Payakumbuh — Kota Payakumbuh dan Kabupaten Lima Puluh Kota menjadi tuan rumah pelaksanaan Anti-Corruption Film Festival (ACFFEST) 2025 yang berlangsung mulai 1 hingga 6 Juli 2025.
Selama sepekan, sejumlah film bertema anti-korupsi akan diputar di beberapa titik di dua wilayah tersebut, dilengkapi dengan sesi diskusi, talkshow, hingga pertunjukan musik yang turut mengangkat tema serupa.
ACFFEST merupakan ajang tahunan yang diinisiasi oleh Direktorat Sosialisasi dan Kampanye Antikorupsi Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) sejak tahun 2014.
Pada tahun ke-11 ini, ACFFEST mengangkat tema “Dari Layar, Kita Beraksi Berantas Korupsi!” dan digelar secara serentak di 25 kota dan kabupaten di seluruh Indonesia.
“Lewat kolaborasi dengan Payakumbuh Youth Arte Committee (PYAC), ACFFEST akan berlangsung di berbagai titik di Payakumbuh dan Kabupaten Lima Puluh Kota. Kegiatan ini membahas isu-isu korupsi, baik pada tataran lokal maupun nasional, dengan pendekatan audio visual sebagai pintu masuknya,” demikian kutipan dari siaran pers resmi PYAC.
Kegiatan ini bertujuan untuk menumbuhkan kesadaran anti-korupsi di kalangan generasi muda, khususnya para sineas muda di Sumatera Barat.
Menurut penyelenggara, selama ini film-film yang diproduksi di Sumatera Barat cenderung mengangkat tema pertentangan antara adat dan modernitas atau menonjolkan sisi eksperimental.
Sementara tema sosial seperti isu korupsi, masih jarang dijadikan objek garapan sinema.
“Kami punya mimpi agar film-film yang lahir di Sumatera Barat bisa lebih beragam dari segi isu. Isu korupsi masih belum banyak digarap oleh sineas lokal. Padahal, ini adalah isu penting yang sangat relevan untuk diangkat,” kata Edo Koro, Manajer Program ACFFEST Sumbar, dalam pernyataan pada Sabtu (29/06/2025).
Edo yang juga merupakan sineas dan anggota PYAC menambahkan, korupsi adalah tema yang sangat mungkin dieksplorasi secara sinematik, baik dari sisi penceritaan maupun pendekatan kreatifnya.
“Melalui ACFFEST ini, kami ingin memperkenalkan tema korupsi sebagai bahan garapan film kepada sineas muda di Sumatera Barat,” ujarnya.
Di ACFFEST Sumbar 2025, berbagai program digelar seperti pemutaran film, diskusi, talkshow sinema, hingga pertunjukan musik. Seluruh rangkaian kegiatan menempatkan isu korupsi sebagai tema utama.
Para pembicara yang hadir dalam talkshow dan diskusi berasal dari berbagai latar belakang, seperti akademisi, sejarawan, hingga praktisi perfilman. Sementara peserta didominasi oleh generasi muda, termasuk pelajar sekolah menengah.
Roni Keron, salah seorang pegiat budaya dari PYAC, menilai ACFFEST merupakan sarana penting untuk mengangkat nilai-nilai kemanusiaan melalui sinema.
“Sepengetahuan saya, isu seperti korupsi belum banyak diangkat dalam film-film produksi Sumbar. Padahal, ini isu penting yang menyangkut hajat hidup orang banyak dan bertentangan langsung dengan nilai-nilai kemanusiaan,” ujar Roni.
Ia berharap ACFFEST bisa menjadi pemicu lahirnya generasi baru sineas yang tidak hanya tertarik pada aspek estetika film, tetapi juga menjadikan persoalan sosial dan kemanusiaan sebagai landasan karya mereka.
“Semoga ini bukan sekadar festival film keliling atau tontonan untuk penikmat film saja. Lebih dari itu, semoga ini menjadi pemantik percakapan luas tentang korupsi dan nilai-nilai antikorupsi di kalangan anak muda,” imbuhnya.
Roni juga menekankan pentingnya fungsi film sebagai medium budaya dan sosial dalam membentuk kesadaran publik.
“Harapannya, dari sini bisa tumbuh gerakan-gerakan produksi film yang membawa wacana anti-korupsi, serta memperkuat budaya antikorupsi di tengah masyarakat,” pungkasnya. (*)
Editor : Rachmail Gucci
Sumber Berita : ACFFEST 2025













