JAKARTA — Jika Gibran Rakabuming Raka benar-benar turun dari kursi Wakil Presiden, persoalan mungkin tidak akan berhenti hanya dengan satu kursi kosong. Di sinilah pertarungan politik bisa dimulai.
Rocky Gerung menilai kemungkinan itu jauh lebih besar. Dia mengatakan jatuhnya Gibran berpotensi menjadi pintu masuk ke dalam krisis politik dan memperingatkan bahwa masalah ini bisa “diseret keluar sama sekali”.
“Ini awal dari akhir,” kata Rocky.
Namun yang lebih menggelitik adalah pertanyaan yang dia ajukan setelahnya: “Awal setelah akhir, apa?”
Pertanyaan singkat, namun daya ledaknya panjang.
Sebab, jika Gibran benar-benar menjadi titik awal keruntuhan politik, siapa yang bisa memastikan dampaknya akan berhenti pada Gibran?
Jika Gibran Jatuh, Siapa Berikutnya?
Di sinilah pernyataan Rocky menjadi menarik untuk dibaca lebih lanjut.
Gibran bukan sekedar wakil presiden. Ia merupakan bagian dari konfigurasi kekuasaan yang dibangun melalui perjalanan politik yang melibatkan nama besar Jokowi. Oleh karena itu, guncangan apa pun terhadap posisi Gibran hampir pasti akan menimbulkan konsekuensi politik bagi kalangan lebih luas.
Pertanyaannya kemudian menjadi sederhana namun sensitif:
Apakah hanya Gibran saja yang tumbang, atau fondasi politik yang mendukungnya ikut retak?
Jika konflik politik berkembang menjadi pertarungan terbuka, besar kemungkinan berbagai isu lama akan kembali tersingkir dari gudang politik. Pernyataan lama dapat diputar ulang. Keputusan lama bisa dipertanyakan. Hubungan kekuasaan bisa dibongkar. Dan para pemain lama yang sebelumnya terlihat aman bisa kembali ke tengah arena.
Politik tidak mengenal ruang hampa.
Ketika satu kekuatan melemah, kepentingan lain akan bergerak mengisi ruang tersebut.
Nama Jokowi sulit untuk dihindari
Dalam skenario seperti itu, nama Joko Widodo tentu sulit dihilangkan dari perbincangan.
Bukan hanya karena Gibran adalah putranya, namun karena perjalanan politik Gibran tidak lepas dari konfigurasi kekuasaan yang terbentuk di era Jokowi.
Oleh karena itu, jika posisi Gibran terguncang, pertanyaan politik selanjutnya hampir pasti akan menoleh ke belakang:
Seberapa banyak masa lalu yang akan dikaji Di sinilah istilah “semua terseret” menjadi menarik.
Namun perlu digarisbawahi, Rocky berdasarkan pernyataan yang dikutip, tidak secara spesifik menyebut Jokowi punya “daftar dosa” pejabat yang akan terungkap jika Gibran tumbang. Itu interpretasi yang berkembang, bukan pernyataan Rocky yang eksplisit.
Namun justru karena itu, hukuman Rocky membuka ruang spekulasi lebih besar.
Satu Kursi, Efek Domino
Bayangkan jika jatuhnya Gibran menjadi pemicu pertarungan politik yang lebih luas.
Kubu-kubu yang berada di barisan yang sama bisa mulai menjauhkan diri. Mereka yang sebelumnya diam bisa mulai berbicara. Mereka yang memiliki minat berbeda dapat mulai membuka kartu.
Dan ketika kartunya mulai terbuka, bukan tidak mungkin berbagai permasalahan masa lalu juga akan muncul ke permukaan.
Dalam politik, kesetiaan seringkali mempunyai batasan waktu.
Selama kekuasaan kuat, banyak persoalan yang bisa dikunci dalam kompromi politik. Namun ketika keseimbangan kekuatan berubah, pintu yang sebelumnya tertutup mungkin akan terbuka satu per satu.
Oleh karena itu, pertanyaan Rocky tentang “awal setelah akhir” jauh lebih penting daripada sekadar prediksi nasib Gibran.
Dia sepertinya bertanya:
Jika Gibran adalah awal dari akhir, lalu siapa yang akan menghadapi bab setelah akhir?
Dan di situlah masalahnya menjadi lebih besar.
Ini bukan lagi soal Gibran.
Ini bukan hanya tentang Jokowi.
Ini bahkan bukan hanya tentang Prabowo.
Melainkan soal apakah pergantian satu titik kekuasaan mampu memicu efek domino politik yang menyeret begitu banyak titik kekuasaan sekaligus.
Jika itu terjadi, jatuhnya Gibran mungkin bukan akhir cerita.
Bisa jadi itu adalah halaman pertama cerita yang selama ini belum berani Anda buka.
Konten di atas dibuat oleh pihak ketiga. Redaksi tidak bertanggung jawab atas isi maupun akibat yang ditimbulkan oleh konten ini. Agregator artikel oleh JetMedia Digital Agency














