Kepala PAUD Anarvani Eva Suryani menunjukkan buku pribadinya “Secercah Cahaya di Lorong Panjang” di PAUD Anarvani, Jumat (10/2/2026). Buku tersebut menceritakan tentang perjalanan hidup Eva.
Nurul Fauzah
“Kalau sekolah ini tutup, anak-anak kita tidak akan bersekolah, Bu,” kata Bu Eva menirukan orang tua yang anaknya pernah bersekolah di PAUD “žAnarvani”Ÿ. Kata-kata sederhana itu membekas begitu dalam, menjadi nafas bangunan dua lantai berwarna putih yang berdiri tegak di tepi pantai Kota Padang. Di tengah deru ombak yang memecah pantai, rumah tetap setia menjembatani impian anak-anak agar tidak kandas pada waktunya.
Berlokasi di Jalan Parkit 10 Air Tawar Barat, Kecamatan Padang Utara, Kota Padang, sekitar 100 meter dari bibir pantai, berdiri rumah singgah Harapan, sebuah rumah pribadi milik Eva Suryani (58) yang akrab disapa Bu Eva. Rumah menjadi benteng harapan bagi masyarakat sekitar.
Tepat tiga belas tahun yang lalu, atas restu dan dukungan dari pihak camat setempat, Ibu Eva yang merupakan lulusan Sarjana Pendidikan Luar Sekolah Universitas Negeri Padang (UNP) berhasil mengetuk pintu perubahan dengan mendirikan Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) “Anarvani”. Nama “Anarvani” merupakan singkatan dari Anak tentara Dan Eva Suryani, menggabungkan nama dia dan suaminya, Armi.
Pada awal berdirinya, yayasan ini merupakan gudang ilmu yang memberikan program seperti Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD), bimbingan belajar, dan pelatihan menjahit bagi warga. Sejak saat itu, Anarvani berdiri kokoh sebagai salah satu tonggak pendidikan yang tersembunyi di balik pesatnya kemajuan Kota Padang, terutama bagi kelompok masyarakat yang tidak mampu menyekolahkan anaknya.
Sebelum peletakan batu pertama, Bu Eva dihadapkan pada dua persimpangan antara gedung Lembaga Khusus dan Pelatihan (LKP) dan Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM). Hatinya yang peka terhadap denyut masyarakat akhirnya menuntun langkahnya menuju jalur PKBM.
“Dulu antara LKP dan PKB, akhirnya ibu saya memilih PKB karena bekerja untuk sosial. Kalau LKP mungkin yang paling dicarinya adalah uang,” ujarnya.
Niat tersebut diwujudkan dengan menjadikan rumah pribadinya sebagai pusat Yayasan Anarvani. Bersama dengan kos-kosan pria di lantai dua, sekilas bangunan ini tampak seperti kos-kosan pada umumnya. Namun kehadiran mobil operasional program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang berhenti di depan pintu gerbang, serta dua buah spanduk bertuliskan “Penerimaan Peserta Didik Baru dan Program Kesetaraan Anarvani PKBM” menjadi tanda bahwa gedung tersebut bukan sekedar tempat tinggal namun menjadi solusi masyarakat sekitar dalam mengenyam pendidikan.
Proses pembelajaran di PAUD Anarvani berlangsung dengan menggunakan ruang dan fasilitas sederhana, Jumat (02/10/2026).
Saat memasuki gerbang, suasana pusat Yayasan Anarvani belum terasa. Samar-samar terdengar suara langkah kaki berlari dan suara anak-anak bermain. Di sebelah ruang utama yang difungsikan sebagai ruang kerja Bu Eva sebagai kepala sekolah, terdapat ruangan berdinding kayu yang mengarahkan tamu ke bagian belakang. Disanalah mereka belajar: Berbekal satu ruang kelas, satu halaman, dua peralatan bermain yang terlihat kurang memadai, serta media dan fasilitas belajar yang minim.
Hingga saat ini, Anarvani Foundation telah mendukung tiga pilar kegiatan: Program Kesetaraan, Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) dan Bisnis. Toko bunga. Untuk memenuhi kebutuhan sekolah, operasional yayasan didukung penuh oleh dana Bantuan Operasional PAUD (BOP). Jadi sekolah ini hadir untuk menjadi wadah bagi masyarakat setempat, yang sebagian besar memperoleh penghasilan dari berjualan, memancing, dan bekerja serabutan.
“Siswa PAUD yang ada saat ini berjumlah 18 orang, berusia antara 3 sampai 6 tahun. Kami hanya mengumpulkan uang untuk seragam karena rata-rata orang tua siswa berjualan, membantu orang, menangkap ikan lalu dijual.
Begitu pula dengan program kesetaraan yang gratis untuk usia 25 tahun ke bawah. Saat ini terdapat 6 peserta yang melanjutkan pendidikannya disini. Waktu pelaksanaannya dirancang fleksibel, karena mayoritas dari mereka membagi waktu antara bekerja sebagai nelayan, buruh galon, dan bekerja di toko pakaian. Di balik itu, perjuangan Bu Eva pun memudar. Pada tahun 2025, Bu Eva berada di titik kelelahan dan ingin mengakhiri Yayasan Anarvani. Saat itu berlaku peraturan baru yang mewajibkan satuan pendidikan memiliki minimal 10 peserta didik. Apabila hal tersebut tidak terpenuhi maka sekolah tersebut harus digabung dengan sekolah lain. Namun harapannya masih belum pupus, ia kembali terjun ke masyarakat, melakukan sosialisasi kepada mereka yang memiliki anak usia Kelompok Bermain (KB) atau Taman Kanak-Kanak (TK) untuk bersekolah di sana.
“Hampir putus asa, ibu berpikir untuk mengubah rumah ini menjadi kos-kosan sepenuhnya, namun ayah selalu menyemangati, akhirnya ibu tetap bertahan dan mencari cara untuk menambah jumlah siswa yang bergabung di Anarvani. Ibu turun ke jalan, mampir di sebuah toko, di sana dia mensosialisasikannya,” ujarnya.
Tiga belas tahun bernafas, PAUD Anarvani menjadi batu loncatan bagi masyarakat putus sekolah dan orang tua yang tidak mampu menyekolahkan anaknya hingga SD. Perjuangan Ibu Eva dan Yayasan Anarvani menjadi bukti nyata bahwa pendidikan tidak selalu membutuhkan gedung yang megah. Selama niat ikhlas terus terpancar, tempat sederhana pun bisa menjadi naungan masa depan dan impian mereka yang membutuhkan.n Perjalanan hidup Eva.
Konten di atas dibuat oleh pihak ketiga. Redaksi tidak bertanggung jawab atas isi maupun akibat yang ditimbulkan oleh konten ini. Agregator artikel oleh JetMedia Digital Agency














