Payakumbuh – Pemerintah Kota (Pemko) Payakumbuh terus mendorong pengembangan sektor industri kecil dan menengah (IKM) untuk memacu pertumbuhan ekonomi lokal.
Berbagai sektor unggulan seperti pangan, tekstil, kerajinan, dan furnitur telah mengalami peningkatan signifikan dalam beberapa tahun terakhir, berkat dukungan pemerintah serta kolaborasi dengan berbagai lembaga terkait.
Berdasarkan data Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) atas dasar harga berlaku, sektor industri pengolahan di Kota Payakumbuh menunjukkan tren pertumbuhan yang konsisten.
Pada tahun 2018, PDRB sektor ini tercatat sebesar 314,83 miliar rupiah. Angka ini meningkat menjadi 327,32 miliar rupiah pada 2019, dan terus naik menjadi 331,87 miliar rupiah pada 2020.
Peningkatan signifikan terlihat pada tahun 2021 dengan capaian 367,28 miliar rupiah, dan pada 2022 mencapai 405,99 miliar rupiah. Pada tahun 2023, sektor ini kembali mencatatkan pertumbuhan dengan nilai 433,64 miliar rupiah.
Pertumbuhan positif ini mencerminkan upaya Pemko Payakumbuh dalam memajukan sektor industri unggulan dan meningkatkan daya saing produk lokal.
Industri pangan, khususnya rendang, menjadi salah satu unggulan di Payakumbuh dengan produk berkualitas yang kini mampu bersaing di pasar nasional dan global.
Rendang dari Payakumbuh rata-rata memiliki daya tahan hingga enam bulan bahkan bisa sampai 14 bulan apabila menggunakan mesin retort seperti yang dimiliki oleh Sentra IKM Rendang Payakumbuh, dengan kemasan menarik, menjadikannya salah satu produk favorit konsumen.
Industri makanan ringan dan tekstil juga mencatatkan perkembangan yang pesat, dengan peningkatan kapasitas produksi dan perluasan jaringan pemasaran.
“Produk Tenun Balai Panjang, salah satu produk tekstil dari Payakumbuh, semakin menarik perhatian pasar fashion nasional dan menunjukkan pertumbuhan yang signifikan,” ujar Kepala Dinas Tenaga Kerja dan Perindustrian Kota Payakumbuh, Yunida Fatwa di Payakumbuh, Jumat (15/11/2024).
Ia menambahkan bahwa industri ini menjadi prioritas pengembangan, dengan harapan dapat menambah lapangan kerja dan meningkatkan pendapatan masyarakat.
Pemko Payakumbuh telah menetapkan industri makanan, tekstil, dan kerajinan bambu sebagai fokus utama dalam rencana pengembangan ekonomi daerah.
Sepanjang 2024, Bidang Perindustrian Kota Payakumbuh telah melaksanakan berbagai program untuk mendukung pengembangan industri kecil dan menengah (IKM) di daerah tersebut, seperti:
Fasilitasi Sertifikasi Halal untuk Produk IKM: Pemko memfasilitasi sertifikasi halal bagi 49 pelaku IKM di Payakumbuh. Langkah ini dilakukan untuk meningkatkan daya saing produk lokal di pasar nasional dan internasional dengan menjamin keamanan dan mutu produk.
Beberapa kegiatan pelatihan yang dilakukan meliputi Pelatihan Pengelolaan Industri pada 20-23 Agustus dengan 25 peserta, Pelatihan Memasak Rendang pada 23-27 September dengan 16 peserta, serta Pelatihan Pengolahan Produk Jamur pada 23-28 September yang melibatkan 35 peserta.
Selanjutnya, dilaksanakan pula Workshop Kerajinan dari Bambu pada 9-12 Juli dengan 10 peserta, Pelatihan Kerajinan Ecoprint pada 29 Juli-2 Agustus dengan 15 peserta, dan Workshop Teknologi Tepat Guna untuk Produksi Mesin/Peralatan Industri pada 25-27 Juni dengan 10 peserta.
Kemudian Pelatihan Alat Tenun Bukan Mesin (ATBM) digelar pada 14-17 Mei dan 20-22 Mei dengan 10 peserta, Workshop Batik pada 31 Juli-3 Agustus dengan 15 peserta, serta Pelatihan Rajut dalam dua angkatan, masing-masing pada 29-30 Agustus & 2-4 September (angkatan I) dan 7-11 Oktober (angkatan II), dengan 10 peserta per angkatan. Dan Pelatihan Bengkel yang berlangsung pada 18-21 November dengan 15 peserta.
“Baru-baru ini kita juga meraih penghargaan dalam bidang pendidikan vokasi pada ajang Industrial Education and Training Expo (IDUTEX) 2024. Penghargaan ini diberikan oleh Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Industri (BPSDMI) Kementerian Perindustrian atas inovasi dan kontribusi kita dalam mengembangkan program pelatihan vokasi yang terintegrasi dengan kebutuhan industri modern,” ujar Yunida.
Selama ini, Payakumbuh telah menjalankan berbagai program unggulan, mulai dari pelatihan keterampilan, program magang industri, hingga penyuluhan terkait perkembangan dunia kerja. Program ini dirancang untuk membekali para peserta pelatihan dengan keterampilan teknis yang dibutuhkan oleh dunia industri.
“Kerjasama kami dengan pelaku industri telah berhasil menempatkan banyak lulusan dalam sektor-sektor strategis. Ini menjadi bukti bahwa pendidikan vokasi di Payakumbuh mampu menjawab tantangan dunia kerja,” ujar Yunida.

Dalam hal promosi, Bidang Perindustrian juga berpartisipasi dalam sejumlah ajang besar, seperti Muslim Fashion Festival (MUFFEST) 2024 di Jakarta, Payakumbuh Creative Festival 2024 di Payakumbuh, Jakarta Muslim Fashion Week (JMFW) 2024 di ICE Tangerang, Indonesia International Modest Fashion Festival (IN2MF) 2024 di Jakarta, serta Spotlight 2024 yang dijadwalkan berlangsung pada Desember mendatang di Jakarta.
Melalui berbagai kegiatan tersebut, Pemerintah Kota Payakumbuh berharap dapat meningkatkan kapasitas pelaku IKM, memperluas pasar produk unggulan lokal, dan memperkuat daya saing di pasar nasional maupun internasional.
Selain itu, sejak 2015, Pemko Payakumbuh mendirikan empat Sentra Industri Kecil dan Menengah (IKM), yaitu Sentra Rendang, Sentra Makanan Ringan, Sentra Tenun, dan Sentra Bambu.
Keempat sentra ini telah menunjukkan peningkatan kualitas produk dan kapasitas produksi yang berdampak positif bagi perekonomian daerah.
Saat ini, Pemerintah Kota Payakumbuh melalui Dinas Tenaga Kerja dan Perindustrian Kota Payakumbuh fokus mengembangkan komoditi industri lainnya seperti batik dan olahan jamur untuk dibentuk menjadi sentra industri.
“Dengan adanya sentra-sentra ini, kualitas produk dapat terus ditingkatkan, kapasitas produksi pun lebih optimal. Harapannya, sentra IKM ini bisa menjadi motor penggerak utama pembangunan ekonomi di Payakumbuh,” ungkap Yunida.
Dalam pengembangan industri, Pemko Payakumbuh menjalin kolaborasi dengan berbagai pihak, termasuk Universitas Andalas untuk penyusunan Rencana Pembangunan Industri, Universitas Negeri Padang dalam hal pengembangan kuliner tradisional minang dan dengan lembaga-lembaga lainnya seperti Disperindag Sumbar, BDI Padang, Dekranasda Payakumbuh, serta Loka POM Payakumbuh.
Pengawasan dan pendampingan terhadap pelaku usaha IKM juga dilakukan bersama antara Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) dan dinas terkait lainnya guna memastikan kepatuhan pelaku usaha terhadap izin yang telah diterbitkan dan peraturan perundang-undangan.
Hal ini dimaksudkan untuk memastikan IKM Kota Payakumbuh tidak hanya memiliki manajemen usaha dan kualitas produk yang baik, namun juga kepatuhan terhadap peraturan perundang-undangan.
“Kami berharap industri unggulan di Payakumbuh tidak hanya bertahan, tetapi juga mampu berinovasi dan terus menjaga standar mutu produk. Dengan kualitas yang terjaga, produk-produk kita akan mampu bersaing di pasar yang lebih luas,” ujarnya.
Yunida menambahkan, penguatan kualitas sumber daya manusia menjadi fokus utama Pemko untuk menunjang kemajuan industri. “SDM yang terampil dan berkualitas akan menjadi motor penggerak yang kuat untuk perkembangan industri. Oleh karena itu, kami akan terus meningkatkan pelatihan dan pendampingan bagi para pelaku industri, khususnya usaha kecil dan menengah,” tuturnya.
Meski beberapa sektor masih menghadapi tantangan, Pemko Payakumbuh optimistis bahwa dengan dukungan berkelanjutan dari pemerintah serta sinergi dengan lembaga terkait, industri di Payakumbuh akan semakin maju dan berdaya saing.
Diharapkan, perkembangan ini mampu menjadikan Kota Payakumbuh sebagai salah satu pusat industri yang kompetitif dan berkontribusi bagi perekonomian Sumatera Barat dan Indonesia. (red)
Editor : Rachmail Gucci
Sumber Berita : Dinas Tenaga Kerja dan Perindustrian Kota Payakumbuh













