merupakan urusan pemerintahan daerah sebagaimana diatur dalam UU No. 23 Tahun 2014.

Dengan demikian, program MBG seharusnya memberi ruang lebih besar bagi pemerintah daerah untuk mengelola sesuai kewenangannya, sementara Badan Gizi Nasional cukup melakukan fungsi monitoring.

“Oleh sebab itu, berdayakan pemerintah daerah. Dengan cara demikian koordinasi akan lebih baik, dan peluang keberhasilan program akan lebih tinggi,” katanya.

Prof Agus pun mendorong opsi penyaluran MBG dalam bentuk uang tunai langsung kepada siswa, agar kebocoran bisa ditekan dan manfaat program benar-benar dirasakan masyarakat. (red)

Editor : Tim

Sumber Berita: detikEdu

Berita Terkait

CHVRCHES Berbagi Pembaruan Tur dan Album Baru, Akhir dari Penantian Enam Tahun
Pemerintah berharap aksi unjuk rasa mahasiswa berlangsung damai dan tertib
itel rilis smartwatch terbaru Fit O18, mulai gaya hidup sehat tanpa mahal
Pakar Sebut Gerindra-PDIP Makin Dekat, Jokowi-Gibran Terpinggirkan Jelang 2029
Penasihat Khusus Prabowo Akui Janji Gibran tentang 19 Juta Kesempatan Kerja Hanya Gibran
Video keributan warga Alue Dawah dan Ie Mirah viral
480 Dapur MBG 3T Sudah Diluncurkan Sejak 2 Oktober, Namun Belum Beroperasi, Asosiasi Pertanyakan Prioritas Pemerintah…
Pantauan BMKG, kabut asap di Manado mulai berkurang

Komentar

Tuliskan komentar terbaikmu dengan sopan 😊

Let us know you are human:


Berita Terkait

Rabu, 28 Oktober 2026 - 12:20 WIB

CHVRCHES Berbagi Pembaruan Tur dan Album Baru, Akhir dari Penantian Enam Tahun

Rabu, 28 Oktober 2026 - 12:00 WIB

Pemerintah berharap aksi unjuk rasa mahasiswa berlangsung damai dan tertib

Rabu, 28 Oktober 2026 - 11:40 WIB

itel rilis smartwatch terbaru Fit O18, mulai gaya hidup sehat tanpa mahal

Rabu, 28 Oktober 2026 - 11:20 WIB

Pakar Sebut Gerindra-PDIP Makin Dekat, Jokowi-Gibran Terpinggirkan Jelang 2029

Rabu, 28 Oktober 2026 - 11:00 WIB

Penasihat Khusus Prabowo Akui Janji Gibran tentang 19 Juta Kesempatan Kerja Hanya Gibran

Berita Terbaru